
Kedua kucing malang itu tidur di emperan toko di perumahan, ia melihat pemilik toko menangis di balik etalase. Menjual beberapa makanan basah yang tak terjual hingga basi.
Tetapi ia membuang makanan tersebut ke tong sampah. Teko yang merasa kelaparan berusaha membawa kue yang tergeletak di sampah. Pemilik toko yang berparas tampan berusia 40 tahun bernama roki mengangkat tubuhnya yang masuk ke dalam tong sampah hingga terjatuh.
"Jangan membawa makanan itu. aku beri kamu sedikit makanan di mejaku ayo ikut denganku" berjalan masuk ke dalam toko lalu menaruhnya di atas etalase.
"Lihat aku membuat kue bolu ini besok sudah tak bisa di makan" menyodorkan sedikit kue pada teko lalu dora berlari melompat ke atas. "Ternyata ada dua kucing. Ayo makan"
Teko yang kelaparan langsung menyantapnya tanpa menyisakan sedikitpun.
"Kamu akan baik-baik saja di toko ini, tetapi aku tak punya banyak makanan tokoku sepi pengunjung. Padahal aku menghabiskan modal cukup banyak yang membuatku rugi" ia berjalan mendekati teko lalu mengelusnya. Hanya saja ia memamerkan taring giginya seolah-olah tak ingin di sentuh.
"Rupanya kamu tak begitu ramah" ujar roki kembali duduk.
"Aku tak suka di sentuh pria. Kecuali perempuan cantik" Bergumam dalam hatinya.
Satu jam berlalu malam itu roki menutup tokonya, teko dan dora berada di dalam dus besar tertidur pulas.
Ia mengangkat dus berisi dua kucing membawanya ke dalam rumah, "Kalian tidur di sini ya. Selamat malam" mengelus kedua kucing.
Setelah beberapa jam teko mendengar suara tangisan pria di dalam kamar. Ia berjalan mendekat lalu mengintip di balik pintu. Terlihat seorang perempuan terbaring lemah di atas ranjang menggunakan infus.
"Maafkan aku tak bisa mendapatkan uang hari ini. Dagangan ku tak laku ia mengusap rambutnya lalu sang isteri tersenyum mengangguk. Mereka makan bubur bersama"
"Jangan khawatir aku baik-baik saja, jangan katakan pada kedua orang tuaku bahwa aku sakit"
"Bagaimana aku bisa menyimpan rahasiaku, mereka akan mengetahuinya suatu saat nanti."
"Tak perlu biar saja kematianku yang akan mereka ketahui" Isterinya menderita kanker stadium 4 yang di perkirakan dokter usianya hanya dua tahun saja. Membuat roki stress berusaha menyelamatkannya untuk biaya berobat.
Wajahnya yang pucat lemah namun bertubuh sedikit gemuk, obat yang ia konsumsi membuat bobot tubuhnya naik hingga delapan kilogram.
Teko yang mendengar percakapan mereka menjadi sedih dan menangis ia berjalan masuk ke dalam ruangan yang sedikit tersorot lampu ruang tengah. Sambil menghapus air matanya.
"Sepasang suami isteri yang kuat menghadapi ujian hidup. Aku tak tahan melihatnya" dora yang memperhatikan teko sejak tadi menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu menangis" ujar dora. Teko menceritakan semuanya hingga membuatnya sedih saling merangkul.
"Pantas saja ia menangis saat aku melihatnya di luar toko"
"Maafkan aku osin membuatmu kecewa. Aku berusaha menjadi suami yang baik. Kembalikan tubuhku sudah cukup menderita menjadi kucing"
"Maksudmu?? bukankah kamu seekor kucing, jangan menyesal menjadi kucing aku lebih takut di takdirkan menjadi buaya darat."
"Bukankah aku buaya darat yang malang" teko duduk menyandar di tembok.
"Ya buaya darat berkumis" mereka tertawa sambil menatap keluar pintu kaca yang tak tertutup gorden.
***
Keesokan harinya...
Pecin bermain air bersama iwata di danau, saat itu cuaca cukup sejuk dan hari yang tepat untuk bersenang-senang. Ia merangkul iwataa yang jongkok di sisi danau.
"Ayo kita makan siang" ujar osin sambil mencubit pipinya.
"Ya aku membawakan nasi goreng kesukaanmu" ia berdiri lalu berjalan ke tempat makan bersama -sama.
