
Pagi hari teko terbaring lemas di trotoar di bawah terik matahari, dora yang sedang menjilat tubuhnya menoleh ke atas genteng rumah.
"Teko lihat kucing itu dia memperhatikan kita" kucing tanpa bulu yang berjemur di atas genteng lalu tersenyum memamerkan semua giginya.
"Pemilik kucing itu sangat menakutkan mencukur semua bulunya" ujar dora mendekati teko.
"Mungkin pemiliknya alergi bulu kecuali bulu ketiak" sahut teko sambil nyengir.
Kemudian kucing tanpa bulu itu melompat berjalan mendekati mereka yang berada di depan rumahnya.
"Hai kucing kampung" ujar kucing tak berbulu.
"Hai juga kenalkan aku dora" sahut dora. "Nama yang bagus" berjabat tangan.
"Kenapa tubuhmu tak ada bulu terlihat mengkerut dan lembek. Aku tak tega melihatmu pastinya pemilik kucing ini seorang psikopat" sinis teko sambil menggaruk leher.
"Jangan sembarangan aku ini kucing mahal ras sphynx dari negara kanada seharga 36 juta. Kalian hanya kucing kampung yang malang hehehe" menahan tawa.
"Kalau aku kucing kampung lalu di mana kampungku hingga saat ini aku tak tahu kampungku di mana" sahut dora menggaruk kepalanya merasa bingung.
"Sombong sekali kucing ini. Ayo dora kita pergi" teko mengangkat tubuhnya lalu berjalan menoleh sinis pada kucing itu.
Ketika melangkahkan kakinya beberapa meter seorang perempuan cantik bermata biru dan berambut pirang membawa mereka masuk ke dalam rumah sambil memanggil kucing tak berbulu itu.
Teko yang merasakan hangat berada di pelukannya tersenyum nyengir. "Cantik sekali perempuan ini aku suka matanya yang biru. Apakah kamu dari amerika" ujar teko menatap wajahnya dari bawah.
Perempuan itu menaruh teko di dekat kolam renang lalu mengelusnya sambil memberikan beberapa makanan kucing. Hanya dora saja yang menyantap makanan tersebut.
"Aku pergi dulu kalian jangan nakal ya" ia pergi dari rumah menggunakan mobil listrik.
Kucing tak berbulu itu melihatnya pergi di kaca jendela lalu berjalan kembali ke ruang makan. Di bawah meja teko tertidur pulas tak menghiraukannya.
__ADS_1
"Kucing kampung pemalas bangunlah bermain bola denganku" ujar kucing sphynx.
"Biarkan kucing gemuk itu dia memang pemalas. Bermain saja denganku" dora mendekatinya.
"Namaku kajol" berjalan perlahan "Rupanya kamu kucing perempuan" ujar dora.
"Jelas saja dia perempuan tak ada biji seperti kita. Satu lagi namamu kajol tetapi berasal dari kanada membuatku bingung" Sahut teko yang sedikit membuka matanya.
"Aku tak memperhatikan" dora menendang bola pada teko yang sedang terbaring melingkar.
"Jangan menggangguku kucing bodoh kalian bermain saja di luar sana" kajol menginjak ekornya. Teko semakin marah lalu berdiri berjalan ke ruang tamu. "Kucing gemuk banyak berbicara" teriak kajol.
Dora bermain bola dengannya mengelilingi semua ruangan, hingga bawah ranjang. "Tendanganmu lemah dora ayo tunjukkan kekuatan kakimu" kajol menunggunya di tengah pintu kamar. Lalu bola itupun terbang jatuh di atas meja. Dora segera melompat lalu menendangnya.
Beberapa menit kemudian teko berlari ke luar di mana ruangan besar itu terdapat kolam renang kedalaman 3 meter. Teko berjalan perlahan lalu duduk di pinggir kolam. Membayangkan osin dan anak-anaknya saat mereka berlibur bermain bersama di kolam renang.
"Osin aku merindukanmu tetapi sulit melupakan mantan yang cantik juga anak-anakku apakah kalian baik-baik saja" gumamnya sambil berjalan perlahan mengelilingi kolam.
