Om Kucing

Om Kucing
Bab 19 Kandang Monyet


__ADS_3

Setelah ia berusaha pergi dari rumah kekasihnya yang membuat hatinya hancur. Teko istirahat di atas kandang anjing, di dalam tumpukkan barang bekas. Anjing berwarna cokelat pekat memanggilnya untuk turun membuka kandang.


"Bangunlah kucing bukakan kandang ini, aku tak tahan bersama pria jahat itu. Yang membayarku dengan sedikit makanan. Padahal aku menjaga tokonya." Keluh anjing.


"Aku masih mengantuk biarkan tubuhku istirahat, itu salahmu kenapa tak menggigitnya padahal taring gigimu tajam." Ledek teko.


"Ini gigi palsu, aku di pukul seorang perampok saat itu menolong majikan. Kayu yang kokoh mengenai gigiku hingga tak tersisa."


"Malang sekali nasibmu, kalau begitu tak ada yang di harapkan dari anjing tanpa gigi. Ia harus mencari anjing lain."


"Buka kandang ini cepatlah, dasar pemalas." Anjing cokelat menggerakan kandang hingga jatuh terbalik ke samping.


Teko membuka kandanganya lalu tubuhnya terpental, sekali tendangan. "Kucing ini membuatku kesal" Tiba-tiba datang segerombolan monyet yang di masukkan ke dalam kandang.


"Hai yang disana salam kenal, aku peliharaan baru. Dan, siapa namamu anjing." Ujar monyet yang terkurung di dalam kandang besar bersama teman-temannya.


"Namaku momo, kalian dari kebun binatang mana." Ujar anjing sambil membawa gigi palsunya yang jatuh di dalam kandang.


"Dari hutan mereka memburu, lalu mengadopsi kita. Apa yang ingin kamu tanyakan." Namaku cici, caca, cece, cucu, caci, ceco, ci.."


"Sudah sudah aku tak bertanya namamu, salam kenal" memotong percakapan lalu makan di dalam mangkuk besar berisi daging ayam.


Teko berjalan sempoyongan menghampiri monyet, "Kalian monyet yang lucu hahaha" teko tertawa geli. Lalu duduk di atas kandang monyet.


"Apa yang kamu tertawakan kucing orange, apakah kita terlihat seperti sedang melawak." Sewot salah satu monyet.


"Wajah kalian lucu, walaupun terlihat marah."


"Jangan dengarkan kucing itu dia mengidap stress akut" Ujar momo sambil menjilat minuman.


Kunci terbuka semua monyet keluar dari kandang, "Akhirnya kita bebas dari penjara" Ujar salah satu monyet melompat lalu mencolek teko yang tertidur pulas.


"Kalian keluar dengan mudah, pergi meninggalkan tempat ini?" Teko yang terbaring tidur membuka matanya.


"Aku tak mau pergi, di kota banyak manusia yang jahat. Kita akan di jadikan badut." Keluh salah satu monyet yang sedang bercermin di meja. Sambil mengedipkan mata seakan ia perempuan tercantik di dunia.

__ADS_1


"Aku tak mau tinggal di tempat kotor seperti ini, lihat di pojok sana banyak kotoran anjing." Ujar teko kepada semua monyet.


"Jangan meledekku kucing gemuk, pergilah aku tak akan merasa kehilangan." Teriak momo kesal lalu melemparkan buah mangga ke wajahnya.


Teko yang merasa kesal mencakar ekornya hingga rontok bagian ujungnya, "Jangan bermain-main dengan kucing, taringku lebih tajam dari gigi palsumu" Lalu melompat ke atas kandang monyet.


Seekor monyet mendekati teko yang sedang menggaruk tubuhnya yang gatal, monyet kecil membantu mencari kutu di tubuhnya hingga kepala. Lalu mengunyah kutu tersebut sambil menepuknya supaya diam tak banyak bergerak.


"Rasanya asin manis atau?" Ujar tekor bertanya-tanya.


"Rasanya seperti kuaci kamu ingin mencicipi" menyodorkan tangan berisi kutu yang sedang melompat."


"Sungguh gila aku bukan pemakan kutu, singkirkan tanganmu." Salah satu monyet berjenis kelamin pria tertawa nyengir memperhatikan teko dan temannya yang tengah asyik mengunyah.


