Om Kucing

Om Kucing
Bab 11 Rumah Nomor 190


__ADS_3

"Huaa" Menguap terbangun dari tidurnya, melentangkan kedua tangannya.


"Suamiku, lihat ada kucing tertidur di atas mobil kita." Teriak nenek berusia 65 tahun lalu menarik tubuhnya yang gemuk. "Cup cup berat sekali kucing manis ini" Lalu masuk ke dalam rumah.


"Ah kucing yang lucu sekali, aku suka warnanya kuning." Sahut kakek bertubuh tinggi dan besar.


"Ini bukan warna kuning, tetapi orange." Tegas nenek.


"Sama saja, aku ingin menggendongnya." Ia di ayun-ayun ke kanan ke kiri membuat matanya pusing.


"Hentikan kakek tua, aku mual" Teko mengkerutkan matanya. Lalu mengelus janggutnya yang putih.


"Dia menyukai janggutmu, hahaha." Tertawa santai.


Nenek membawa teko ke dalam ruangannya yang penuh dengan kucing, mereka di kurung ke dalam kandang. 3 ekor kucing berbeda jenis. Menyambutnya. "Selamat datang kucing orange"


"Jangan berkelahi ya anak-anak berbuluku, nenek sibuk hari ini." Menutup pintu.


"Dari mana asalmu orange" Ujar kucing berbulu panjang berwarna putih di sebelahnya.


"Namaku bukan orange, namaku teko. Sekali lagi teko" Menatap sinis lalu duduk tak berdaya seakan ia kucing yang menyedihkan.


"Nama yang bagus, namaku gadis" Sambil mengedipkan matanya berkali-kali kepada teko.


"Jangan dengarkan kucing putih itu, dia sudah menjadi janda bukan seorang gadis lagi." Ledek kucing berwarna abu-abu sambil menjilat tubuhnya. Berada di depan kandang teko.


"Diam kalian menghinaku tentu saja membuatku marah, cunguk bukan pria pekerja keras ia hanya pencuri yang malang." Sambil menekukkan wajahnya.


"Cunguk...??? Kucing liar yang jelek itu" Teriak teko.


"Ya kucing yang jelek dan kurus, hahaha" Kucing berwarna hitam, putih, berbulu pendek tertawa terbahak-bahak hingga terbaring menggaruk-garuk perutnya.


"Kurasa ia tampan saat pertama kali aku mengenalnya, setelah bercerai denganku berubah tak terawat." Sahut kucing putih sambil menggesek-gesek kepalanya ke besi di kandang.


"Seleramu buruk nona" Suara perut berbunyi. "Aku lapar" Terlihat makanan kucing di dalam mangkuk kandangnya sebelah air putih.


"Hanya menatap makanan, makanlah teko. Rasanya sangat enak. Aroma ikan tuna." Kucing putih bernama gadis memperhatikannya.


"Ikan busuk" Keluh teko lalu menoleh pada gadis. "Jangan melihatku seperti itu, tidurlah"

__ADS_1


"Aku sudah tidur siang, ada apa dengan makanan itu? tidak berselera?"


"Bukan urusanmu" Teko membalikkan tubuhnya lalu melengkung dan tidur.


***


Osin memasang plang di depan rumah menjualnya seharga 1 miliar lalu masuk ke dalam membereskan barang-barang yang tak terpakai, beberapa pakaian teko di masukkan ke dalam koper.


"Kamu berada di mana teko, menghilang begitu saja. Bicaralah baik-baik menemukan perempuan yang lebih baik dariku. Lalu menikahlah" Sambil melipat pakaiannya.


Menarik selembar tisu lalu mengelap air matanya, terlihat tetangga masuk ke dalam rumah dari pintu yang terbuka. "Maaf boleh masuk bu osin" Ujar bu cici.


"Silahkan masuk, ada apa bu?"


"Rumahnya di jual berapa bu osin, Kenapa pindah toh, perumahan ini pusat kota terbaik."


"Ya aku merasa hampa tanpa suami, lebih baik tinggal bersama pamanku saja. Menjualnya seharga 1 miliar. Rumah sebesar ini cukup murah bukan." Sambil tersenyum manis.


"Oo ya ya bu, nanti akan aku bantu promosi. Ngomong-ngomong pak teko kemana, aku tak pernah melihatnya. Terakhir melihatnya berjemur di depan rumah."


"Eee. Dia ke luar kota, ya. Mm.. Sibuk urusan bisnis." Wajahnya mulai gugup lalu bu cici pamit dan pergi meninggalkan rumahnya.


"Sebetulnya ibu cici ini ingin membantuku atau sekedar ingin tahu" Ketus osin sambil membereskan barang.


