Om Kucing

Om Kucing
Bab 23 Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Teko berada di dalam ruangan yang gelap ia di lemparkan ke dalam gudang oleh seorang pria kasar brewokan. Merupakan suami katrina yang baru saja pulang setelah ia pergi dari rumah beberapa bulan.


"Aku tak suka pria itu membuat tubuhku sakit ia melemparku seperti


bola. Yang benar saja." Teko bersusah payah seperti seekor kura-kura yang masuk ke dalam kamarnya selalu saja tertangkap oleh pria itu.


Terdengar suara tangisan dan menjerit di kamar sebelah teko mendekatkan telinga ke pintu, ia mendengar percakapan mereka yang begitu menyakitkan" Perempuan mana yang tidak sakit hati membuat masakan yang enak lalu ia mengatakan makanan itu membuatnya mual. Hanya karena makanan ia memarahi isterinya." Teko menggelengkan kepala. Seakan ia lupa memperlakukan osin saat itu.


"Aku tak tahan mendengar pertengkaran mereka" ia masuk ke dalam karpet yang sudah usang. Suara decitan tikus terdengar mendekat.


"Mereka setiap hari bertengkar aku sudah terbiasa mendengarkan pertengkarannya" ujar tikus yang duduk mengintip bokong teko telihat dari luar karpet. Teko yang mendengar ucapannya berjalan mundur.


"Rupanya kamu seekor tikus aku takut mendengar pertengkaran yang membuat telingaku sakit. Apakah kamu melihat perempuan itu saat di pukul" ujar teko.


"Ya aku melihatnya mengintip di balik kursi. Katrina di pukul hingga lebam bahkan ia kehilangan satu giginya."


Teko semakin penasaran dan terkejut ia menjadi geram pada pria brewokan itu. "Pria yang kasar" sorot matanya memendam emosi. "Lalu apakah dia menghubungi polisi"


"Ia tak mengatakan pada siapapun. Bahkan aku mendengar percakapannya dengan keluarga katrina mengatakan padanya berada di malaysia tak ada di rumah. Saat itu tangannya penuh luka lebam."


"Perempuan yang malang. Aku tak pernah melayangkan tangan pada perempuan hanya kata-kata kasar saja" ujar teko sambil memindahkan senter ke arah karpet.


Pintu terbuka terlihat wajah katrina pucat dan lemah, ia membawa teko ke atas meja di dekat kolam renang.


Teko yang merasa kasihan padanya mendekat lalu mengelus wajahnya yang sedih. "Kamu merasakan hal yang sama rahul" tersenyum lirih.


Pria brewokan itu membawa dua koper lalu pergi tanpa menyapa katrina, terlihat dari pintu kaca.


"Pergilah aku rasa sudah cukup perilakumu yang melewati batas kesabaranku" ia menunduk lalu menangis.


"Sabarlah katrina aku berada di sini memberikan semangat padamu. Apakah aku harus menari di atas meja ini"


Katrina menghapus air matanya ia tersenyum lebar pada teko terlihat satu gigi bagian bawah hilang. Lalu katrina memasang gigi palsunya saat ia berdiri di wastafel dekat kolam renang.


Teko mengikutinya dari belakang masuk ke dalam kamar lalu menguncinya, teko ikut tidur bersama katrina di atas ranjang. Mengusap pipinya yang penuh dengan air mata.


Teko merasa bersalah telah melukai hati osin memperlakukannya dengan kata-kata kasar yang membuat hati seorang perempuan sakit, ia membayangkan osin menangis seperti katrina ketika ia pergi dari rumah.


Namun sekejap ia berubah setelah mengingati osin bertemu pria sipit makan bersama dan terlihat romantis, "Aku membencinya" bergumam dalam hati.


Beberapa jam kemudian...


Katrina membawa teko ke dalam mobil menggunakan kandang kucing berukuran kecil, ia mengemudi kendaraan lalu masuk ke dalam rumah tua yang cukup besar.


