
Pagi yang cerah pria bertato dan teko tertidur di atas sofa besar di ruang televisi, teko berjalan di atas wajah dan tubuhnya yang masih tertidur pulas kemudian menguap.
Berjalan mengelilingi ruangan mencari jalan keluar, lalu berlari cukup kencang ke lantai 2. Akhirnya ia menemukan jendela terbuka di dekat kamar, kakinya bersiap-siap melompat akhirnya tubuhnya terangkat dan.
"Mau kemana kucingku" Pria itu dengan cekatan menangkap teko, lalu mengecupnya berulang-ulang.
"Biarkan aku pergi, aku tak tahan denganmu. Berhenti mengecupku" Bergumam dalam hatinya lalu ke empat kakinya berontak berusaha mencakar.
"Aku tak peduli, kucing yang menggemaskan. Lihat dadaku," membuka kausnya. "Seekor kucing hutan mencakar kausku hingga tembus, membekas di sini. Aku sudah terbiasa." Ia membawa teko masuk ke dalam kamar mandi lalu menyiram air dengan shower, beberapa tetes shampo kucing membuat tubuhnya berbusa. Lalu pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Lihat wajahmu, ah Lucunya."
Selesai mandi ia mengeringkan tubuh teko dengan handuk, lalu menggunakan hair dryer. Bulu-bulunya mengembang dan terlihat bersih.
"Aku terlihat seperti kucing mahal, semua perempuan akan gemas padaku." Sambil bercermin lalu pria itu membawa teko ke salah satu ruangan, memberikan makanan kucing.
"Meoong" Teko menggeser makanan lalu berjalan ke dapur melompat ke atas meja, mengambil satu potong bebek goreng.
"Nah aku tahu kamu tak menyukai makanan kucing, tapi makanan sepertiku. Nikmati saja"
"Meoong Meoong" Sambil mengunyahnya dengan lahap.
Setelah beberapa menit, tubuhnya menggigil lalu tidur di atas ranjang. "Maafkan aku, semestinya tak menyirammu dengan air." Teko terlihat lelah.
Setelah beberapa hari teko masih saja terlihat murung, terpaksa pria bertato itu membawanya ke dokter selain itu mengobati kepalanya yang sedikit benjol.
"Aku akan membawamu ke dokter tenanglah" bersiap-siap, pintu ruang depan terbuka nampaknya ia sibuk merapikan beberapa pesanan customer, sambil mengirim beberapa barang.
Teko merayap lalu berjalan ke pintu, terlihat gerbang terbuka lebar. Ia langsung berlari sekuat tenaga hingga akhirnya lolos berada di pinggir jalan.
"Menyebalkan hampir saja membuatku gila, ia baik kepadaku. Seandainya ia perempuan aku akan betah berlama-lama di rumah itu." Teko naik ke atas pohon bersembunyi. Menoleh ke bawah, terlihat pria bertato mencarinya ke semua sudut taman.
__ADS_1
"Puss Kamu dimana tolong jangan tinggalkan aku seperti ini. Puss"
"Biarkan saja kucing itu, kita sudah terlambat." Teriak supirnya sambil memundurkan mobil.
Seekor burung menyerbunya di atas pohon lalu mematuk berkali-kali hingga ia terjatuh, "Aku tak tahu itu kandangmu." Teriak teko sambil berlari.
Matahari bersinar cukup terang siang itu ia bingung akan tinggal di mana, kakinya mulai terasa pegal dan ingin beristirahat. Beberapa orang berjalan lalu lalang di dekatnya mengantri es krim di salah satu toko.
Teko melompat lalu duduk di atas jok motor, seorang anak kecil yang menikmati es krim vanila bertabur cokelat memberikannya pada teko, lalu ia menjilat es krim itu hingga tak tersisa. "Kamu suka es krim ya" Mengelus-elus teko. Kedua orang tuanya membawanya pergi masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan pada teko. Teringat kedua anaknya hingga kedua matanya berkaca-kaca.
"Royco, pecin. Ayah merindukanmu."
Seorang pengemudi ojek online mengusirnya dari jok motor yang ia duduki, huss huss. lalu melompat dan berjalan lagi menelusuri perumahan.