"Makanan yang enak aku membeli cukup mahal di jepang. Tetapi bisa menikmati sepuasnya di indonesia" tertawa tipis.
"Hanya nasi goreng saja makanan kesukaanmu di sini. Aku sudah terbiasa makan-makanan indonesia karena kedua orang tuaku tak pernah membuat makanan jepang" tersenyum tipis.
"Mereka lahir di indonesia" ujar iwata sambil menyantap satu sendok nasi.
"Ya mereka lahir di sini tetapi kewarganegaraan jepang" sahut osin.
"Kalau begitu mereka memperpanjang visanya cukup lama. Andai saja aku menikah denganmu pasti pindah kewarganegaraan. Aku ingin tinggal di bali bersamamu dan anak-anak"
Osin tertawa sambil mengikat rambutnya yang terurai, "Mengejutkan" sambil tersenyum lirih. Royco dan pecin berlari mengelilingi taman, lalu datang untuk sesuap nasi.
Iwata berjalan mendekati salah satu anaknya lalu mengakatnya berjalan masuk ke atas perahu kayu yang cukup besar. "Cepatlah. Kita akan bersenang-senang" teriak iwata pada osin dan pecin.
__ADS_1
Sore itu cuaca cukup buruk hujanpun turun membuat osin sedikit kedinginan, pakaiannya tipis tanpa menggunakan mantel. Iwata yang melihatnya menggigil langsung memeluk dari samping.
"Om apakah ibu menjadi isterimu sekarang" ujar pecin seketika iwata melepas pelukannya. Ia tertawa lalu membuka kaus panjangnya di berikan pada osin.
"Pakailah sebentar lagi perahu berada di daratan. Maafkan aku mengajakmu jalan-jalan cukup jauh" Perahu yang menggunakan mesin itu melaju lambat karena sedikit tertiup angin.
Osin yang menggigil merasa sedikit hangat, iwata telanjang dada tubuhnya membentuk atletis. Namun ototnya tipis. Ia merangkul osin dan kedua anak-anaknya.
Malampun tiba...
Iwata menggendongnya ke dalam kamar lalu menutupi tubuh osin dengan selimut. Pecin dan royco yang sudah tertidur berada di sampingnya.
"Jangan pergi aku tak enak badan" ujar osin perlahan meraih tangannya.
"Baiklah aku akan menginap di rumahmu lagi pula tak bisa meninggalkanmu begitu saja. Aku akan tidur di ruang televisi" mengelus tangannya.
"Terima kasih iwata. Pakailah kaus dan mantelku di lemari untukmu" iwata mengangguk lalu membuka lemari. Ia menarik salah satu kaus berwarna putih lalu mengenakannya.
"Bagaimana aku sudah terlihat cantik" osin tak kuat menahan tawa. Iwata memilih kaus ketat bergambar bunga matahari.
"Perutku mual tertawa melihatmu" ia mengangkat tubuhnya kemudian memberikan bantal dan selimut.
"Selamat malam iwata maaf merepotkanmu" ujar osin sambil melambaikan tangan melihatnya keluar kamar.
Iwata duduk di sofa lalu sedikit demi sedikit menutup matanya yang cukup melelahkan. Belum beberapa menit ia terbangun dari tidurnya beberapa kecoa melewati kaki. Ia langsung berdiri memukul binatang itu dengan sapu lalu memanggil osin.
"Maaf aku lupa bahwa kamu sakit. Kecoa ini menggangguku" Teriak iwata sambil berlari ke kamar.
"Hahaha mereka tak akan menggigitmu hanya kencing saja membuat matamu sedikit bengkak."
"Ah aku tak mau tidur di sofa. Sambil duduk di sampingnya"
"Iwata aku tak bisa tidur bersamamu di dalam kamar. Kita belum menikah tetapi aku membutuhkanmu saat ini" sambil menutup sedikit wajahnya dengan selimut.
"Menikahlah secepatnya aku sudah siap. Kita akan tidur bersama" menyodorkan wajahnya kepada osin. Ia langsung menutup seluruh wajahnya. "Aku ingin tidur kembalilah ke sofa" sahut osin sambil tertawa. Iwata keluar dari kamar sambil melihat ke kolong meja dekat sofa. "Ku harap kecoa itu pergi jauh-jauh dariku" ujarnya.
__ADS_1
Bersambung....