Om Kucing

Om Kucing
Bab 24 Pasar Malam


__ADS_3

Malam itu katrina pergi berbelanja ke pasar karena saat malam waktu yang tepat untuk membeli sayuran yang masih segar. Karena pasar ini ramai di malam hari.


"Mba katrina" teriak salah satu pedagang yang sudah mengenalnya sebagai pelanggan setianya.


"Hai. Wah sayurannya masih segar ya aku beli wortel dan kentang masing-masing 4 kilogram." Pedagang mengangguk sambil menatap tangannya.


"Maaf ada apa dengan tanganmu. Sepertinya terlihat kebiruan" ujar pedagang sayur.


"Oh ini" menunjukkan tangannya "aku tertimpa barang yang cukup berat" sambil tersenyum sedikit kaku. Teko yang ikut berbelanja berada di dalam bagasi mobil yang terbuka. Rupanya katrina lupa menutup bagasi.


"Lama sekali aku mulai kepanasan dan sangat membosankan. Lebih baik aku jalan-jalan saja dulu." Teko melompat ke bawah lalu berlari menyebrangi jalan hampir saja tersenggol beca.


Ia masuk ke dalam selokan di antara bangunan tinggi toko di pasar, kemudian naik berjalan di bawah meja penjual ikan dan tempe. Ia duduk di bawah dekat kaki pedagang.


"Kamu lapar" ujar pedagang ikan. "Meoong" sahut teko mengelus kaki meja. Kemudian pedagang itu melemparkan satu ekor ikan mentah.


Teko yang melihat ikan hanya duduk saja tak menyantap makanan mentah itu. "Ayo makan aku sudah rugi memberikan satu ekor ikan untukmu. Tapi sudahlah anggap saja sedekah"


Pedagang itu mulai kesal melihat kucing berwarna orange yang tak menyantap ikan.


"Kamu ini kucing yang manja. Tak ada makanan kucing di sini biasakanlah makan ikan segar ini" keluh pedagang ikan sambil membawa kembali ikan yang di berikan pada teko lalu di cuci. Sambil menggerutu menyimpan kembali ikan di atas meja.


"Aku tak suka keduanya. Jangan berikan ikan mentah padaku bakar atau goreng terlebih dahulu" teko berjalan sinis meninggalkan meja.


Katrina yang bingung mencari teko entah kemana saat menaruh beberapa kantung kresek di bagasi. "Kamu kemana rahul, ah ini salahku membawanya keluar rumah." Menutup bagasi lalu masuk ke dalam mobil. Sambil mengemudi ia melihat jalanan sekitar pasar.


Teko yang malang berjalan mencari makanan yang ia sukai, terlihat pedagang kue basah berteriak. "Lima ribu dapat enam kue" banyak pembeli berkumpul membeli kue tersebut. Teko yang tertarik mencicipi risoles langsung mendekati mejanya.


Seeekor kucing pasar menepak kepalanya, "apa yang kamu lakukan di sini" ujar kucing kurus kering berwajah cekung.


"Aku meminta makanan basah itu satu aja" sahut teko berjalan ke samping. Kucing itupun mendekati teko. "Aku preman pasar di sini ingat itu. Setengah pasar ini wilayahku, kucing asing harus lapor kepadaku terlebih dahulu." Ujar kucing preman sambil menepak kepalanya.


"Lapor. Aku ingin makan risoles" teko berjalan sedikit melompat ke atas dekat tempat duduk pedagang. Kucing preman berjalan mendekat.

__ADS_1


"Laporan di terima. Ingat hanya kie basah saja hari ini kucing yang lain belum makan mereka menunggu ikan dan daging"


"Baik-baik tenang saja aku hanya beberapa menit di pasar ini. Lagi pula aku sudah punya majikan dia cantik dan kaya. Lihat saja di tempat parkir" sinis teko sambil mengunyah risoles yang ia tarik sendiri di ujung meja.


"Baguslah terlalu banyak kucing berada di pasar mengantri makanan. Hanya kue basah saja yang sepi karena mereka bosan makan camilan" kucing preman itu meninggalkan meja menyebrangi jalan lalu duduk di dekat pedagang daging.


Teko yang sudah kenyang berjalan kembali ke tempat parkir melewati gang selokan. Ketika ia sampai di sana mobil sedan berwarna silver hilang mulai panik berlari menyelusuri area parkir.


"Dimana mobil itu aku tak mau tinggal di pasar ini" keluh teko sambil berlari lalu duduk di dekat pintu masuk. "Katrina meninggalkan rahul yang tampan ini" ujar teko menyandar di tembok.


Kucing preman yang melihat dari jarak jauh mengelilingi pasar berlari mendekati teko. "Ada apa denganmu terlihat sedih bukankah sudah makan risoles" teko menggelengkan kepala.