Masuk ke dalam rumah kosong yang yang gelap kemudian ia membaringkan tubuhnya di lantai penuh dedaunan. Hatinya terasa hampa, entah apa yang akan terjadi lagi nanti.
Saat itu seorang perempuan melewati rumah kosong kemudian seorang pria jahat menarik tasnya, teko melihatnya dengan jelas ia berlari dan mencakar pria itu hingga berdarah, kemudian tubuhnya terpental. Teko hampir tak sadarkan diri. Kemudian membalasnya menggigit pahanya. Lalu pria jahat itu menyerah dan pergi meninggalkan mereka.
"Terima kasih kucing, kamu menyelamatkanku." Ujar perempuan cantik berambut panjang.
"Dari mana kamu mendapatkan kucing itu" Ujar ibunya sambil menutup pintu.
"Kucing ini membantuku melawan penjahat, ia menarik tas ku lalu mencakar-cakarnya hingga lari terbirit-birit."
"Kucing yang baik" Sahut ibunya, ia membawa teko ke dalam kamar terpampang poster aktor korea di tembok kamarnya.
"Rupanya kamu penggemar pria korea, aku lebih tampan darinya." Teko melihat lebih dekat poster itu.
"Aku panggil saja namamu kiko okey, perkenalkan namaku angel."
"Nama yang cantik sama dengan wajahmu, sambil mengelus kakinya."
__ADS_1
"Aku menyukai pria di poster ini kiko, dia tampan. Aku tak suka pria yang perutnya gemuk. Terlihat aneh."
Teko langsung terdiam dan tersinggung, "Aku akan operasi plastik, membuatmu tercengang." Keluhnya sambil mencakar poster.
"Jangan merusak posterku lihatlah kiko tanda tangannya, aku susah payah mendapatkannya."
"Meooong" Melompat ke pahanya lalu tidur.
"Kucing yang manja, aku akan membuatmu tertidur dengan cepat."
Setengah jam berlalu angel membersihkan wajahnya dengan tisu basah lalu menghapus lipstik. Ia batuk berkali-kali lalu minum beberapa obat dokter.
Angel memindahkan teko ke ranjang kecil di sebelah ranjangnya, kemudian mematikan lampu terlihat bintang-bintang mainan yang menempel di dinding atap bercahaya warna warni.
Pagi hari teko bermain dengan angel karena tak ada tugas kuliah, ia menghabiskan waktunya bersama teko.
"Lebih baik aku menjadi kucing selamanya, kurasa angel tak akan menikah. Ia hanya membutuhkanku ya seekor kucing yang menemani hari-harinya."
Angel masuk ke dalam rumah meninggalkan teko di taman kecil penuh dengan pot tanaman hias, teko melihat ibunya menangis memeluk angel. Dari balik pintu kaca. Angel duduk di taman lalu menelan beberapa obat. Teko mendekatinya memperhatikan obat-obatan yang ia minum.
"Aku tak percaya, ia tak terlihat sakit bahkan wajahnya tak pucat. Tubuhnyapun sehat bugar."
Teko membaca nama obat itu satu persatu, angel langsung memasukkan obat tersebut ke dalam tas kecil. "Apa yang kamu pikirkan kiko? Aku baik-baik saja" Tersenyum manis.
"Dia tak akan mengerti hanya seekor kucing, lupakan suamimu angel, dia tak akan peduli dengan keadaanmu. Lagi pula kalian menikah terlalu muda." Keluh ibunya sambil menyiram tanaman. Teko terlihat serius mendengar percakapan mereka.
"Kamu sudah menikah, lalu. Ceraikah" Bergumam dalam hatinya.
"Ibu akan mengantarmu ke pengadilan, putuskan hubunganmu dengannya. Masih banyak pria yang menyukaimu."
"Tidak ada ibu, tak ada satupun yang menerimaku. Lagi pula penyakitku berat, apakah ada seorang suami yang rela merawat isteri" Angel menangis. Lalu teko mendekatinya.
__ADS_1
"Aku akan menerimamu apa adanya angel" Teko bergumam dalam hatinya.
Bersambung...