Om Kucing

Om Kucing
Bab 22 Makanan Jepang


__ADS_3

Teko yang malang melanjutkan perjalanannya mengelilingi setiap perumahan, ku rasa mereka tidak akan kembali apalagi sudah memasang plang jual rumah. Ku harap ada seorang perempuan cantik yang mengadopsiku.


Ia melompat masuk ke dalam gerobak dorong lalu menutupnya, seorang pedagang gorengan mendorong gerobaknya mengelilingi perumahan. Teko yang tertidur di dalam gerobak merasa baik-baik saja.


Pedagang gorengan itu menepi di pinggir jalan seorang perempuan melambaikan tangan sambil berlari, "Pak bakwan dan gehunya 10 ribu saja" ia mengangguk membawa plastik lalu membawa beberapa gorengan dan cabai rawit.


Tiba-tiba saja tercium bau tak sedap membuat perempuan itu menjauh dari gerobak lalu duduk di tembok pendek, "Bau apa ini" ujar penjual gorengan sambil mengendus ke bawah. "Tak ada kotoran di sekitar sini apa perasaanku saja ya"


Ia memberikan sekantung gorengan pada ibu itu yang sedang duduk, "terima kasih pak" membayarnya lalu pergi.


Beberapa anak sekolah berlari membeli gorengan sekitar 10 orang yang memesan bakwan dan lontong, penjual gorengan memasukkan adonan lalu mengangkat dan menatanya di atas wajan yang penuh terdendam minyak panas.


"Tunggu ya. Sebentar lagi juga matang kalian jam segini kok sudah pulang" ujar penjual gorengan sambil menggoreng makanan.


"Gurunya kena kasus pak, memukul salah satu murid hingga cedera. Jadi kita di pulangkan saja" sahut salah satu anak sekolah berjenis kelamin pria berdiri di sampingnya sambil melihat gorengan.


"Bisa-bisanya ya ringan tangan pada muridnya sendiri. Semoga saja masalahnya cepat selesai ya nak"


"Mudah-mudahan" ia tersenyum.


Setelah gorengan itu matang pedagang yang berwajah hitam manis membungkus 5 kantung plastik di berikan pada mereka yang sudah cukup lama menunggu.


Bruttt...


Suara kentut terdengar nyaring dan berisik pedagang itu terkejut hingga melemparkan lapnya ke dalam wajan.


"Suara apa pak itu kok bau ya" ujar salah satu anak sekolah sambil membungkuk lalu jongkok mencari sumber suara yang terus mengeluarkan bau tak sedap.


"Meooong..."


Teko mengeluarkan kepalanya lalu melompat ke bawah, "Ternyata kamu yang mengeluarkan angin ****** beliung" Ia menyiram teko dengan air beberapa anak sekolah berusaha menangkapnya.


Pedagang yang kesal mencium bau pesing di dalam gerobaknya langsung pergi dengan wajah yang kusut.


"Aku lupa tak mencuri gorengan dulu, perutku mulai berteriak. Lapar"


Teko berjalan melompat ke atas pohon jambu air, lalu merayap meraih jambu yang jatuh. Ia langsung melompat ke bawah, mengunyah buah berwarna merah itu.

__ADS_1


Beberapa gerombolan kelinci keluar dari kandangnya lalu menggigit ekornya. "Hentikan jangan menggangguku apa yang kalian lakukan" teko yang kesakitan membiarkan separuh jambunya lalu berlari keluar taman berjalan perlahan mencari makan.


Ia menyebrang jalan bersama beberapa orang lalu tiba di depan pintu masuk mall, karena merasa tak mudah masuk begitu saja ia mencari akal. Seorang ibu muda membawa tas besar teko masuk ke dalam, lalu perempuan itu kembali membawa tas setelah membeli es krim untuk anaknya.


Tas berisi pakaian baru yang masih terbungkus plastik, teko menarik kepalanya ke atas setengah wajahnya terlihat sambil menoleh sekelilingnya. Ia berada di tempat makan cukup ramai di kelilingi banyak orang.