"Ayo katakan" teko mengangkat tubuhnya lalu duduk. "Majikanku hilang" keluh teko memelas. "Kalau begitu kamu tinggal di pasar ini saja menjadi anak buahku.


"Aku tak mau tinggal di pasar" teko berjalan keluar pintu masuk pasar sambil menunduk. "Jangan pergi kucing besar. Di jalanan sana banyak preman yang lebih kasar dariku. Kamu lebih aman berada di pasar ini. Percayalah" ujar kucing preman sambil menepuk tubuh teko.


"Memangnya mereka seperti apa" kucing preman mendeham. "Mereka suka memfitnah, berkelahi, memaksamu bekerja." Teko melongo tak menyangka kucing di jalanan sejahat itu.


"Kamu akan di hajar oleh mereka hingga tak sadarkan diri. Yang lebih parah lagi bulumu akan di cukur lalu di tempel timah panas..!!! Tato itu akan abadi selamanya" teko semakin takut mendengar ucapan kucing preman.


"Dia teko kucing baru yang sudah terdaftar di pasar ini. Kalian jangan berbuat ulah harus tertib" ujar sasuke.


"Sasuke. Dia terlihat kucing yang terawat sepertinya memiliki majikan" salah satu kucing berwarna hitam bertanya sambil berjalan ke depan di kerumunan.


"Ya dia kucing yang hilang semoga saja bertemu kembali dengan majikannya" mereka semua berkata "Oh" lalu terdiam.


"Sekarang waktunya istirahat. Bubar" teriak sasuke lalu melompat ke bawah membaringkan tubuhnya di atas dus besar beralas kain perca.


***


Malam itu osin dan iwata mengantar paman vincaw ke bandara. Iwata melambaikan tangan melihat paman vincaw yang berjalan masuk ke dalam pesawat. Kedua anak osin berteriak sambil menangis "Aku akan sangat merindukanmu" ia mengelus rambut pecin lalu merangkulnya sambil tersenyum.


Satu jam berlalu iwata dan osin menuju jalan pulang, sementara pecin dan royco tertidur di jok belakang. "Apakah kamu akan mencari rumah baru untuk tempat tinggal kalian" osin mengangguk lalu tersenyum sambil menghapus air mata. Iwata mengelus rambutnya "Jangan menangis pamanmu akan baik-baik saja dan aku tak akan pulang ke jepang visaku di perpanjang"

__ADS_1


"Senang mendengarnya. Aku belum tahu mencari rumah di mana"


"Rupanya aku telat membantu pamanmu. Bagaimana kalau aku tambahkan uang untuk membeli rumah" sambil mengelus tangan osin.


"Tak perlu iwata. Harga 1 miliar sudah cukup untuk kita. Fasilitas ada penjaga keamanan dan perumahan yang ramah lingkungan" sahut osin membalas elusan tangannya.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, jangan menyimpan masalah sendirian aku akan membantumu" osin menganggukkan kepala.


Akhirnya mereka tiba di depan rumah paman vincaw yang sudah di pasang plang. Kemudian mereka turun dari mobil. Iwata mengangkat kedua anaknya satu persatu.


"Terima kasih iwata" osin merangkulnya dari belakang kemudian ia membalikkan tubuhnya mengecup osin. Sambil berjalan duduk di ruang tengah.


"Lebih baik kita cepat menikah aku akan meninggalkan pekerjaanku sebagai artis. Bisnisku sudah cukup banyak menghasilkan uang aku tak perlu membeli rumah. Rumahku di jepang cukup luas untuk kita berempat" iwata tersenyum manis.


"Aku butuh waktu untuk memikirkannya mungkin selama setahun" osin tertawa tipis.


"Sangat lama. Aku akan menunggumu sampai siap menikah denganku" iwata tampak skeptis apakah ada pria lain yang membuatnya ragu.


Mereka duduk berduaan di ruang tamu merencanakan pindah rumah dan menjual kedua mobil pamannya yang di berikan pada osin yang cukup untuk membeli ruko seharga 1 miliar.


"Aku akan menawarkan mobilmu pada temanku di indonesia. Rencanamu bagus membeli ruko untuk di sewakan" ujar iwata.


"Pamanku terlalu baik bahkan biaya kuliahku saat itu di bebankan padanya saat kedua orang tuaku meninggalkan indonesia dan menetap di jepang."


"Maafkan aku telah membuatmu sedih osin, apakah lebih baik menemui kedua orang tuamu di sana."


"Ya. Sebelum menikah"


"Osin" ujar iwata sambil menggeser tubuhnya. Ia menatap wajah lalu mengecup bibir manisnya.


Satu jam berlalu iwata sudah meninggalkan rumahnya, osin yang gugup sulit mengendalikan jantungnya yang terus gemetaran.


Kecupan panasnya yang membuatnya melayang, iwata yang sedang mengemudi di jalan tersenyum sambil meremas setir mobil. "Aku tak sabar menikahinya"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2