Om Kucing

Om Kucing
Bab 13 Terbakar Emosi


__ADS_3

Hendrik membawa makanan ringan ke dalam kamar lalu menaruhnya di atas meja belajar, "Kamu dimana kucing, jendela tertutup lalu kemana dia" Mainannya terinjak kaki, matanya melotot keningnya mengkerut terlihat di dalan selimut ada sesuatu yang bergerak.


"Ha aku tahu" Membuka selimut sambil tersenyum seperti setan yang ingin menakut-nakuti. "Kemari kucing, lihat mainanku rusak. Ini pasti perbuatanmu." Menarik paksa lalu menjewer kedua telinganya, pipi dan kumis. "Sakit" lalu teko mencakar tangannya anak itupun langsung menangis pergi keluar mencari ibunya.


"Rasakan jurus cakar meoong" Sambil berdiri menyilangkan kakinya. "Makanan apa itu" teko melompat ke atas meja, lalu meraih snack di dalam plastik yang terbuka.


Mengunyahnya lalu muntah membuat mulutnya terbakar, ia melompat-lompat seperti kangguru. Lalu terjatuh membuka mulutnya dan menarik lidah. "Pedas" Teriak teko mencari air.


Ia berlari melompat ke dalam aquarium kecil, lalu seekor ikan masuk ke dalam mulutnya. Posisi terjungkal. Ia berdiri lalu memuntahkannya lagi. " Makanan gila yang pernah kucoba. Anak sekecil itu menyukai makanan aneh. Bisa saja merusak kesehatannya." Keluh teko yang basah kuyup.


"Kucing itu seperti harimau, kembalikan lagi ke rumah nenek" ujar hendrik, "Karena kamu nakal padanya, ibu tahu bagaimana cara kamu memperlakukan kucing. Kucing manapun tak akan mau bermain denganmu." Sahut ibunya sambil membawa obat untuk lukanya.


Teko keluar dari aquarium perlahan ia merayap sambil menoleh ke belakang, "Sebaiknya aku pergi dari rumah ini, anak itu membuatku kesal. Walaupun ibunya secantik bidadari."


"Kucing itu ingin pergi dari rumah ini lihatlah, ambil ibu" Teriak hendrik.


Ibu muda itu langsung berlari mengejar teko kemudian membawanya ke kamar mandi, "Kamu basah dan bau anyir. Kamu apakan dia?"


"Aku tak tahu terakhir dia berada di kamarku"


Ia membersihkan tubuh teko dengan sabun mandi cair, beberapa menit kemudian di masukkan ke dalam kandang lalu di jemur di atas loteng.


"Jangan mengganggunya hendrik, ibu pergi senam dulu hari ini." Keluar rumah dengan tas olahraganya.


Anak kecil itu berlari ke atas loteng lalu menghampiri teko, membuka kandang membawanya ke ruang tamu. Tubuh teko masih menggigil kedinginan.


Tubuhnya setengah kering menggunakan hair dryer, lalu di arahkan ke mulutnya, hingga gigi dan taringnya terangkat ke atas melebar seperti seekor burung yang mengepakkan sayap.


"Aku sudah mengeringkan tubuhmu, tunggu di sini." Hendrik berjalan ke kamar ibunya sambil tersenyum manis.


"Apa lagi yang akan dia lakukan padaku, senyumanmu mencurigakan"


"Duduk" Teriak hendrik sambil menarik ekornya berusaha lari. "Untuk apa ia membawa make up perempuan, ha? Aku bukan banci" Teriak teko.

__ADS_1


"Diam jangan berisik" Wajahnya di tepuk bedak tabur, membuat teko batuk-batuk. Anak kecil itu hanya tertawa, membawa lipstik berwarna merah lalu di oleskan pada mulutnya membentuk bibir. Di lanjutkan dengan bulu mata palsu, di beri lem lalu di tempelkan di atas matanya.


"Anak tak tahu diri, menyiksaku berkali-kali. Aku akan pergi kemana meminta pertolongan polisi tak akan mendengarkanku." Bergumam dalam hatinya.


"Hahaha. Kamu terlihat sangat cantik." Lalu pergi dari rumah bermain dengan teman-temannya. Teko pasrah ia tidur terlentang di atas kursi sambil bernyanyi. Kedipan matanya bagaikan perempuan yang merayu seorang pria.


"Ibu pulang, Ha??? hendrik" Teriak ibu muda itu, sambil membawa lipstiknya yang tergeletak di atas meja ruang tamu, semua alat make up nya berantakan.


"Dimana anak nakal itu, membuatku kesal saja. Kasihan sekali kucing ini" Sambil mengelap mulutnya dan berusaha membuka bulu matanya yang lengket.


"Dia merusak lipstikku seharga 1 juta, lalu.. Aku apakan kucing ini." Menatap wajahnya.


