Om Kucing

Om Kucing
Bab 26 Bau Pesing


__ADS_3

"Maksudmu aku harus menunggu suamimu kembali" ujar Iwata sambil menatap osin.


"Aku tak mengerti" sahut osin bertanya-tanya sambil mengelus tangannya.


"Di dalam album fotomu merindukannya. Jadi selama ini kamu menyayangi dia." Karena Royco dan teko datang berlari mendekati Iwata ia menunda jawaban.


Mereka bersiap-siap pergi Iwata menggendong Royco sementara pecin berlari ke mobil lalu duduk.


Sepanjang jalan raut wajahnya dingin, Iwata yang sebelumnya selalu tersenyum hanya diam. Osin menatap wajahnya selama beberapa menit ia tak menghiraukan tatapannya yang manis.


"Maafkan aku iwata, apa perlu menghapus fotonya."


"Tak perlu. Maaf aku sedang fokus mengemudi"


"Baiklah"


4 jam berlalu mereka makan malam bersama dengan sebagian barang-barangnya yang belum tertata rapi. Royco dan pecin tertidur lelap di dalam tenda dalam rumahnya.


Iwata masih saja berwajah kaku membuat osin jenuh, "lalu ia duduk di pojok sambil memainkan ponsel" tak butuh waktu lama iwata mendekatinya lalu mengecup kening.


"Aku sudah tak marah tapi berikan padaku ponselmu" osin yang menoleh padanya langsung memberikan ponsel miliknya. Sambil membuang wajah.


"Dengarkan. Aku tak mau fotonya berada di ponselmu" Iwata menghapus semua foto bersama teko. Lalu di berikan kembali pada osin.


"Ya tak apa" ia terdiam sejenak kemudian memeluk iwata. "Untuk pertama kalinya aku merasa berharga di mata seorang pria. Sikap cemburumu membuatku semakin sayang" Iwata menarik dagunya lalu mengecup osin.


Beberapa menit kemudian. "Aku ingin menikah denganmu secepatnya jangan biarkan aku menunggumu selama setahun" ujar iwata sambil mengelus rambutnya dari samping.


"Baiklah beri aku waktu selama beberapa bulan saja" ia mengangguk lalu pamit pulang ke apartemennya.


"Tunggu" osin berlari ke dapur lalu memberikan Iwata sebungkus nasi goreng yang ia masak sendiri. Yang sudah di kemas ke dalam wadah.


"Apa ini" Iwata mengangkat tangannya saat hendak membuka kantung plastik yang di jinjing osin.


"Nasi goreng seafood aku sudah memasaknya saat kamu bermain dengan kedua anakku"


Sedikit menekukkan wajahnya yang menahan malu

__ADS_1


"Wah terima kasih. Aku akan menghabiskan makanan ini" mengecup keningnya lalu keluar rumah, mengeluarkan kunci menekan tombol terdengar suara mobil berbunyi.


Ia masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangan mengedipkan sebelah matanya. "Hati-hati di jalan" teriak osin.


Malam itu osin duduk di sofa lalu membuka ponselnya membalas chat pamannya. "Maafkan aku teko. Seandainya kamu memperdulikanku dan anak-anak takkan terjadi hal seperti ini" Keluh osin sambil menyimpan kembali ponselnya.


Tiba-tiba datang seseorang mengetuk pintu rumah, lalu ia membukanya. "Maaf mengganggu aku tetangga sebelah kanan" Senyum seorang pria lebih tua darinya memberikan bingkisan makanan.


"Terima kasih" osin membungkukkan sedikit tubuhnya lalu tersenyum.


"Sama-sama. Salam kenal dan semoga saja betah berada di tempat tinggal barumu" kemudian pamit pulang.


Osin menutup pintu lalu membuka bingkisan makanan hangat rendang sapi yang menggugah selera, ia langsung mencicipinya.


"Ku rasa ibu ini seorang koki yang hebat, rasanya enak sekali."


***


Pagi hari...


Teko berada di perumahan choco bersama dora mereka di adopsi oleh seorang perempuan cantik bernama dona. Perempuan muda yang baru saja berumah tangga. Pernikahannya yang baru seumur jagung.


"Permisi" teriak beberapa perempuan menggedor pintu. Ia langsung berlari membuka lalu mempersilahkan masuk ke dalam rumah.


"Ayo kita makan bersama. Aku membawa tumis jengkol, asin dan oseng tempe." Teriak seorang perempuan berambut pendek.


