
Suatu ketika osin sibuk bekerja sebagai pemilik perusahaan di bidang kecantikan, ia berhasil membangun perusahaan besar hasil jerih payahnya dan iwata memberikan uang investasi sebesar 100 ribu dollar.
Karena osin tak ingin menerima uang dari iwata maka ia berpura-pura berinvestasi tanpa menginginkan keuntungan.
Setelah sibuk dengan usaha yang ia jalani akhirnya iwata mengajak osin menikah tetapi terhalang oleh paman vincaw yang sakit di negeri cina. Selama satu bulan ikut merawat pamannya hingga berangsur membaik.
Osin kembali ke indonesia bertemu dengan iwata yang menetap di sana membeli apartemen mewah. Paman vincaw merasa bahagia melihat osin sukses dan dua mobil pemberiannya menjadi modal untuk usaha.
"Aku senang melihatmu bahagia berbeda saat bersama teko wajahmu terlihat tua" tertawa tipis.
"Benarkah?? aku merasa wajahku awet muda dari dulu" sahut osin sambil merapikan pakaian.
"Iya aku tidak bohong jangan kembali lagi dengan teko andai saja ia memohon padamu."
"Masih bingung hingga saat ini. Iwata mengajakku menikah lalu bagaimana dengan teko yang entah kemana polisipun kesulitan mencarinya"
"Bisa saja dia sengaja menghilang tak mau tanggung jawab. Rumahpun hasil kalian berdua bahkan tugasmu yang lebih berat." Cerocos paman vincaw sambil berjalan ke kamar.
Jam 11 siang iwata datang ke rumah membawa beberapa kaus untuk kedua anaknya pecin dan royco. Tetapi mereka tak mau menerima bersikap acuh seolah-olah kesal. Membuat osin marah lalu menasehati.
"Jangan seperti itu om iwata memberikan kaus untuk kalian. Hargailah pemberian orang lain ya" ujar osin sambil mengusap rambut pecin
"Aku ingin bertemu ayah. Membosankan bersamanya berbeda dengan ayah." keluh pecin lalu royco mengangguk.
Iwata yang mendengar percakapan mereka masuk ke dalam kamar. Memeluk kedua anaknya. "Aku mengerti mungkin om belum sempurna setiap manusia mempunyai kelebihan. Aku tak bisa seperti ayahmu anggap saja sebagai teman" mereka membalas dengan pelukan lalu mengecup pipinya.
Mereka berempat tertawa bermain bersama di dalam kamar yang luas membuat pecin dan royco leluasa berlari kesana kemari.
"Lambat laun royco dan pecin akan terbiasa dan menganggapmu ayah" bisik osin.
__ADS_1
"Tak apa lalu kapan kita menikah" sahut iwata tertawa.
"Besok. Tapi bohong" canda osin sambil mencubit pipinya.
Beberapa saat kemudian iwata menyiapkan pernikahan dengan paman vincaw perihal biaya dan sebagainya. Minggu depan mereka akan menikah di hotel mewah. Mengundang beberapa artis jepang.
Beberapa hari kemudian...
Paman vincaw ikut bersama osin mencoba gaun mewah untuk pernikahannya nanti.
Osin mencoba gaun sebanyak empat kali lalu bercermin memutarkan tubuhnya. Ia merasa puas dengan gaun mewah itu yang bertabur permata hasil rancangan desainer.
Paman vincaw tersenyum dari balik kaca melihat osin yang memancarkan aura kebahagiaan. Kedua anaknya sibuk menyantap makanan di meja makan sambil bermain ponsel.
Beberapa wartawan datang menemui iwata bertanya tentang tanggal pernikahan dana kan menetap di mana.
Teko yang sedang duduk di depan televisi bersama renata memindahkan saluran televisi. Terpampang wajah osin mencoba gaun dan iwata mengatakan akan menikah dalam waktu dekat. Teko yang sedang duduk langsung melompat ke bawah lalu berlari melompat ke jendela duduk di atas genteng rumah kosong. Termenung di atas sambil menghapus air mata.