Menekan klakson kemudian seorang pria mendorong pagar lalu melambaikan tangan, "puteriku katrina kemana saja sudah dua bulan tak pulang" katrina membuka kaca mobil lalu tersenyum pada ayahnya


Ia membawa teko masuk ke dalam rumah lalu membuka kandang, teko berjalan duduk di kursi dekat ayahnya.


"Kenapa baru pulang aku baru saja berniat menghubungimu. Kamu terlihat pucat apakah sedang sakit" mengelus rambutnya.


"Aku tidak apa-apa ayah. Hanya kurang tidur saja mungkin penyebab wajahku menjadi pucat. Benarkan rahul" menoleh kepada teko.

__ADS_1


"Baru pertama kali kamu membawa binatang ke rumah. Dia terlihat gemuk kamu memberi makan samosa padanya" tertawa tipis.


"Ya. Dia suka samosa hahaha" katrina memberikan teko pada ayahnya. "Ayo coba elus saja perlahan aku tak pernah melihat ayah menyayangi kucing"


Pria berusia 60 tahun itu mengelus teko lalu memberikan sepotong roti canai teko langsung menyantapnya.


"Bagaimana kabar suamimu dia baik-baik saja"


"Baik. Dia berada di rumah cukup sibuk butuh istirahat" sedikit tersenyum lalu berjalan ke luar membawa koper dari bagasi mobil.


"Katrina tak berkata jujur padanya aku saksi mata tetapi itu terserah padamu sampai kapan akan memendamnya" teko bergumam dalam hati lalu melompat ke bawah mencari kamar mandi.


"Kamu mau kemana" pria itu mengamati teko yang berjalan ling-lung lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia berjalan mengintip di pintu. kucing orange itu buang air kecil.


"Kucing yang baik kamu tahu tempat untuk membuang air" membuka pintu kamar mandi. "Ada apa ayah" katrina penasaran lalu tertawa melihat tingkah teko yang tak biasa. Ia berkumur sambil bercermin setelah buang air kecil di wastafel.


***


Osin tak mengerti apa yang pamannya katakan berbahasa cukup sem-rawut dan bikin pusing. Mungkin obat dokter yang ia telan melebihi dosis. Sikapnya mulai berubah kepada kedua anaknya menjadi pemarah.


"Kakek sering memarahiku saat ibu tak ada di rumah" ujar pecin memeluk osin yang duduk di ruang tamu. Pamannya yang mengidap penyakit darah tinggi kerap lupa ingatan dan menyalahkan osin saat ia lupa menaruh barang.


Osin membawa kedua anaknya masuk ke dalam kamar, "mungkin kakekmu sedang sakit, kalian harus mengerti jangan berbuat ulah"


"Baik bu" ujar royco dan pecin sambil menganggukkan kepala.


Telepon berdering...


"Hallo selamat malam maaf dengan siapa" ujar osin.


"Iya benar aku sendiri"


"Aku berminat membeli rumahmu, bagaimana kalau besok kita bertemu di rumah itu" sahut seorang pria.


"Boleh jam 10 pagi. Kebetulan aku sedang tidak sibuk"


"Baik-baik aku tunggu di sana. Terima kasih" telepon terputus.


Suara ketukan pintu cukup keras membuat osin seketika berdiri.


Klek...


"Ada apa paman? tak biasanya menggedor pintu cukup keras" keluh osin menatap wajahnya.


"Aku ingin berbicara denganmu duduk di sana"


Mereka duduk bersama di ruang tamu lalu paman vincaw mengeluarkan selembar kertas, "Rumahku di sita oleh bank. Aku akan pulang ke cina kalian ikut saja denganku. Maaf paman sedang stress berat memikirkan beberapa usaha yang belum berjalan di indonesia"


"Kenapa baru mengatakan sekarang apakah karena aku merepotkanmu. Maafkan aku dan anak-anak. Tadi seseorang menghubungiku akan membeli rumah."


"Ya baguslah kalau rumahmu terjual. Paman hanya punya dua rumah di indonesia dan cina, hanya rumah itu satu-satunya yang tersisa. Aku akan memberikan kedua mobilku untukmu dan anak-anak."