Teko yang panik tenggelam ke dasar kolam seakan pasrah "Aku akan mati" berguman dalam hatinya sambil menatap ke atas tubuhnya jatuh ke dasar kolam. Tiba-tiba ia mengayuh kakinya lalu naik ke permukaan. Angin di duburnya keluar membentuk gelembung.
"Tolong aku" teriak teko lalu tenggelam lagi kemudian berteriak sangat kencang. Perempuan berambut pirang yang mendengar suara kucing mengeong langsung berenang mengangkat teko yang setengah tak sadarkan diri.
"Kucing manis yang malang maafkan aku tak mengunci pintu ruangan ini" menarik handuk di dekatnya lalu mengeringkan tubuhnya.
Teko membuka ke dua matanya, "Aku selamat hampir saja mati konyol" perempuan berambut pirang yang bernama celia mengecup wajahnya lalu teko merangkul lehernya. "Untung kamu datang sayang"
"Hati-hatilah kucing gemuk jangan bermain di dekat kolam renang" ujar kajol yang baru saja berlari mendekati teko. "Aku terpeleset" keluhnya.
"Seandainya celia tak pulang kamu akan mati" teko menoleh pada kajol "Oh perempuan cantik ini bernama celia."
Beberapa jam kemudian...
__ADS_1
Teko berlari ke dalam kamar bulunya sudah kering dan kembali bersemangat. Ia melihat celia yang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah bersama teman-temannya.
"Celia kucing kampung ini milikmu. Lucu sekali kalungnya juga cocok untuknya" ujar perempuan berkacamata rambutnya sepundak.
"Dia kucing yang lucu aku menemukannya di depan rumah. Satu lagi kucing berponi menggemaskan sekali lihat dia mengintip di balik pintu" semua temannya langsung berjalan membawa dora meremas bulunya yang tebal.
"Lalu di mana kucing mahalmu" sambil berjalan keluar kamar. "Dia sedang tidur di bawah ranjang" mereka tertawa melihat kajol bersembunyi di kamarnya.
"Kucing ini takut pada kita biasanya mereka kurang berinteraksi dengan manusia" ujar perempuan berkacamata.
Teko tertidur di paha celia yang sedang duduk di dekat meja, mengelus teko sambil mengetik. Sementara dora di perlakukan layaknya boneka oleh semua teman celia.
***
Satu bulan kemudian...
Teko jalan-jalan sendirian menyebrang lalu melihat toko kue basah yang ramai pengunjung, pria yang saat itu membawanya ke dalam rumah terlihat tersenyum bahagia bersama isterinya yang menggunakan kursi roda. Teko merasa tenang walaupun ia sedih mengetahui umurnya takkan lama di dunia ini.
Kemudian melanjutkan perjalanannya ke dalam rumah kecil yang menjual gorengan. Ia duduk di bawah gerobak lalu memperhatikan beberapa orang yang memesan makanan.
"Kelihatannya usahamu lancar ya" ujar pria beruban pada pedagang gorengan yang menggunakan peci.
"Alhamdulillah. Sejauh ini gorengan habis tak tersisa ya lumayan untuk biaya sekolah anak" sahut pedagang gorengan tersenyum sambil memberikan satu kantung plastik.
Kucing berwarna orange yang sedang mendengarkan ucapan ke dua pria itu merasa tergugah hatinya, ia merasakan kesalahan di masa lalunya. Saat menghambur-hamburkan uang untuk perempuan yang sebetulnya layak di berikan pada anak dan isterinya.
Pedagang gorengan itu melihat teko di bawah gerobaknya lalu memberikan satu bakwan padanya. "Makanlah" lalu jongkok memperhatikannya.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku berhutang padamu ketika aku berubah menjadi manusia akan ku bayar satu gorengan bakwan ini" sambil mengunyah menikmatinya.
Ia kembali berdiri lalu masuk ke dalam rumah, membawa satu mangkuk air putih. Menyodorkan minuman itu pada teko. "Terima kasih minumannya. Jangan memberikan aku minuman mentah nanti perutku sakit" sambil menjilat air.
__ADS_1
Bersambung...