"Ya hallo.. Paman"


"Cepat pulang tinggalkan pekerjaanmu, tubuh pecin demam sebaiknya bawa ia ke dokter."


"Baik paman, aku segera pulang" Membawa tas nya di atas ranjang. "Bulu apa ini? Seperti bulu kucing, apakah ada yang masuk ke dalam kamarku lewat jendela? Ah ya, jendela itu terbuka." Menutupnya lalu mengunci kamar.


Sesampainya di rumah paman ia berlari ke kamar, "Pecin kamu baik-baik saja" Mengelus keningnya. "Tubuh dan keningmu tak hangat." Bertanya-tanya. Pecin sedikit tersenyum lalu royco berteriak "Selamat ulang tahun ibu" Memeluknya.


"Terima kasih sayang, kalian berbohong" Sahut osin tertawa.


Pecin yang tertidur langsung memeluknya, "Paman mengatakan ini rahasia aku harus berpura-pura."


"Selamat ulang tahun osin, semoga panjang umur sehat selalu. Aku membeli kue ini tadi siang bersama anak-anak, lihatlah kue yang cantik bukan." Menyodorkan kue terdapat 4 Lilin menyala. "Tiup lilinya tiup lilinnya" Osin meniup lilin lalu berdiri merangkulnya.


"Terima kasih paman" Ia mengajak hana berjalan ke garasi. "Bukalah kado pemberianku. Sudut matanya mengarah ke depan.

__ADS_1


Osin berjalan lalu membukanya tertutup sarung mobil, "Wah paman motor yang bagus, aku sudah lama menyukai motor terbaru ini." Sambil membuka pita besar berwarna merah muda.


"Aku tahu sejak kita jalan-jalan di mall, tatapan matamu pada motor ini mudah di tebak." Sahut paman vincaw sambil berdiri di sebelahnya.


"Besok aku akan mengajak royco dan pecin mengelilingi perumahan ini, sekali lagi terima kasih. Motor listrik ini cukup mahal, walaupun aku mempunyai uang untuk membelinya. Terasa berat mengeluarkan uang tabungan."


"Ah sudahlah sekarang sudah berada di depan matamu, jangan terlalu sering menggunakan mobil. Sesekali gunakan motor pemberianku." Mengusap rambutnya.


"Ayo lihat anak-anak mereka terdengar tertawa sejak tadi" Paman vincaw berjalan ke arah kamar.


"Osin" Teriak paman vincaw.


"Royco, osin !!!!" Matanya melotot, mereka mencicipi kue lalu melemparkannya ke arah lemari kaca dan karpet. Berantakan.


"Bersihkan kamarmu osin" Ujar paman vincaw menggendong kedua cucunya lalu berjalan ke lantai atas.


***


Pagi yang cerah...


Untuk pertama kalinya osin menggunakan sepeda motor mengelilingi perumahan, bersama kedua anaknya. Mereka terlihat bahagia, "Motor yang bagus ibu" Teriak royco di jok belakang sambil memeluk erat osin.


"Ya motor yang bagus kalian menyukainya?"


"Sangat suka" Sahut royco dan pecin.


Seorang kakek membawa kandang kucing satu persatu menaruhnya di depan halaman rumah, di bawah terik matahari pagi.


"Biasakan dirimu teko, ini kebiasaan kita setiap pagi. Berjemur, aku tak suka di dalam sana membosankan" Teriak kucing abu-abu.


"Keluar lalu pergilah kalau kamu merasa bosan, kandang ini membuatku lebih muak. Tak berlari, jalan-jalan dan melompat." Sahut teko sambil melihat jalan.


"Ibu lihat itu kucing-kucing yang lucu, kita berhenti di sana." Teriak pecin sambil menoleh ke rumah di sebarang jalan.


"Osin, royco, pecin" Teko berdiri sambil memegang kandang besi itu dengan kedua kakinya. "Aku di sini, isteriku. Anakku" Teriak teko kencang, semua kucing melihat ke arah teko.


"Apa yang kamu lakukan teko, Isterimu? Yang mana isteri dan anakmu?" Teriak kucing hitam putih, kucing perempuan bernama gadis terkejut sambil menaruh kedua kakinya di pipi.


Lalu mereka melihat lagi ke seberang jalan seekor monyet kecil bersama anaknya berjalan bersama, "Dia menikahi monyet itu" Kucing berwarna abu-abu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Osin melaju kencang sekejap hilang, teko kembali duduk dan menampar wajahnya sendiri. "Sudahlah teko jangan bersedih, monyet itu tak serasi denganmu. Aku sangat indah bukan, kita sama-sama kucing. Sadarlah" Merayunya.


Bersambung....


__ADS_2