"Tuhan kembalikan tubuhku jangan sampai mereka menikah. Aku masih mencintai osin dan anak-anak. Kenapa dia memilih pria itu apakah karena tubuhku yang gemuk tak seperti dirinya" teko menangis mengeluarkan air mata seperti aliran air terjun.
"Ada apa kucing gemuk. Sedang patah hati" ujar cunguk berjalan mendekat lalu duduk di samping teko.
"Iya aku sedang patah hati isteriku menikah dengan pria yang lebih jelek dariku. Sungguh bodoh" ujar teko menggebu-gebu.
"Kalau begitu nasibmu sial. Masih banyak perempuan yang lebih cantik lihat kucing putih di seberang sana. Sudah lama menjanda banyak kucing yang menginginkannya. Apakah kamu tak tertarik??"
"Untukmu saja cunguk. Aku hanya menginginkan osin"
"Oh jadi nama isterimu osin seperti jepang apakah dia kucing dari jepang"
__ADS_1
"Iya dari jepang cantik, sipit, putih dan rambutnya panjang hitam berkilau." Cunguk terkejut.
"Apakah kucing dari jepang bermata sipit seperti ini" meragakan mengkerutkan matanya.
"Ya dia sangat cantik" sahut teko.
"Aku tak mengerti bagaimana seekor kucing berambut panjang. Apakah dia menggunakan wig seperti video di tiktok." Sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu tubuhnya jatuh tergulung genteng. Teko melihat ke bawah tubuhnya tertimpa genteng dan debu.
"Kamu baik-baik saja" teriak teko di atas genteng sambil berjalan perlahan ke bawah lalu masuk ke dalam pintu. Cunguk berjalan sempoyongan menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Tubuhku lemas seperti tertusuk duri" ujar cunguk ngos-ngosan.
"Jangan berlebihan bukankah kucing mempunyai tujuh nyawa" sahut teko.
Tiba-tiba menoleh ke jalan renata dan andre berjalan perlahan. Teko meninggalkan cunguk lalu berlari.
"Kucingku cepat duduk di sini" ujar andre sambil mengelus. Tetapi wajahnya pucat bibirnya kering dan tatapan mata kosong. Rupanya renata membawa andre ke rumah sakit.
Mereka masuk ke dalam mobil ambulan kucing orange itu di simpan di sisi trotoar oleh petugas. Ucapan terakhir andre berbisik padanya. "Selamat tinggal" teko menangis. Lima menit kemudian mati seketika di dalam ambulan. Renata pingsan dan situasi semakin kikuk.
Keesokan harinya teko termenung duduk di depan pintu membayangkan andre dan renata duduk berjemur saat itu mereka tertawa tersenyum bahagia tanpa beban.
Rupanya teko sangat mengaguminya. Berusaha menjadi suami yang baik seperti andre bahkan ia pria yang kuat bersabar melawan penyakit membuatnya depresi. Namun, pekerja keras.
Renata berparas cantik walaupun bertubuh gemuk setia mendampingi andre hingga akhir hayat. Bersabar merawatnya hingga tak memperdulikan dirinya sendiri. Dalam keadaan sakitpun rela merawat andre seorang diri juga membuat konten untuk menghasilkan uang. Ia juga bercerita saat pertama kali membuat konten hanya menghasilkan 300 ribu per bulan namun semangatnya menggebu-gebu setelah di tindas oleh keluarga andre.
Mengusir pria cacat itu dengan kasar, bahkan tak ingin merawat orang sakit. Menyusahkan mereka dan mengeluarkan banyak biaya untuk berobat. Teko yang mendengar curahan isi hatinya merasa ikut tertekan.
"Berbahagialah di sana andre" ujar teko setelah termenung cukup lama membayangkan mereka. Lalu berjalan kembali masuk ke rumah pak wanto. Dirinya tak habis pikir setiap orang mempunyai masalah hidup. Ia merasakan beban hidupnya sangat berat padahal banyak orang yang pandai menutupi kesulitan hidup yang terlihat baik-baik saja. Pak wanto menangis mendengar kabar tetangganya yang bernama andre. Mereka selalu bersedekah secara diam-diam uang sebesar 10 juta di terima oleh pak wanto saat itu
__ADS_1
Bersambung...