Om Kucing

Om Kucing
Bab 12 Mengecewakan Nenek


__ADS_3

"Hai kucing manis, kalian senang menikmati matahari pagi? aku akan membawamu ke dalam rumah." Suara berseru seorang nenek.


"Suamiku bawakan kandang ini aku tak kuat membawanya" Teriak kepada kakek yang saat itu menyiram tanaman.


"Sebentar baru saja aku menyirami lima pot, ah aku lanjutkan saja nanti" Menyimpan semprotan air lalu berjalan ke arah kandang kucing yang berjejeran. Mengangkatnya sekuat tenaga menyimpannya di ruang tengah.


"Kalian diam di sini nikmati makanan kecil akan ku berikan setelah selesai dengan pekerjaanku" Lalu pergi melanjutkan.


Nenek pergi ke pasar bersama tetangga sebelahnya sambil menjinjing tas belanjaan yang masih kosong, terlihat bus mini berhenti di seberang. Ia berjalan dan masuk ke dalam bus.


"Hari ini tak ada yang pergi sekolah. Biasanya mereka memenuhi tempat duduk berdiri tak mendapatkan kursi" Ujar nenek sambil menoleh ke belakang lalu ke depan.


"Tentu saja tak ada yang pergi ke sekolah, ini hari libur besok tanggal merah. Jalanan terlihat sepi mereka anak muda menghabiskan waktunya di rumah." Sahut tetangganya yang bertubuh kurus kecil.


Tanaman selesai di siram oleh kakek lalu masuk ke dalam rumah mencari makanan kucing berbentuk ikan. "Ah ya ini makanan mereka" Membuka toples berisi makanan kucing menaruhnya di beberapa mangkuk. Ia membuka kandang semua kucing di biarkan bebas berkeliaran di dalam rumah.


"Makanlah kalian pasti lapar bukan, aku melupakan air minum" Berjalan ke dapur membawa mangkuk cukup besar di isi air keran lalu menyodorkan minuman kepada mereka.


"Kucing kuning kenapa kamu tak makan? Tidak suka camilan kecil itu." Sambil mengusapnya, teko berjalan lalu naik ke atas meja mencuri paha ayam.


"Ha.. Kamu suka ayam, aku tahu sekarang." Ujar kakek sambil berjalan tertatih-tatih.


Tok.. Ketukan pintu. "Permisi" Teriak seorang pria menggunakan topi dan kaus merah. Kakek membuka pintu, "Maaf mengganggu kek, aku parkirkan mobilmu di dalam saja atau?"


"Taruh saja di luar aku akan menggunakan mobil besok pagi," Sahut kakek. Mobil bak yang ia sewakan kepada pemilik usaha air minum. "Uang sewa sudah saya transfer sebesar 500rb. Terima kasih," Memberikan kunci padanya.


"Sama-sama, aku dengar kamu sudah membeli mobil baru."


"Betul kek mengambil kredit mobil, maaf aku ada perlu. Permisi" Sedikit membungkuk lalu berjalan keluar.


Beberapa kucing membuat kakek pusing mereka berlari-lari memecahkan gelas, merusak sofa dengan cakarnya. Dan, teko menghabiskan makanan di atas meja.

__ADS_1


"Huss... Husss.." Membawa sapu untuk menakut-nakuti. Membuat semua kucing berlari terbirit-birit ke luar rumah. "Kalian kucing yang nakal, kucing kuning turun dari mejaku. Keluar" Teriak kakek.


***


Semua kucing diam di bawah meja taman, "Kamu membuat kakek marah" Ujar gadis kucing berwarna putih. "Ini salahmu meledekku kucing luntur" Sahut kucing abu-abu. Sambil menatap sinis.


"Kalian diamlah lebih baik kita pergi dari rumah ini, membebaskan diri" Teko duduk di atas kursi menoleh ke bawah.


"Aku tak mau kalau itu yang kamu inginkan pergilah, kucing-kucing liar pasti akan menggangguku" Keluh kucing abu-abu.


"Ha.. Penakut" Ledek teko.


Nenek datang kemudian membawa masuk semua kucingnya, ketika sampai di dalam rumah ia melihat rumahnya berantakan kakek memungut pecahan kaca lalu menaruhnya ke dalam plastik. "Keluarkan kucing itu, mereka sangat nakal. Lihat sofamu rusak di cakar-cakar hingga robek."


"Kalian kenapa merusak sofa ini, aku membelinya seharga 5 juta dari tabungan pensiun." Duduk lalu menaruh tas belanjaannya.


