Om Kucing

Om Kucing
Bab 14 Bius Cinta


__ADS_3

Membukakan pintu untuknya lalu menatap penuh cinta, menampar wajahnya sendiri. "Itu hanya mimpi osin" Ternyata nyata di depan mata. Waktu berlalu ia semakin merindukan sosok pria tampan nan imut yang bernama iwata takanori.


"Osin mobil sudah berada di depan rumah siapa pria yang mengantar mobilmu" Teriak paman vincaw di lantai atas.


Membuka pintu lalu berlari ia melupakan ikat rambutnya, untuk pertama kalinya dengan rambut terurai.


"Iwata kenapa kamu yang mengantarkan mobilku bukankah aku menyewa pegawai bengkel" Ia melihat sekilas ke arah mobil, mobil hitam menyala dengan kap mengkilat.


Paman vincaw dan kedua anaknya berdiri di loteng memperhatikan mereka, "Siapa pria itu" Ujar royco mengintip di balik sela pagar pembatas. "Dia ayah baruku, aku akan minta cokelat padanya." Sahut pecin membuat paman vincaw tertawa mendengar ucapan mereka.


"Aku pamit pulang seseorang akan menjemputku kira-kira sekitar 10 menit lagi"


"Jangan pulang masuklah ke rumah sebentar saja, untuk minum bersama. Mari masuk." Berjalan mundur ke belakang, iwata berada di depan pagar masuk ke dalam lalu menoleh ke atas merasa di perhatikan oleh kedua anak kecil.


"Duduklah sebentar aku bawakan minuman dan makanan enak untukmu" Osin berjalan dengan tubuh kakunya, sambil memperbaiki rambut yang menutupi pipi. Iwata membawa album foto di bawah sekat meja.


"Dia mempunyai adik? Lucu sekali mereka, lalu pria ini siapa." Ia menunjuk foto pria bertubuh gemuk dengan perut yang bulat, teko tersenyum lebar sambil merangkul osin.


"Apa yang kamu lihat" Teriak osin sambil membawakan minuman dan camilan. "Maaf suaraku terlalu keras" Menunduk malu menyodorkan secangkir kopi mocca.


"Aku lupa meminta izin membuka albummu, maaf." Membungkukkan setengah tubuhnya.


"Tak apa" Sambil sedikit menoleh terlihat foto teko berada di sebelah tangannya. "Itu mantan suamiku atau suamiku yang hilang" Tersenyum tipis.


"Suamimu? Oh ya kalian keluarga yang bahagia, terlihat dalam foto ini. Hilang kemana, polisi sudah mencarinya?"


"Suamiku di culik pelakor" Matanya menjadi sayu.


"Apa itu pelakor???" Iwata bertanya-tanya.


"Pelaku horror" Sambil membasuh air matanya, lalu menarik selembar tisu membuang lendir di dalam hidung.


"Maaf membuatmu sedih, aku tak tahu indonesia mempunyai setan yang lebih seram dari jepang, menculik suami." Menggelengkan kepala.

__ADS_1


Suara klakson mobil terdengar di depan rumah.


"Osin terima kasih secangkir kopi yang manis ini, aku pamit pergi. Semoga harimu menyenangkan."


"Silahkan sama-sama, maaf aku terbawa emosi." Sahut osin sambil berjalan mengantarnya ke depan rumah.


"Jangan menangis kuharap suamimu cepat di temukan, byee" Masuk ke dalam mobil lalu membuka kaca perlahan melambaikan tangan. Osin membalasnya dengan senyuman maut membuatnya meleleh.


Di perjalanan iwata bertanya pada supirnya "Kamu tahu apa itu pelakor?" Sambil menoleh ke kanan, "Pelakor itu perebut suami orang atau bisa saja seorang suami yang tak baik mencari perempuan lain." Sahut supir berkepala botak.


"Oh begitu kasihan sekali osin, mendapatkan suami yang tak baik padahal ia cantik dan anggun." Sedikit mengecilkan volume suaranya lalu ia mengeluarkan satu makanan ringan dari sakunya.


Supir berkepala botak menoleh ke samping, iwata membuka bungkus makanan berbentuk lonjong. ia mengunyahnya sambil menutup mata. "Permen ini enak sekali" Membuat supir tertawa, "Itu dodol tuan, bukan permen."


"Dodol ya aku akan membelinya untuk oleh-oleh" tersenyum manis.


