
Penyakitnya yang sudah pulih sebulan yang lalu membuat angel semangat beraktifitas, pamit pergi bekerja meninggalkan teko. Lulus kuliah di salah satu universitas terbaik di indonesia, membuka peluang menuju sukses. Bekerja keras meski mengidap penyakit serius.
Teko menari di atas meja televisi menikmati alunan lagu memancing kucing liar masuk ke dalam rumahnya, "Matikan musiknya. Mengganggu ketenangan kita saja" Teriak cunguk duduk di balik jendela.
Lalu melompat dan menendang teko hingga wajahnya menyatu dengan tembok, "Kurang ajar ini wilayahku jangan macam-macam" Cunguk dan cemong duduk di atas sofa sambil mencicipi kue pukis.
Teko tergelatak lalu bangun, ia sangat marah langkah kakinya seperti menggetarkan seisi rumah. "Komandan ini gempa, kepalaku pusing." Teriak cemong.
Cunguk di tendang hingga babak belur hanya tinggal cemong yang duduk ketakutan, "Ampun tuan, aku tak akan menganggumu lagi. kedua telinganya turun."
"Kalian.. Pergi dari rumahku, ini bukan wilayahmu. Gunakan bulu ketiak untuk membeli rumah ini dan jalanan sana. Kalau kalian ingin berkuasa."
Cunguk yang terluka melompat ke atas sofa menatap wajah teko sorot matanya penuh kebencian, lalu menarik telinganya dan menampar wajahnya berulang-ulang. Sampai ia kehilangan satu kumisnya.
"Akan ku buat kamu menderita, ingat. Kelompokku banyak, kamu hanya seekor kucing rumahan yang manja." Lalu mencakar-cakar wajahnya, akhirnya mereka saling mencakar.
Teko tak berdaya terbaring lemah tubuhnya di atas sofa, "Cemong cepat kita pergi dari rumah ini, biarkan dia menderita. Peringatan untuknya." Membalikkan tubuhnya lalu melompat ke meja melompat lagi ke jendela kaca yang terbuka. Cemong yang tertinggal sempat mencuri satu ikan di dapur lalu pergi.
"Kucing garong tak tahu diri" Sambil mengusap wajahnya yang berdarah bekas cakaran berada di mana-mana.
"Angel, aku membutuhkanmu. Lihatlah wajahku." Sambil bercermin di kaca kecil dekat televisi.
***
Royco dan pecin bermain anjing milik kakeknya yang berlari kesana kemari, mereka mengejarnya. Terlihat raut wajah tanpa beban tak memikirkan ayahnya yang pergi menghilang entah kemana.
"Paman aku akan menjual rumah dalam waktu dekat" Ujar osin yang duduk di lantai bersama pamannya yang saat itu menikmati pemandangan. di halaman lantai kedua. "Bukankah lebih baik menunggu teko kembali ke rumah" Sahut paman vincaw.
"Tak mungkin kembali kurasa dia menikah lagi dengan perempuan lain" Duduk termenung wajahnya nampak penuh beban dan kegelisahan.
"Baiklah paman akan membantumu menjual rumah itu dan tinggalah di rumahku. Lagi pula aku sudah lama menyendiri, bosan dan membutuhkan teman."
"Ku harap bisa seperti itu, royco dan pecin terlihat bahagia bersamamu. Akupun merindukan kedua orang tuaku, hanya dirimu saja yang tersisa sebagai pengganti." Memeluknya.
***
__ADS_1
"Kiko wajahmu penuh dengan cakaran, pasti kucing liar itu yang melakukannya." Osin mengobati lukanya dengan obat merah.
"Meoong"
"Ya aku tahu jawabanmu benar kucing itu yang melakukannya."
Angel menggendongnya lalu memasukkannya ke dalam kandang, "Aku akan pergi lagi kiko, kamu akan baik-baik saja berada di kandang. Kucing itu tak akan menganggumu."
Keluar pintu lalu mengeluarkan mobilnya, terdengar suara pagar tertutup.
