
Andre menyimpan laptop di atas pahanya duduk di atas kursi roda sambil mencari inspirasi untuk membuat karakter animasi dengan jalan cerita yang di rangkai sendiri. Karena pekerjaan yang terikat kontrak dengan perusahaan sudah selesai tanpa kendala apapun.
Walaupun fisik yang tak sempurna ia berusaha menjadi orang yang kuat tanpa menghiraukan penghinaan orang lain. Yang selalu menakuti andre takkan mendapatkan pekerjaan karena fisiknya yang tak sempurna. Nyatanya ia mendapatkan rezeki hasil ketekunannya belajar secara ototidak selama dua tahun.
Teko tersenyum sambil menatap penuh kasih sayang. Untuk pertama kalinya ia menemukan orang baik yang luar biasa sabarnya. Ada beberapa orang yang menghina fisik namun tak mematahkan semangatnya mencari uang.
Selama dua bulan teko bersama keluarga yang harmonis ini. Tak pernah mendengarkan mereka membicarakan orang lain bahkan tak pernah menghina siapapun. Sibuk dengan menabung ilmu juga mencari rezeki yang halal.
Renata yang tak suka bergaul terkesan sombong selalu menjadi bahan omongan orang. Membuat mereka bertanya-tanya.
"Aku tak pernah mengusik siapapun lalu apa yang mereka pikirkan. Bahkan setiap hari sibuk membuat konten" ujar renata bergumam dalam hatinya sambik membuka pintu masuk ke dalam rumah.
Kemudian berjalan mendekati andre yang berada di taman kecil di dalam rumah. Membuat naskah dengan alur cerita berbau korea yang memang di sukai kalangan anak muda sesuaikan dengan jaman. Tema percintaan selalu berhasil membuat penonton terkesima. Sehingga menjadi ide para penulis naskah.
"Kucing ini berada di dekatmu sepanjang hari. Kalungnya baguskan aku membelinya di petshop" sambil menggendong teko.
"Ya tetapi ia terlihat kurang nyaman selalu menggigit kalung" sahut andre menoleh ke kanan yang sedikit mengangkat kepala.
Teko yang merasa betah hidup bersama mereka tak pernah ke luar rumah sekedar berjemur bermain dengan cunguk atau nevada.
Beberapa hari kemudian renata jatuh sakit andre merasa khawatir karena memeriksa suhu tubuhnya semakin naik. Ia berusaha berdiri namun jatuh di dekat ranjang renata yang sakit menutup mata tubuhnya menggigil.
Teko berlari kesana kemari panik ketika melihat andre jatuh. Tubuhnya yang kecil tak bisa membantu mereka seketika ia teringat nevada anjing pintar yang pandai membantu manusia.
Berlari melompat ke jendela lalu berteriak di dekat pintu rumah pak wanto.
"Nevada keluarlah aku membutuhkanmu majikanku sakit"
Pintu terbuka nevada yang merasa iba langsung mengikuti teko berlari ke dalam rumah melewati jendela.
__ADS_1
Membantu mengangkat tubuh andre lalu duduk di atas kursi roda. Kemudian menggonggong memberikan isyarat.
"Terima kasih anjing yang baik. Apakah kucingku yang membawamu ke sini" menganggukkan kepala dua kali.
Andre mendorong kursi rodanya tiba di sebuah ruangan kecil di sebelah kamar yang penuh dengan stok makanan ringan dan obat-obatan. Membawa satu obat penurun panas. Lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Nevada membuka lemari es menggigit buah jeruk di berikan pada renata yang sudah membuka mata.
"Anjing siapa ini dia memperhatikanku" ujar renata tersenyum dengan wajahnya yang terlihat pucat.
"Mungkin pemiliknya berada di sekitar rumah kita. Bagaimana kondisi tubuhmu sudah membaik" sahut andre sambil mengupas buah jeruk.
"Ya lumayan terasa sedikit ringan" mengunyah buah jeruk yang sedikit asam hingga mengkerutkan kedua alis dan matanya.
"Syukurlah dia kembali membaik. Membuatku panik saja. Terima kasih atas bantuanmu"
"Sama-sama apakah kamu tak ingin kembali ke rumah majikanku"
"Kalau begitu aku pulang saja datanglah ke rumah jika memerlukan pertolongan" ujar nevada sambil berjalan lalu melompat ke jendela.