Osin yang saat itu berbunga-bunga menatap foto selfienya bersama iwata. Tersenyum lebar lalu tertawa, salah satu fotonya yang sedikit konyol dengan pose menjulurkan lidah.


"Kamu terlihat bahagia, siapa pria itu." Ujar paman vincaw duduk di sebelahnya.


"Ya dia tampan dan imut potongan rambutnya terlihat lebih muda dari usianya, matanya sipit sepertiku. Kulitnya putih seperti susu murni."


***


Kucing bertubuh gemuk merangkak perlahan dari bawah ranjang, hendrik tertidur cukup pulas setelah ia menggunting kumis teko. Di depan pintu ia merangkak terdengar suara pintu berdecit terbuka, hendrik membalikkan tubuhnya ke samping.


Dengan kekuatan supernya teko berlari cukup kencang kemudian melompat dari jendela, kemudian jendela itupun tertutup. Tubuhnya merosot ke bawah kursi lalu jatuh ke lantai.


"Hendrik jangan membuka jendela, tutup semua pintu." Teriak ibunya lalu masuk ke dalam rumah. Terdengar suara seorang petugas pengasapan menyemprot sudut halaman rumah.


"Ada apa denganmu teko, kemana kumismu. Ah pasti hendrik yang melakukannya."


"Meoong Meoong" Wajahnya sedikit di tekuk.

__ADS_1


Ia membawa teko masuk ke dalam kamar, lalu menaruhnya di meja rias. "Aku ada janji dengan seorang pria sore ini, tahukah kamu dia kaya. Tapi gemuk sepertimu." Sambil menepuk bedak ke wajahnya.


"Perempuan matre aku bisa mendapatkan perempuan lebih cantik darimu"


"Satu lagi dia sudah mapan mempunyai rumah, mobil. Kulihat isi tabungannya berjumlah ratusan juta. Aku tak akan melarat menikah dengannya."


"Kamu ingin enaknya saja, isteriku memulai hidup bersama dari angka nol, tidak sepertimu. Aku malas dengan perempuan ini." Lalu melompat ke bawah mencakar tas miliknya.


"Jangan mencakar tasku, dia memberinya seharga 20 juta, ini satu-satunya tas termahal yang aku milikki." Memukulnya dengan tas, lalu mengeluarkan teko dari rumah yang penuh dengan asap.


Teko yang panik melihat asap menutupi sebagian jalanan berlari cepat menyebrang jalan dan melompat ke atas atap rumah, "Aku aman di sini uhuk uhuk." Batuk berkali-kali.


Melanjutkan perjalanan selangkah demi selangkah lalu ia masuk ke dalan lubang, genteng yang bergeser. Tubuhnya berada di dalam kamar kosong. Karena terjatuh cukup tinggi, membuat tubuhnya sakit. Ia duduk di atas ranjang yang kotor.


Satu ekor kucing yang berada di sebelah lemari yang sudah rusak, keluar berjalan perlahan. "Apa yang kamu lakukan di tempatku" Ujar kucing berbulu hitam.


"Aku terjatuh dari atas atap ketika berjalan, apakah ini rumah kosong. Barang-barang di kamar ini tak terawat rusak dan kotor." Sahut teko sambil duduk bersandar di antara bantal dan guling.


"Majikanku sudah tiada di bawa oleh tuhan, kemudian rumah ini menjadi kosong. Aku kucing sebatang kara, yang terlantar." Melompat duduk di jendela.


"Malang sekali nasibmu menyedihkan, lalu dari mana kamu mendapatkan makanan."


"Aku berkunjung ke rumah sebelah meminta makan dari tetangga, terkadang dia memberikan aku tempe, asin, seblak."


"Yang benar saja ia memberimu seblak, makanan pedas. Aku tak suka."


"Tak ada makanan lagi terpaksa menyantap seblak, akhirnya aku sakit perut selama seminggu. Lihat tubuhku kurus tinggal tulang. Hari ini aku belum makan, tubuhku masih demam panas dingin perutku berteriak lapar."


"Akupun belum makan membayangkan paha ayam yang di panggang hingga mengering, bumbunya meresep hingga ke dalam." Mengusap perutnya.


"Tubuhmu gemuk pasti seseorang memberikan makanan yang enak, menandakan hidupmu bahagia."


"Salah..!!! Aku gemuk karena tak bahagia sehingga lupa makan dengan porsi yang banyak, stress membuatku semakin gemuk."

__ADS_1


"Terdengar aneh"


Bersambung....


__ADS_2