Momo anjing cokelat itu berlari melompat ke atas genteng melambaikan tangan, "Aku pergi selamat tinggal" Berjalan selangkah demi selangkah.


Teko langsung bangun lalu berlari melompat mengikuti momo, "Tunggu aku akan pergi bersamamu, biarkan monyet itu menjadi mainan manusia. Aku tak mau di permainkan." Sambil tersenyum ke semua monyet yang berada di bawah. Mereka melambaikan tangan.


***


Kemudian perempuan itu berjalan mengelilingi area rumah, terlihat teko berjalan di atap. "Puss kemari cepat turun"


"Aku tak mau kembali padamu perempuan nakal, carilah pria lain. Kita putus" Sahut teko melompat ke belakang atap rumah tetangganya lalu berlari di jalan setapak.


"Momo kita akan kemana, mampirlah sebentar mencari minuman." Teriak teko menahan haus.


"Kucing cerewet kenapa kamu tak mencari jalan sendiri, mengikutiku yang tak tahu arah."


"Aku tahu hidungmu lebih tajam dari pada hidungku, cepatlah. tunjukkan jalan terbaik untuk beristirahat."


Terlihat kolam berukuran besar di seberang rumah, mereka melompat lalu minum air di kolam itu.


"Aku suka airnya segar" Ujar teko sambil tersenyum.


"Ya benar sangat segar membuatku semangat berjalan cukup jauh" Ketika sudut mata mereka menoleh ke samping, beberapa kambing membuang kotoran di kolam tersebut. Seketika merasa mual.

__ADS_1


"Tidak... Aku menelan minuman yang menjijikan dari bokong kambing." Teriak teko sambil menggigit kakinya.


"He kambing jelek bisakah kalian permisi dulu, kita sedang menikmati minuman di kolam ini." Teriak momo.


"Ini tempatku kalian siapa??? Aku sudah bertahun-tahun membuang kotoran di sini." Lalu pergi dengan tatapan mata yang sedikit mengejek.


Mereka melanjutkan perjalanan melewati sawah dan kebun, seorang perempuan tua sedang menggoreng singkong di gubuk kecil. Sambil menggerutu dengan temannya.


"Kita akan kehilangan pekerjaan orang kaya itu akan membeli lahan ini untuk di jadikan perumahan" Teriak perempuan yang sedang menanam padi.


"Jangan terlalu di pikirkan kita nikmati saja makanan ini, sudah matang cepatlah kemari." Seekor anjing duduk di depan gubuknya meminta singkong yang ia goreng.


"Aku lapar berikan satu singkong untukku" Ujar momo menekukkan wajahnya seakan terlihat menyedihkan. Perempuan itu memberikan singkong yang sudah dingin padanya.


Teko yang sembunyi di bawah gubuk tak pernah mencicipi singkong, ia hanya melihat momo yang sangat menikmati makanan dengan senang hati.


"Rasanya enak?? berikan padaku satu saja" Bisik teko.


Momo melemparkan singkong padanya lalu ia mengunyahnya, "Enak sekali, berikan lagi padaku." Momo memberikan singkong kedua kalinya hingga tak tersisa.


Mereka melanjutkan perjalanan terlihat beberapa bebek berjalan berputar, "Kalian tidak pusing berputar-putar di sawah ini" Teriak teko.


"Urus saja dirimu kucing" Sahut bebek sambil berjalan mengepakkan sayapnya.


"Teko kita akan istirahat di mobil rongsok itu" Momo melompat dan duduk di dalam mobil yang tak memiliki pintu.


"Aku lelah seperti olahraga berat, perutku terasa berayun-ayun."


"Kamu ini banyak mengeluh, aku bekerja di tempat itu selama 24 jam hanya di berikan sedikit daging. Terkadang sisa tulang. Tanpa mengenal lelah, saat sakit dia memaksaku bekerja tak bisa menolak. Alasanku pergi hingga berada di sini. Jangan berkeluh kesah, kurasa kamu kucing yang sangat di sayang oleh majikan. Terlihat dari kalungmu yang mahal, bulu-bulumu wangi." Ujar momo.


"Tetapi aku tak bahagia dia perempuan nakal yang tak setia" Sahut teko sambil termenung.


"Kurasa jawabanmu kacau, lebih baik aku tidur saja."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2