__ADS_1


"Tidak perlu paman aku tak menginginkan mobil. Bukankah aku sudah memiliki satu mobil. Tinggal saja bersama kita"


"Aku tak bisa tinggal lebih lama lagi di indonesia visaku juga tinggal dua bulan lagi. Jika memerlukan uang jual saja mobilku. Lusa aku akan pulang ke cina" sambil menghapus air matanya.


"Baiklah. Semoga keponakanku menjaga paman sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun apalagi paman sedang sakit." Osin berjalan duduk di sebelahnya mengusap bahu paman vincaw perlahan.


"Terima kasih osin, aku akan sangat merindukan kalian. Semoga saja kamu mendapatkan pria yang baik tak seperti teko."


"Aku berharap seperti itu. Tapi iwata sudah berniat melamarku hanya saja aku tak bisa menikah dalam waktu cepat. Tetapi dia pria yang baik" tersenyum manis.


Setelah mereka berbicara cukup lama paman vincaw menyerahkan semua barang dan aset kendaraannya untuk osin, paman vincaw mempunyai dua mobil mewah di negeri cina lebih dari cukup.


Keesokan harinya...


Osin mengemudi mobil bersama kedua anaknya ia menunggu lama di jalanan yang macet, membuatnya jenuh. Suara ponselnya berdering ia langsung membukanya.


"__Sayangku osin nanti malam aku menjemputmu"


"__Maaf iwata aku menyiapkan perlengkapan untuk paman, lusa akan pergi menetap di cina. Dan, rumah ini akan di sita bank." Emoji tersenyum.


"__Kasihan sekali pamanmu apakah perlu bantuanku. Aku akan datang besok pagi. Bye"


"__Baik. Bye" singkat osin yang fokus mengemudi.


Jam setengah sebelas ia sampai di depan rumah lalu masuk, seorang pria berusia 50 tahun duduk di halaman lalu menyapanya. Mereka berjabat tangan.


"Maaf telat jalanan macet, silahkan masuk" sambil membuka pintu.


"Silahkan duduk" osin menggeser kursi lalu duduk bersama pria itu. Sementara pecin dan royco berlari kesana kemari di halaman rumah.


"Begini bu osin aku berani membeli rumah ini seharga 950 juta saja, bagaimana. Langsung aku transfer hari ini juga setelah tanda tangan."


"Silahkan pak lagi pula rumah ini banyak perbaikan"


"Kalau begitu kita sepakat ya. Apakah rumah ini atas nama ibu"


"Ya benar, kalau bukan atas namaku mana bisa menjual rumah ini pak" tertawa tipis.


Setelah beberapa jam akhirnya rumah tersebut selesai di jual. Ia berencana akan membeli rumah baru untuk kedua anaknya. Tak ada kenangan baik di rumah ini.


Jam 7 malam royco dan pecin tertidur di jok belakang. Osin mengemudi sedikit mengantuk lalu rem mendadak. Melihat teko berjalan dengan seorang perempuan menyebrang jalan ia berhalusinasi lalu meneguk minum.


Satu jam berlalu ia tiba di rumah paman vincaw. "Kalian sudah datang" mengangkat tubuh royco masuk ke dalam kamar, pecin yang terbangun mengikuti kakeknya dari belakang dengan mata yang masih mengantuk.


"Bagaimana berjalan lancar" tersenyum pada osin yang sedang mengunyah makanan ringan di ruang tamu.


"Lancar paman hanya saja ia menawar hingga rugi 50 juta"


"Begitu ya. Jadi hanya 950 juta saja"


"Seandainya aku mendapatkan uang sebesar 3 miliar akan ku beli rumah paman" tertawa tipis sambil mencolek pipinya.

__ADS_1


"Wah wah kasihan sekali uangmu tak cukup" canda paman vincaw." Menepak bahunya lalu masuk ke dalam kamar "Selamat malam osin ini malam terkahirku di sini maafkan paman tak bisa memberikan kebahagiaan untuk kalian" osin tersenyum menyandarkan tubuhnya di sofa dekat pintu kamar pamannya.


Bersambung...


__ADS_2