"Kita makan dulu ya" ujar perempuan itu pada anaknya sambil menaruh tasnya di bawah meja. Teko keluar perlahan lalu berjalan masuk ke dalam resto makanan jepang.


Wajahnya tersenyum melihat sushi, ramen dan miso soup yang berada di meja. Ia menyelinap masuk ke dalam dapur penuh kehati-hatian sambil menoleh ke belakang. Seorang pelayan sedang sibuk berbicara dengan pembeli. Koki yang tak menoleh ke bawah tengah asyik video call bersama seorang perempuan.


Teko naik ke atas meja lalu menjilat miso soup lanjut dengan dua sushi, terakhir ia menyantap mie ramen hingga tak tersisa. "Sungguh luar biasa nikmatnya makanan ini mengingatkanku pada nenek"


Melompat ke bawah lalu meninggalkan tempat makan itu, seorang pelayan yang mencari pesanan pembeli merasa heran sushi dan ramen habis dan miso soup yang tersisa sedikit saja. Ia langsung menegur koki.


"Kamu belum makan siang ya pantas saja habis. Lalu aku harus memberikan apa kepada pembeli itu, mereka sudah menunggu lama pesanannya." Keluh pelayan berutubuh kecil wajahnya panik. Koki menoleh ke belakang.


"Aku tak menyentuh makanan itu kok bisa habis ya, bahkan aku berdiri di sini dari tadi"


Teko yang sudah kenyang menyantap makanan jepang kesukaannya berjalan masuk ke dalam lift bersama seorang pria berkepala botak. Ia mengeluarkan ponselnya lalu merekam aktifitas kucing orange itu selama 10 menit. Mengikutinya dari belakang.


"Lihat teman ini kucing orange yang tersesat di dalam mall, tubuhnya gemuk wajahnya tak ramah. Ia mencari tempat untuk tidur sepertinya begitu" Pria itu melakukan live.


Ia berada di depan perempuan yang menggunakan rok mini, tepat di bagian tengah. "Aku seperti mengenal corak warna ini" ketika ia mengangkat kepalanya ke atas. Osin sedang makan bersama dengan pria tampan bermata sipit.


Matanya berkaca-kaca lalu berjalan mundur, ia menatap mereka yang terlihat romantis.


"Kenapa kamu berbuat ini padaku apakah aku kurang tampan" air matanya jatuh tak terbendung.


"Aku mencintaimu osin. Kapan kamu siap menikah denganku, ku harap segera mendapatkan jawaban darimu" sambil mengelus pipinya.


Teko mencakar kakinya lalu pergi, iwata yang terkejut dan merasakan perih langsung mengangkat kakinya ke atas sofa melihat cakaran sepanjang 10 senti meter yang cukup dalam. Hingga mengeluarkan darah.


"Kenapa dengan kakimu" osin menoleh ke bawah meja tak ada binatang satupun berada di sana. "Tak masuk akal kakimu tiba-tiba terluka" ia langsung menarik tisu dan mengusap lukanya. Iwata menatap wajahnya lalu menyelipkan rambut osin ke belakang telinga.


"Kamu berselingkuh osin. Kenapa penampilanmu berubah tak seperti dulu lagi. Ku rasa aku" seorang penjaga keamanan menarik ujung lehernya lalu di masukkan ke dalam keranjang yang tertutup.


"Aku sudah menemukan kucing di sini. Bisa saja dia yang menyantap makanan" teriak penjaga keamanan.

__ADS_1


"Nah benar pak pasti ulah kucing ini, tak mungkin ada setan masuk ke dalam mall menyantap makanan" sahut pelayan.


Penjaga keamanan yang bertubuh tinggi besar mengangkat keranjang berjalan masuk ke dalam lift. Lalu teko mengeluarkan angin cukup kencang hingga semua yang berada di lift berteriak "Bau"


"Cepat keluarkan kucing itu" ujar seorang perempuan berambut pendek. "Sebentar lagi mba sabar ya" sahut penjaga sambil menahan napas.


