Om Kucing

Om Kucing
Bab 35 Selembar Catatan Untuk Teko


__ADS_3

Teko duduk termenung di dekat gerobak mie yang sedang nangkring, seorang perempuan paruh baya duduk lalu menyantap makanan dengan wajah yang sumringah. Pak wanto sudah lama mengenal perempuan itu sejak pertama kali pindah.


"Ku lihat usahamu makin maju pak, siang-siang dagangan sudah habis terjual. Menantuku mengatakan itu saat hendak membeli mie ayam." Ujarnya sambil menguyup sedikit kuah.


"Ya syukurlah kalau banyak yang menyukai mie buatanku ini. Oh ya selama seminggu mie ayam gratis tuh aku tulis di depan gerobak." Sahut pak wanto.


"Kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih semoga di balas oleh tuhan semua kebaikanmu" sambil menyimpan satu mangkuk di dekat meja.


"Kemarin tetanggaku mendadak mati katanya sakit jantung. Nah itu sebelum kematiannya memberikan uang sebesar 10 juta padaku. Sudah di tolak memaksa harus menerima katanya untuk tabungan di akhirat. Jadi aku berikan gratis saja pada pembeli supaya pahalanya semakin mengalir."


"Masha Allah baik sekali orang itu ya pak. Aku doakan masuk surga karena kesabarannya di berikan penyakit berat dan sedekah." Lalu perempuan itu pamit pulang.


Teko semakin sedih mendengar percakapan mereka, kekagumannya pada andre dan renata takkan pernah hilang dari ingatan. Bahasanya yang lemah lembut dan menjaga perasaan orang lain bahkan tak menanggapi hinaan dengan kasar mereka membalasnya dengan diam dan menjauh.


"Sulit mencari orang seperti kalian berdua. Selama ini aku menemukan sepasang suami isteri yang tak layak menjadi contoh."


Lalu teko masuk ke dalam gerobak yang berada di bawah sekat. Pak wanto tampak santai dan bahagia setelah membagikan makanan gratis melanjutkan kebaikan andre yang di berikan padanya.


Beberapa menit kemudian ketika teko melewati rumah andre terlihat renata duduk di depan rumah termenung sendirian. Ia langsung berlari mendekat sementara pak wanto hanya menyapa dari kejauhan.


Wajahnya pucat sambil memegang ponsel yang masih menyala, karena penasaran ia naik ke atas meja lalu membaca isi pesan dalam ponsel itu.


Seseorang mengirim pesan kasar padanya seolah-olah meminta hak waris atas kepergian andre.

__ADS_1


"Jahat sekali keluarga andre mereka hanya memikirkan uang tak pernah memperdulikan kesulitan yang mereka hadapi. Kematiannya belum setahun sudah rebutan harta. Pantas saja kejiwaan andre bermasalah selain menderita penyakit berat, ia menahan tekanan dari beberapa orang dan keluarganya sendiri bahkan keluarga renata sama saja." Teko menekukkan kedua alisnya lalu mencakar meja yang terbuat dari kayu.


"Apa salahku tuhan. Sampai kapan mereka terus mengganggu ketenangan Bahkan aku sudah menghindar. Tak berempati sedikitpun atas kematian andre." Ujar renata lalu datang bibinya yang bernama tyas. Satu-satunya orang menyayangi renata.


"Jangan terus berlarut-larut dalam kesedihan. Sudah berikan saja semua milik andre takkan membuatmu miskin walaupun ia berwasiat semuanya untukmu." Duduk di sebelah renata setelah beberapa menit mencurahkan isi hati hanya bibinya yang mengerti.


"Ya bi tentu saja akan aku berikan biar tuhan saja yang membalas semuanya. Padahal andre berwasiat untukku. Bukankah berdosa melanggar wasiat suami di berikan pada orang yang bukan haknya lagi pula aku juga bekerja keras selain itu merawatnya." Kedua mata berkaca-kaca menahan emosi.


"Sudah nanti bibi berikan uang lebih besar untukmu. Biarkan orang yang merebut paksa harta yang bukan miliknya akan di balas di akhirat." Renata mengangguk.


