Om Kucing

Om Kucing
Bab 8 Ketua Geng


__ADS_3

Teko bermain bola dengan angel di depan halaman rumahnya selama dua jam karena ia akan pergi ke kampus, seorang pria tampan bermata sipit, kulitnya putih bak bintang korea menjemputnya tepat berada di depan pagar.


"Angel. Ayo cepat, sudah telat nih." Sambil memainkan kunci motornya."


"Kenalkan ini kucing baruku, namanya kiko. Kenalkan dia teman kampusku." Teko cemberut dan tak mau melihat wajahnya.


"Kucingmu banyak makan ya, terlihat sehat. Aku suka warnanya kuning." Ujar pria bermata sipit.


Lalu hana menggunakan helm, kemudian pergi bersama temannya. Teko diam di dekat pot bunga, sambil memperhatikan langit yang terlihat cerah, juga beberapa burung kecil yang diam di atas pohon.


"Aku bosan, rasanya ingin mati saja. Melihat angel bersama pria itu." Lalu menaruh dagunya di atas pot, sambil mencabut rumput-rumput liar di sekitar bunga.


"Meoong grrr" Kucing garong mendekat, bulu-bulunya tegak berdiri semua kukunya keluar dan menggeram.


"Eh eh. Tenang tenang aku bukan lawanmu, sana pergi." Teko berjalan mundur. "Meoong mew mew" Menggunakan bahasa kucing.


"Kucing gemuk, kamu baru di sini?" Teriak kucing garong berwarna hitam.


"Mengerti bahasaku? Bahasa manusia." Sahut teko menggaruk-garuk kepalanya.


"Apa yang kamu katakan, aku tak mengerti. Ingat kucing gemuk, ada aturan di wilayah ini aku ketua geng." Kucing berwarna hitam kurus dan tinggi memperingatinya.


"Oh begitu ya, memangnya ini rumah nenek moyangmu. Peraturan macam apa yang kamu katakan, aku akan melaporkanmu pada polisi." Teko merasa berani dan maju ke depan.


"Berani sekali, teman-teman keluar" Teriak kucing garong, satu persatu kucing-kucing jalanan mengelilinginya.


Teko mulai ketakutan, "Ibu tolong aku" Teriak teko. Membuat semua kucing tertawa, beberapa kucing menarik ekornya seperti baling-baling lalu melemparkannya ke depan pintu rumah.


Brak...


"Suara apa itu, terdengar suara kucing berkelahi." Ibu angel membuka pintu lalu menggendong teko yang saat itu sakit kepala.


"Kamu tak apa kiko, kucing-kucing jalanan mengganggumu ya." Ia membawa sapu lidi lalu mengusir mereka.


"Kiko ayo makan dulu lalu tidur ya" Mengelus pundaknya.


Pergi meninggalkannya lalu membawa tas keluar rumah, "Aku pergi ke pasar dulu ya kiko, jaga dirimu."


Teko duduk di kursi meja makan, tubuhnya remuk di hantam oleh kucing-kucing jalanan. Lalu meraba kedua pipinya.


"Hari yang buruk kapan hidupmu bahagia, teko" menarik kedua pipinya seakan bosan. "Aku tidur saja" Menguap.


"Sst cemong awas jangan mendekati jendela itu, aku sudah merasakan terjepit. Sudah rusak." Ketua geng kucing bernama cunguk berhati-hati melompat dari tembok pembatas hingga ke jendela.

__ADS_1


"Tenang komandan aku sedang mengintip kucing tahu bulat itu, dia menikmati tidur siangnya. Tapi, makanannya masih banyak. Rupanya dia sedang diet." Cemong melompat ke dalam rumah lalu lanjut ketuanya. Saling bertubrukan.


"Geser makanan itu ke sini, cemong."


"Baik-baik, komandan." Cemong merayap lalu menggeser makanan kucing itu ke arah cunguk, perlahan.


"Terima kasih, kamu makan saja yang di atas meja itu."


"Yang benar saja komandan, itu hanya jengkol dan tempe saja." Keluh cemong sambil mengkerutkan kedua matanya.


"Diam..!!!" Sahut cunguk.


Akhirnya terpaksa cemong menyantap makanan itu tak sengaja buang angin hingga membuat teko terkejut, "Suara apa itu" Teriak teko.


"Maaf tuan aku buang angin, bagaimana wangikan"


"Bau jengkol...!!!" Sahut teko.