"Yah aku tak suka makan jengkol, bau." Sahut Dona perempuan berkacamata. Sambil memanggil teko.


"Kucing siapa lucunya" beberapa ibu-ibu mengelus teko lalu mengecupnya hingga warna lipstiknya menempel di hidungnya.


"Aduh aku suka sekali dengan ibu-ibu ini mereka cantik. Kecuplah sepuasmu" ujar teko mendekati salah satu perempuan yang menggunakan rok mini.


"Aku menemukan kucing ini di dekat pos satpam, kasihan sekali mereka memelas minta makan. Lalu aku tanya kucing ini milik siapa satpam itu menyerahkannya padaku. "Kucing liar tetapi bersih" ujar dona sambil berjalan ke dapur membawa beberapa makanan.


"Begitu ya. Ku rasa kucing ini mempunyai majikan lihatlah tubuhnya gemuk menggemaskan" mencubit teko.


"Ayo kita makan" perempuan yang bertubuh ramping mengunyah jengkol lalu buang angin. Teko dan dora yang terkejut langsung loncat.

__ADS_1


"Lihatlah dora perempuan secantik inu membuang angin sembarangan sambil mengunyah makanan bau" menutup hidungnya.


"Aku sudah terbiasa melihat manusia seperti itu. Bahkan mengupil lalu mengunyahnya dengan penuh kenikmatan" merek berdua tertawa lalu teko menjulurkan lidahnya seperti ingin mual.


"Dona. Kamu tahu tetangga kita yang bernama osin dia baru saja menjual rumahnya" ujar perempuan berambut panjang sambil menyantap tempe orek.


"Bagaimana kelanjutannya cerita mereka, aku kan baru tinggal di sini. Sepertinya kisah cinta mereka rumit"


"Iya begitulah perempuan secantik osin di sia-siakan oleh pria bertubuh gemuk dan hidungnya besar" ledek perempuan berambut pendek tertawa terbahak-bahak.


"Kurang ajar mereka mentertawakanku" teko bergumam dalam hatinya sementara dora menikmati makanan di dapur.


"Kalian semua cantik tetapi menyebalkan. Tak mengenal rasa hormat pada siapapun. Brengsek" teko mendekati salah satu perempuan itu lalu kencing di belakang tubuhnya.


"Hahaha aku tak suka pria gemuk, anakku di goda oleh teko saat lewat rumah. Dasar pria tak tahu diri padahal osin berada di dekatnya saat itu"


Selama dua jam mereka membicarakan teko membuat kedua telinganya panas. Teko yang merasa sakit hati masuk ke dalam tas besar milik salah satu perempuan itu lalu membuang kotoran.


"Aha aku sangat pandai membalas kejahatan" teko tertawa sambil melompat ke atas kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Ia merusak semua kosmetik milik Dona kemudian kencing di atas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan teko. Dona akan memarahi kita" teriak dora yang sedang berjalan mendekatinya.


"Pergilah dari rumah ini ikutlah denganku" sahut teko yang berada di tengah jendela yang siap melompat keluar.


"Aku tak mau pergi" teko melemparkan biji salak padanya yang terselip di jendela. "Bodoh kalau begitu kamu akan di marahi olehnya" teko melompat lalu berjalan melewati beberapa motor yang terparkir di halaman rumah.


"Tunggu aku" dora mengikutinya meninggalkan tempat itu.


"Sepertinya pakaianmu bau Pesing" Dona mengendus salah satu temannya. "Ku rasa kucing itu yang melakukannya, lihat lantaimu." Menunjuk ke lantai terdapat sedikit air berwarna kuning.


"Aku pinjamkan pakaian untukmu tunggulah." Dona berjalan ke dalam kamar lalu salah satu temannya mengepel lantai bekas air kencing.


"Tidakkk...!!!" teriak dona membuat semua temannya berlari ke kamar. "Ha kamarmu sangat berantakan dan bau"


"Akan aku buang kedua kucing itu" Dona sangat marah berjalan cepat mencarinya ke semua ruangan"


Setelah beberapa menit salah satu temannya pulang turun dari motor membawa tas. Kemudian masuk ke dalam minimarket membeli makanan ringan. Ketika hendak membayar mengeluarkan tangannya yang penuh dengan kotoran. Kedua bola matanya melotot berteriak membuat seorang kasir menjauh menutup hidung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2