Keadaan semakin runyam keesokan harinya keluarga andre membawa paksa semua aset termasuk laptop dan sebagainya, mereka merasa memiliki. Bibinya yang bernama tyas menggelengkan kepala melihat perilaku keluarga andre yang tak berempati.


Teko yang kesal menggigit bokong mereka satu persatu lalu melarikan diri berlari sekencang-kencangnya saat hendak menangkap kucing berwarna orange itu.


"Siapa yang parasit kamu menyindirku??" sahut cunguk yang sedang tiduran di lantai.


"Bukan. Keluarga majikanku yang menyebalkan merebut harta orang yang sudah mati bukannya berdoa untuk ketenangan hidup andre di sana."


"Manusia memang serakah memikirkan uang saja. Lebih baik seperti kita hanya satu yaitu makanan." Sambung cunguk berjalan ke lemari bekas menarik satu foto keluarga.


"Siapa mereka" ujar teko bertanya-tanya. Sambil menggeser selembar foto yang di berikan cunguk.


"Aku tak tahu. Siapa tahu kamu bisa membacanya menggunakan indra ke enammu."

__ADS_1


"Memangnya aku ini dukun. Dasar kucing aneh mana bisa membaca karakter orang menggunakan foto jangan melakukan perbuatan bodoh hanya tuhan yang maha mengetahui." Tiba-tiba teko tersedak lalu ototnya terasa sakit. Ia berlari pamit pulang namun rumah itu tampak kosong. Masuk melewati jalan belakang taman dan pintu terbuka lebar.


Malam itu teko terlentang di kamar bekas andre di mana jendelanya yang besar lebar terbuka namun hanya ada kasur dan beberapa pakaian bekas saja. Otot-ototnya terasa tertarik sangat kencang membuat teko berteriak cukup kencang.


Tak sadarkan diri selama beberapa hari, kemudian ia bangun dari tidurnya. Tak menyangka bahwa tubuhnya kembali seperti dulu lagi tetapi ketika ia melihat ke cermin yang berada di sebelah ranjang. Wajahnya berubah lebih segar tampan teringat saat ia bertemu dengan osin pertama kali dengan tubuh kurus dan potongan rambut yang modis.


Teko jingkrak lalu berlari ke luar kamar tetapi lupa menggunakan pakaian ia kembali lagi masuk ke dalam kamar membuka lemari mencari pakaian bekas andre yang masih bagus dan bermerek. Menarik celana jeans berwarna biru dongker. Kemudian kaus berwarna putih.


Beberapa saat kemudian...


Teko yang tampan berjalan masuk ke dalam rumah kosong namun langkah kakinya masih terasa kaku karena ia terbiasa berlari melompat menggunakan empat kaki.


"Aku seperti robot yang sulit berjalan" ujarnya sambil tertawa tipis cunguk yang sedang bermalas-malasan tidur di dalam lemari. "Hai cunguk ini aku teko sekarang tubuhku sudah kembali menjadi manusia. Aku menyimpan rahasia yang tidak kamu ketahui. Bagaimana sudah terlihat tampan???" ujar teko sambil tertawa cunguk menjawab dengan suara mengeong tampak bengong.


"Apakah tuhan sedang memberikan azab padamu teko. Mengembalikan jiwamu seperti semula. Bersemangatlah." Ujar cunguk yang melihat teko berjalan ke luar rumah kosong lalu naik kendaraan umum.


Keajaiban celana yang ia gunakan terdapat dompet berisi kartu atm dan nomor pin. Ia melongo ketika mengecek saldo!! uang tabungan andre sebesar satu triliun. Dan, selembar catatan kecil terselip di dalam dompet.


"Uang ini untukmu teko bahagiakan isterimu osin kembalilah padanya, gunakan uang ini untuk kebahagiaan kalian berempat. Tenang saja renata perempuan yang kuat dan sabar tuhan sudah menyediakan rumah di surga untuknya."


Teko yang bersemangat mencari alamat hotel tersebut di mana pernikahan mereka berlangsung malam ini. Ketika ia sudah mendapatkan informasi teko bergegas merubah penampilannya lebih memukau. Membuat semua orang akan bertanya-tanya. "Siapa kamu???" ujarnya sambil bercermin di salah satu toko pakaian mewah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2