
Teko berada di atas genteng rumah bersama momo anjing berwarna cokelat, menatap perkebunan pohon pisang yang berada di bawah. "Kamu bisa memanjat pohon pisang" Ujar teko.
"Aku hanya seekor anjing kamu ingin menyantap pisang itu. Yang benar saja seekor kucing makan pisang" Tertawa geli sambil menggaruk bokongnya.
"Kita tidak makan selama dua hari apa salahnya memakan pisang. Lihat warnanya kuning menandakan buah itu sudah matang" Mengangkat satu kakinya menepuk momo.
"Aku akan menahan tubuhmu dari bawah lalu panjat pohon itu teko. Bagaimana?" Ia mengangguk. Mereka berjalan melompat ke bawah momo berdiri lalu teko berada di atas kepalanya mencakar pohon dengan kukunya.
Teko memanjat sedikit demi sedikit mencengkram kaki-kakinya sampailah di atas pohon pisang. Tubuhnya yang gemuk membuat semua pisang jatuh ke bawah bersamaan dengan tubuh teko.
Brakk..
"Kamu baik-baik saja teko" Momo menggerakkan tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, pisang itu sudah jatuh. Ayo cepat makan" Membuka kulit pisang menggunakan mulutnya dan mengunyahnya.
"Enak sekali pisang ini" Ujar teko sambil duduk di dekat pohon. Momo merasa aneh dengannya. "Aku terpaksa makan pisang seekor anjing yang malang" Mengunyahnya dengan wajah yang sedikit di tekuk.
"Aku tak bisa mendengarmu berkatalah lebih keras" Sahut teko. Momo berjalan mendekat bola matanya tertuju ke telinga teko yang terhalang dedaunan. Menariknya perlahan lalu berteriak di telinganya.
"Aku terpaksa makan pisang ini" teko melemparkan pisangnya. "Jangan berteriak di dekat telingaku" momo kembali duduk.
Seorang nenek berteriak di balik tembok-tembok "Pisang kita jatuh di makan binatang itu" momo dan teko mengalihkan mata kepadanya lalu berlari cukup kencang meninggalkan kebun.
Momo berjalan bersama teko lalu masuk ke dalam rumah mencuri ikan yang berada di meja. Seorang perempuan muda mendekati teko lalu mengelusnya. "Kucing yang lapar, kasihan sekali. Tunggu aku akan memberikan kamu susu segar" menyodorkan semangkuk susu. Momo yang bersembunyi keluar mendekatinya lalu menjilat susu yang di berikan untuk teko.
"Rupanya ada anjing bersamamu. Tak apa aku suka memelihara anjing" Teko yang sudah kenyang menoleh ke wajah perempuan itu dan terkejut. "Devi" Kamu tinggal di rumah ini.
Mengelus kakinya yang sedang jongkok.
Perempuan itu membawa makanan untuk momo dan mengangkat tubuh teko masuk ke dalam kamar. Beberapa fotonya bersama pria muda terpampang di atas meja dan tembok. "Siapa pria ini" Teko melompat ke bawah.
__ADS_1
"Kamu menatap foto suamiku, apa yang ingin kamu tanyakan."
"Suamimu? Jadi kamu sudah menikah" Teko menepak keningnya.
Momo masuk ke dalam kamarnya lalu tidur di atas karpet tebal berbulu, devi keluar dari kamar membawa makanan kecil untuk mereka.
"Aku sudah kenyang makanlah teko. Rasanya tubuhku perlu istirahat" Melentangkan tubuhnya seperti bintang laut.
Teko mengunyah makanan ringan berbentuk bulat isi krim keju dengan cepat. "Makanlah sebanyak-banyaknya aku suka kucing gemuk tetapi tak suka pria yang gemuk" Ia tertawa terbahak-bahak.
"Aku mantan kekasihmu bukankah kamu mengatakan menyukai pria bertubuh bulat. Lihat suamimu tak menarik tubuhnya sangat kurus. Seperti kekurangan gizi" Ledek teko.
Devi membawa selembar foto bersama teko di dalam laci mejanya. Lalu di buang ke dalam sampah. Teko yang saat itu menikmati makanan berlari ke tong sampah menggigit fotonya menaruh di meja. "Apa yang kamu lakukan ini fotoku"
"Ah kucing ini menyukainya, lihat dia seperti badut. Untung saja aku tak jadi menikah dengannya. Jujur saja kucing aku hanya memanfaatkan dia membelikan aku perhiasan mewah" Ujar perempuan bertubuh mungil bermata sipit.