"Dia musuh kita bukan tuanmu bodoh" Teriak cunguk melotot padanya.


"Oo ya ya aku lupa komandan, baiknya kita apakan kucing gemuk ini." Mereka berdua menghampirinya tersenyum jahat hingga terlihat gigi dan taring-taringnya.


"Akan aku buat tahu bulat saja, di goreng dadakan." Cemong mengeluarkan kuku-kukunya yang tajam.


Krek.. Suara pintu terbuka, angel yang terkejut melihat kucing liar masuk ke dalam rumahnya langsung mengusirnya.


"Pergi jangan mengganggu kucingku" Teriak angel.


Mereka lari terbirit-birit hingga terpeleset lalu lari sekencang-kencangnya, "Meooong"


"Kamu tak apa teko, syukurlah. Aku mengkhawatirkanmu." Mengecup nya hingga lipstiknya membekas di hidungnya.


"Aku suka di kecup" Teko berjalan mengikuti angel masuk ke dalan kamar, tiba-tiba ia pingsan.


"Angel kamu baik-baik saja?" Sambil mengelus wajahnya menggunakan kaki, suara ponsel terdengar dari dalam tas. Ia berusaha membuka tas kemudian menekan tombol angkat.


"Hallo. Angel apakah kamu sudah berada di rumah?" Ujar ibunya.


"Meoong meoong."


"Hallo.."


Telepon terputus...

__ADS_1


"Aku harus bagaimana maafkan aku angel tak bisa membantumu, seandainya wujudku manusia."


"Angel" Teriak ibunya yang baru saja pulang lalu telepon ambulan setelah beberapa menit, angel di bawa pergi oleh petugas rumah sakit. Teko di tinggal sendiri di rumah itu.


"Berharap kamu baik-baik saja, cepat kembali." Teriak teko.


***


Dua bulan berlalu..


Wajah angel pucat dan terbaring sakit di atas ranjang, teko menemaninya dan menghibur. Lihatlah aku kiko, tak ada yang menemani bahkan ibuku bosan merawatku. Ia tersenyum dan meneteskan air mata.


"Aku menemanimu angel, tak akan pernah meninggalkanmu."


"Kamu lihat fotoku ini" Memperlihatkan album fotonya bersama keluarga juga pernikahannya. "Mereka mengabaikanku"


"Meoong." Wajah teko berubah sedih.


"Aku ingin kamu mengerti perkataanku, kuharap begitu. Jangan meninggalkanku kiko, hanya kamu yang aku punya. Suamiku yang dulu pergi bersama kekasih barunya pilihan kedua orang tuanya aku hanya mampir ke dalam hidupnya, mungkin aku hanya sekedar bintik hitam yang tak berarti."


Raut wajah teko terlihat kecewa, "Pria yang menyebalkan menyakiti perempuan secantik dirimu." Ujar teko. Hanya terdengar suara kucing mengeong angel tak mengerti apa yang ia katakan.


"Aku ingin tidur kiko, selamat malam." Angel tertidur di atas ranjang yang sudah terlihat kusam, selama seminggu ia tak menggantinya. Tak ada yang peduli padanya kecuali dirinya sendiri, teko hanya seekor kucing.


Suara pintu terbuka dengan sendirinya teko yang terlihat takut, masuk ke dalam selimut. Lalu terdengar suara tikus mengendap-endap di balik lemari. "Aku benci tikus, keluarlah kalian."


"Kucing gemuk. Tangkap aku." Suara kecil tikus sambil menggigit lemari, suaranya semakin mengganggu.


Dengan gagah teko keluar dari selimut lalu melompat dan menendang tikus nakal itu, beberapa kali ia menghajarnya.


"Ampun" Teriak tikus kecil.


"Tidak sopan memanggilku gemuk, kamu tahu itu pelanggaran. Pergi dari rumah ini, jangan mengganggu manusia yang sedang tidur di sana. Dia ingin istirahat."


"Maaf maaf tuan kucing aku tahu dia sakit, tapi izinkan aku membawa sepotong keju di atas meja."


"Ambil saja, lalu pergi. Sisakan setengah bagian untukku."


Tikus itu berlari dan melompat ke atas meja, lalu melompat lagi ke jendela dan merayap ke atap rumah. "Terima kasih kucing" teriak tikus.


"Byee" Sahut teko sambil melambaikan tangan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2