Lalu nenek menangis sambil mengelus sofanya yang robek, kakek membawa satu persatu kucing ke dalam ruangan tanpa kandang. "Kalian di hukum, tak boleh bermain-main lagi di ruangan itu" Brak, pintu tertutup.


"Ini salahku tapi membuat kukuku menjadi cantik sudah lama ia tak membawaku ke salon, biasanya mereka merawat bulu-buluku hingga kuku." Sahut gadis sambil menoleh ke kiri.


"Mandi saja menggunakan sabun cuci piring" Ledek kucing abu sambil tertawa. "Ya akan mengkilat seperti piring" Sahut kucing hitam putih.


"Aku tak mau mendengarkan pendapat kalian, kucing-kucing kampung tak berperasaan" Mereka memungutmu di jalan, tak sepertiku dibeli dengan harga 3 juta." Ledek gadis lalu berjalan mengelilingi mereka.


"Kalian diamlah aku bosan mendengarkan ocehanmu, terutama kucing luntur itu." Teriak teko yang sedang tiduran di atas lantai.


"Apa yang kamu katakan? Kucing kuning yang mengambang di air" Sambil berjalan ke arahnya.


"Maaf maaf aku salah ucap" Teko nyengir memohon ampun. "Jangan meledekku, warna abu ini terbaik dari jenis kucing lainnya. Langka. Kalian pernah melihat kucing berwarna sama sepertiku? Tak ada." Sambil menepak kepala teko.


Krek. Suara pintu terbuka.

__ADS_1


"Kakek nenek kucingmu bagus sekali aku suka yang itu" Teriak anak berumur 7 tahun berjenis kelamin laki-laki.


Membawa teko keluar ruangan lalu mengunci pintu, semua kucing bersembunyi di balik lemari kecil. "Aku boleh membawa kucing ini kek?" Memeluknya.


Teko mulai merasakan sesak napas, ia memeluknya dengan kasar. "Hentikan anak nakal, aku tak suka di peluk" Keluh teko yang terdengar mengeong, anak itu langsung memukulnya dengan bantal. "Berisik"


Ia berjalan ke dalam kamar kakek meminta satu kucing, "Baiklah bawa kucing kuning itu, jangan menyakitinya. Kamu selalu terlihat gemas, mereka akan mencakarmu kalau saja merasa terancam."


"Terima kasih kakek nenek, aku pulang dulu ya." Nenek hanya mengangguk, "Hati-hati dijalan" Sahut nenek perlahan.


Teko di masukkan ke dalam keranjang sepeda bagian atasnya tertutup terdapat lubang-lubang kecil untuk udara.


Anak itu mengayuh sepeda cukup kencang membuat tubuh teko bergerak kesana kemari, tak menarik rem saat berada di polisi tidur.


Berbelok menikung lalu sampai di sebuah rumah yang cukup luas. "Ibu lihat apa yang aku bawa" Teriak anak kecil bernama hendrik.


"Kucing dari mana? Lucu sekali ia gemuk dan warnanya orange" Sahut ibu muda berambut pendek, berpakaian minim. Ketika teko di angkat olehnya. Wajahnya sangat senang, "Cantik sekali perempuan ini, aku jadi malu" Bergumam dalam hatinya.


"Kakek memberikan kucing ini padaku" Hendrik menaruh sepedanya lalu berjalan di belakang ibunya yang sedang menggendong teko.


Perempuan itu mencubit teko menarik kumisnya, seolah-olah gemas kemudian mengecupnya, teko pasrah dan menikmati.


"Ibu pinjam dulu, aku ingin bermain dengannya" Membawa teko ke dalam kamar, terlihat beberapa mainan rusak tergelatak di lantai. Melemparkan teko ke atas ranjang, lalu membawa pistol mainan. Ia menembak teko dengan bola-bola kecil yang keluar dari lubang pistol.


"Hentikan tubuhku sakit, anak yang nakal aku bukan boneka. Perlakukan kucing dengan baik" Ujar teko.


"Hendrik.. Makan siang" Teriak ibunya di balik pintu.


"Baik bu" Lalu keluar kamar tak lupa menguncinya.


"Ini kekerasan dasar anak ingusan itu, akanku cakar-cakar kalau saja menarik ekorku lagi." Sambil menyingkirkan pistol ke bawah lantai, hingga rusak. Matanya melotot, menoleh ke bawah. "Sial, mainannya rusak. Aku pura-pura tidur saja" Masuk ke dalam selimut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2