Keesokan harinya teko yang jarang ke luar rumah jalan-jalan mengelilingi perumahan. Terlihat beberapa ibu-ibu yang menggunakan daster bunga-bunga mengayunkan mulutnya hingga terlihat seperti bebek. Rupanya sedang asyik membicarakan orang lain.
"Aku sih sebel sama renata tubuhnya gemuk mirip badut ancol" ujar perempuan cantik bertubuh langsing.
"Ya makannya aku selalu membuang wajah saat bertemu dengannya."
"Bu. Sudahlah tak perlu sibuk mengurusi hidup orang kita tidak tahu semua tentang mereka. Bisa saja bukan sombong tetapi memang tak suka bergaul" ujar perempuan berkacamata.
"Eh perlu kalian ketahui pak andre tuh sakit jiwa aku pernah lihat dia masuk ke ruang psikiater." Perempuan bertubuh kecil semakin geram karena salah satu temannya membela mereka.
__ADS_1
"Nah ibu ini kurang pengetahuan ya. Bukan berarti ada orang berobat ke psikiater itu gila. Aku saja pernah datang sekedar konsultasi karena stress. Suamiku bekerja menjadi pelayaran itu tidak mudah untukku menghadapi semua serba sendiri" ujar perempuan berkacamata.
"Dengarkan baik-baik bu setahu aku kalau orang sakit fisik berat biasanya akan membutuhkan psikiater di berikan obat anti depresan untuk menenangkan"
"Oh begitu ya aku baru tahu" sahut perempuan berdaster.
"Pusing sekali aku mendengar ibu-ibu ini. Lebih baik pak andre tahu dengan kondisi kejiwaanya yang tak stabil lalu ke dokter. Nah, kalian ini sudah tahu gila tapi enggan datang konsultasi ke dokter." Ujar teko menggelengkan kepala.
Tiba-tiba teko di gendong lalu mengecupnya. Teko yang kesal menjadi salah tingkah.
"Kalian cantik juga ayo kecup lagi" bergumam dalam hatinya.
"Mending kita bahas artis saja. Lagi pula siapa mereka. Bergaul saja tidak pernah bukankah kita yang salah mencari-cari kekurangan" sambil berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah.
"Baru sadarkan bu kalau mengurusi hidup orang itu tidak penting termasuk artis. Aku tak mau ikut-ikutan takut kebawa mati mereka akan menuntutku di akhirat nanti. Lebih baik nikmat di akhirat" ujar perempuan berkacamata berpamitan pulang ke rumah. Semua temannya menatap sinis.
Teko kembali melanjutkan perjalanan terlihat pria menggunakan peci datang mendekat kemudian memberikan satu potong kue brownies.
Pria bertato mengajaknya berbicara mengucapkan banyak terima kasih pada pria yang menggunakan peci. Akhirnya ia bisa bertaubat setelah memperlakukan isterinya dengan kasar.
"Pulanglah ke rumah isterimu besok datang lagi ke rumahku. Ingat perlakukan isterimu baik-baik." Ujar pria yang menggunakan peci.
"Terima kasih pak atas masukannya selama ini. Aku merasa bersalah tanganku ini di gunakan untuk memukul isteri dan ucapan yang menyakiti. Apa yang akan terjadi di akhirat nanti" mereka saling merangkul menepuk bahu pria bertato.
"Sudah lupakan. Menata hidupmu dari sekarang. Selalu ingat dosa ucapkan yang baik-baik jangan menyinggung hatinya" pria bertato mengangguk lalu pamit pulang menggunakan kendaraan roda dua.
"Pria bertubuh krayon itu menyesali perbuatannya. Aku tak pernah memukul isteri meskipun menyebalkan." Lalu berjalan berlari masuk ke dalam rumah.
"Aku pulang" ujar teko walaupun yang terdengar hanya suara mengeong. Andre menangis duduk di dekat taman sedikit mengeluh karena fisiknya membuat renata repot.
__ADS_1
"Maafkan aku tuhan bukan tak bersyukur. Kasihan renata merawatku yang tak sempurna bahkan tak bisa berjalan sama sekali" teko merasa iba lalu mengelus tangannya untuk menghibur pria itu.
Bersambung...