"Tak usah khawatir asalkan kamu mengecupku berkali-kali" Sahut teko namun terdengar suara kucing mengeong.


***


Osin berjalan sendirian masuk ke dalam mall, ia memperhatikan seorang pria mirip dengan teko dari belakang dan bagian samping. Berjalan bersama perempuan dan seorang anak.


"Oo rupanya dia menikah lagi dengan perempuan lain, rasakan ini." Berjalan sedikit lalu menamparnya, "Kurang ajar" Mereka saling menatap.


"Ee. Oo maaf aku kira suamiku, sekali lagi maaf." Membungkukkan tubuhnya.


"Ada-ada saja ayo pergi sayang" Sahut pria bertubuh gemuk sambil menggandeng isterinya. "Siapa itu ayah" ujar anak kecil berambut ikal. "Aku tak tahu nak"


Osin melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam toko pakaian anak, "Baju ini cocok untuk royco dan pecin, ya dia tampan seperti aktor jepang." Seorang pria tak sengaja menyenggolnya hingga kacamatanya jatuh, "Maaf mas aku tak sengaja" Ujar osin sambil menunduk.


"Aku yang menyenggolmu, maafkan aku." Lalu mereka saling menatap, benar saja wajahnya yang mirip aktor jepang tersenyum padanya. Ia merasakan bertemu dengan iwata takanori. "Tampannya" Bergumam dalam hati.


"Perempuan ini membuat jantungku berdetak kencang" Bergumam dalam hatinya sambil tertawa.


"Kamu mencari sesuatu?" Ujar pria itu.


"Ya, sepatu untuk anakku. Permisi aku tak bisa lama-lama berbelanja." Pipinya merah merona.

__ADS_1


"Baik-baik, silahkan." Menoleh ke samping.


Osin mencari sepatu anaknya di lantai atas, kemudian mendapatkan sepasang sepatu berwarna putih. "Ini cocok untuk anakku" Lalu berjalan ke kasir.


Setelah sampai di tempat parkir ia bertegur sapa dengan pria berwajah jepang. Mobilnya berada di damping mobilnya.


"Aku lebih dulu tak apa?" Ujar osin mengemudi mobil, membelokkan setir ke kanan.


"Silahkan nona" sahut pria itu sambil mengikutinya dari belakang. Osin memperhatikan kaca spionnya, "Pria tampan itu berada di belakangku" Sambil tersenyum. "Aku suka sekali wajahnya yang mirip dengan aktor jepang favoritku" Meremas setir gemas dengan wajah imutnya.


Beberapa orang berkumpul di depan terpampang poster besar. "Welcome to indonesia iwata takanori"


Osin membuka mulutnya tak percaya bahwa aktor itu mengunjungi indonesia, "Ah tak mungkin, dia fasih berbahasa indonesia"


Setelah melewati pepohonan rindang jalanan yang sepi mobilnya tiba-tiba mogok sulit di stater, kemudian osin keluar dan membuka kap mesin. Ia mengibaskan tangannya lalu menutup hidung mesin mobil mengeluarkan asap.


"Perlu bantuan??" Ujar pria itu tepat di sampingnya.


Tak sengaja ia teriak terkejut dan gugup, menatap wajahnya dari dekat "Ya.. Kenapa kamu berada di sini." Sambil menunduk malu.


"Apartemenku di depan dan terhalang oleh mobilmu, sebaiknya mobil ini di dorong oleh petugas keamanan saja. Nampaknya jalanan sepi sekali." Sambil berjalan memanggil petugas yang saat itu duduk di pos.


"Pak tolong dorong mobil ini ya, sekarang sudah jam 5 sore. Bengkel sudah tutup bukan?" Teriak pria itu.


"Betul tuan iwata, besok pagi saja tak jauh dari apartemen ini bengkel itu berada di sebelah kiri" Menunjukkan jalan sambil menoleh ke osin.


"Iwata?? Jadi dia benar aktor jepang, oh my god. Kenapa aku beruntung sekali bertemu dengannya sedekat ini." Bergumam dalam hatinya pipinya semakin merah dan tubuhnya kaku seperti kanebo.


"Maaf nona, namamu?"


"Oh aku osin, salam kenal mas iwata" Berjabat tangan.


"Salam kenal juga, aku baru saja selesai syuting di mall twins. Tanpa pengawal, panggil aku iwata saja" Ujar iwata.

__ADS_1


Ketiga petugas keamanan mendorong mobil ke dalam apartemen, lalu menyimpannya di area parkir. Dengan senang hati iwata mengantarnya pulang menggunakan mobilnya. Osin yang sibuk mencari ponsel yang terselip di tasnya yang penuh dengan make up. "Aku ingin foto bersamamu, boleh?" ujar osin di dalam mobil. "Tentu saja, apa lagi yang kamu inginkan?"


Bersambung...


__ADS_2