"Kurang ajar aku di permainkan olehnya" Teriak teko lalu keluar dari kamar. Devi menarik ekornya" Jangan pergi aku membutuhkanmu, akhir-akhir ini aku kesepian.
"Perempuan tak tahu berterima kasih. Akan ku cabik-cabik wajahmu dengan cakarku." Mengerutkan kedua alisnya tersenyum sinis.
Teko bersembunyi di dalam dus halaman rumahnya. Devi membuka pintu lalu keluar mencari teko ia mengeong. "Kemari kucing aku tak akan membuatmu marah. Akan ku berikan foto teko padamu robek-robeklah foto itu sesuka hati. Ingin bermain dengan foto ini kan" Mengangkat tangannya.
Devi yang jongkok di dekat pintu mendekat kemudian teko mencakar wajahnya dan mengacak rambut. "Rasakan ini" Lalu pergi.
Ia menangis sejadi-jadinya suaminya yang baru saja datang masuk ke dalam rumah di lempar botol minuman oleh teko membuat kakinya kesakitan. "Siapa yang melemparkan botol padaku. Ha devi ada apa dengan wajahmu" Ujar pria bertubuh kurus.
"Kucing itu mencakarku" Wajahnya memelas sambil memperbaiki rambutnya yang kusut mengembang ke atas.
Teko berjalan melewati beberapa rumah ia berniat kembali ke rumahnya "Lebih baik aku pulang saja mungkin osin dan anak-anakku sudah berada di sana"
***
__ADS_1
Osin yang telah berbahagia semakin dekat dengan iwata takanori yang ia impikan sebagai kekasihnya saat remaja menjadi kenyataan.
"Oh iwata aku tak menyangka kita akan sedekat ini lalu mencintaiku dengan hati yang tulus. Tak seperti teko pria badut yang berbuat ulah menyia-nyiakanku" Sambil menyisir rambutnya yang panjang, lalu mengoleskan krim pelembab pada wajahnya yang mulus."
"Ibu cantik sekali aku suka perubahan penampilanmu, seperti boneka." Ujar pecin memeluk pinggangnya yang sedang duduk.
"Terima kasih pecin apa yang kamu bawa, coba ibu lihat" Menoleh buku yang ia pegang. Lalu memberikannya pada osin. Membuka selembar demi selembar.
"Kalian yang menggambar ini. Lalu siapa pria di sebelahku." Osin bertanya-tanya.
"Itu ayah bersamamu dan kita berdua, apakah ibu tidak merindukannya." Mereka tersenyum lalu pergi berjalan ke atas loteng bermain dengan anjing.
"Maafkan aku anak-anak ayahmu bukan pria yang baik memperlakukanku seenaknya saja, lantas apakah aku harus bertahan." Bergumam dalam hatinya.
Teko masuk ke dalam rumahnya lalu melihat tulisan rumah ini akan di jual. Ia langsung merusaknya hingga terjatuh. "Apa yang kamu lakukan osin ini rumah pertama kita."
Ia berjalan lalu duduk di atas lantai depan pintu masuk. Termenung menoleh ke arah jalanan dan tetangga sebelah. "Kamu menjual rumah ini, lalu kalian tinggal di mana apakah bersama paman vincaw. Ah aku tak tahu rumah barunya" Menarik napas.
"Aku ingat saat menggendong kalian di sini. Hahaha ibumu marah kepadaku memberikan susu hamil untuk bayi. Aku suka melihatnya marah tetapi osin bukan perempuan pertama yang aku cintai. Ini semua salahku menikah denganmu"
"He kucing orange kenapa kamu berbicara sendiri" Ujar kucing berwarna putih yang terbaring santai di sudut kursi bekas.
"Siapa kamu aku tak melihat kucing berada di sini. Datang secara tiba-tiba" Sahut teko menoleh padanya.
"Aku lebih dulu berada di sini bahkan terakhir melihat pemilik rumah pindah bersama dengan pria tua"
"Ah kamu melihatnya pergi bersama paman vincaw. Jelaskan padaku kemana mereka pindah apakah mendengar percakapan mereka" Teko berjalan mendekat.
"Aku tak tahu hanya memperhatikan plat mobil berwarna hitam dan truk." Kembali tidur menutup matanya.
Bersambung...
__ADS_1