Ia melemparkan teko ke luar lalu masuk ke dalam mall, "Semua orang tak suka dengan bau kentutku padahal mereka semua membuang angin lebih bau dariku." Ledek teko sambil berjalan perlahan. Ia menoleh ke seberang gapura yang bertuliskan perumahan khan.


Setelah melewati beberapa toko ia melihat jembatan lalu melangkahkan kakinya ke atas. Seorang pengemis meminta-minta padanya, membuatnya aneh. "Apa yang akan aku berikan padamu pikirkan baik-baik aku hanya kucing ha" sambil menoleh ke depan melanjutkan langkah kakinya.


Beberapa orang menyapanya ia mengangkat kepala seolah-olah kucing yang terlihat gagah dan tampan, "Kucing itu menggemaskan sekali bolehkah aku membawanya pulang" ujar seorang anak perempuan berwajah oriental pada ayahnya yang sedang bergandengan tangan.


"Anak itu mirip dengan anakku, andai saja penjaga itu tak melemparkanku ke luar. Aku akan ikut bersamanya walaupun hatiku hancur berkeping-keping. Tapi aku tak begitu mencintaimu osin." Melanjutkan perjalanan.


***


20 menit berlalu ia masuk ke dalam rumah nomor 16 pemilik rumah tersebut sangat cantik, berhidung mancung, berkulit sawo matang dan bermata besar. Ia membawa teko yang duduk termenung.


"Kucing siapa ini ku rasa tak ada seseorang yang memilikinya tak ada kalung di lehernya"


Teko yang nampak bahagia di gendong perempuan cantik itu mengelus dagunya "Duduk di sini ya aku punya makanan enak untukmu" berjalan ke dapur lalu membawa piring lalu menyodorkannya pada teko.


"Ini samosa kamu pasti suka aku yang membuatnya sendiri, ayo makan." Teko tak pernah mencicipi makanan india seumur hidupnya merasa ragu-ragu menyantap makanan itu. Ia langsung mencicipi lalu menelannya.


"Ternyata makanan ini enak, aku suka makanan india. Rasanya manis seperti dirimu" menatap malu padahal ia seekor kucing.


"Aca kamu suka makanan ini baiklah aku akan membuatnya lagi besok" ia berjalan duduk di ruang tengah menonton televisi.


Teko mendekatinya lalu duduk di samping sambil mengelus pahanya, perempuan yang bernama katrina menonton film india yang berjudul kuch kuch hotta hai.


10 menit berlalu matanya berkaca-kaca merasakan pengalaman yang sama di masa lalu, "aku suka film ini menyentuh hati, anjali mencintai rahul tetapi bertepuk sebelah tangan. Lalu ia pergi meninggalkan sahabatnya rahul yang selama ini ia cintai, anjali yang berpenampilan seperti pria berubah menjadi anggun dan cantik. Membuatku semakin kecewa. Apakah rahul menyesal setelah mengabaikannya." Ujar katrina sambil menghapus air mata.


Teko yang tak pernah nonton film bollywood merasa tertarik dengan ceritanya, lalu ia menatap layar berbentuk segi empat yang menayangkan wajah manis dan tampan menari lalu bernyanyi. "Mengingatkanku pada osin ia berubah seperti seorang artis cantik. Tapi lebih cantik katrina yang manis" ledek teko tidur duduk di atas pahanya.


"Aku panggil namamu rahul mulai saat ini. Rahul yang gemuk dan lucu" mencubit pipinya.


"Ya terserah kamu saja. Memanggilku sayang juga boleh dengan satu syarat kecup aku."

__ADS_1


Katrina memindahkan teko masuk ke dalam kamar setelah selesai menonton film. Ia memeluk erat kucing berwarna orang itu sambil mengusapnya perlahan. Membuat teko semakin berbunga-bunga ia mengikuti katrina yang bangun dari tidur masuk ke dalam kamar mandi. Lalu seorang pria bertubuh tinggi berwajah brewok mengusirnya keluar kamar.


Bersambung...


__ADS_2