"Aku selalu saja di tinggal dan menyendiri di rumah ini, kenapa tak mengajakku pergi bersama. Nonton di bioskop atau makan-makan" Sambil terbaring lalu mengangkat kaki bagian kanan melipatnya layaknya bos besar sedang beristirahat.
"Hahaha Aku seperti terperangkap dalam tubuh kecil ini, mulai gila."
"Hai kucing kenapa kamu selalu mengeluh, apakah ingin menjadi tikus sepertiku." Tikus kecil sudah berada di dekat kandangnya. Teko yang tertidur tiba-tiba bangun dan memegang jeruji besi kandangnya.
"Tikus yang baik bantulah aku membuka kandang ini, sungguh membuatku bosan. Berjalan-jalan mengelilingi perumahan. Ide yang bagus bukan." Sorot matanya ramah.
"Apa yang akan kamu berikan padaku? Setelah membuka kandangmu. Aku tak mau makan keju lagi, berikan kue itu untukku." Sambil menatap sinis dan membalikkan tubuhnya.
"Kalau begitu aku pergi saja" Sambil berjalan cepat lalu mengendus-endus.
"Jangan. Ambil saja kue itu, untukmu. Ayo keluarkan aku."
Tikus kecil tersenyum lebar lalu membantunya membuka kandang, kunci terbuka. "Terima kasih tikus"
Berjalan dengan gagah berani, lalu membawa kacamata kecil miliknya. Ia menggunakannya sambil bercermin di kaca besar ruangan sebelah kamar angel. Terdapat beberapa kacamata milik teko berada di dalam rak sekat.
"Aku suka gayamu kucing" Bertepuk tangan sambil mencicipi kue hingga wajahnya penuh dengan krim vanilla.
"Namaku teko siapa namamu, tikus kecil."
"Namaku bobo"
"Oo bobo, sekarang kamu sebagai bawahanku. Aku pemimpinmu. Kita akan menyerang kucing jalanan itu kamu mengenal mereka, cunguk dan cemong. Kucing liar pengganggu."
__ADS_1
"Maaf tuan teko aku tak bisa membantu, mereka akan menangkapku sebagai makanan. Sebaiknya minta bantu saja kepada anjing-anjing di perumahan ini. Mereka membenci kucing." Sahut bobo.
"Lantas aku seekor anjing. Bagaimana bisa mereka membantu seekor kucing sepertiku." Ia menepak kepala bobo sambil mencolek kue dan mencicipinya.
"Kita berikan saja beberapa daging mentah padanya, lalu membujuk mereka. Semua akan baik-baik saja tuan teko."
"Kalau begitu cepat habiskan makananmu, kita lewat jalan lorong-lorong kecil yang kamu lalui. Seperti seekor tikus."
Setelah bobo menghabiskan makanannya mereka melompat lalu mencari jalan alternatif melewati lubang-lubang kecil di atap.
Ketika masuk ke dalam lorong tubuhnya sulit dan tak bisa melewati lorong tikus, "Tuan kebanyakan makan hingga tak muat masuk ke lorong ini, padahal kucing liar itu dengan mudahnya masuk ke dalam sini." Ledek bobo.
"Jangan mengoceh cari jalan lain, tubuhku gemuk karena aku kurang bahagia."
"Bukankah gemuk itu bahagia tuan?" Sambil berjalan melewati gang.
"Karena aku stress hingga lupa menelan puluhan tikus ke dalam mulutku" Bobo berusaha berlari ketakutan, teko langsung menarik ekornya dan membuka mulutnya.
"Jangan makan aku kucing gemuk" Teriak bobo.
Teko tertawa terbahak-bahak lalu melepaskannya, "Ada yang lucu? Hampir saja kepalaku masuk ke dalam mulutmu yang bau."
"Aku tak suka makan tikus kamu ingin tahu makanan kesukaanku?"
"Apa makanan kesukaanmu?"
"Jagung bakar di oles mentega dan beberapa saus tomat, takoyaki di tabur potongan rumput laut. Masih banyak lagi." Lidahnya keluar sedikit miring membayangkan betapa nikmatnya.
"Seleramu seperti makanan manusia, saus tomat. Aku tak suka saus tomat bahkan aku lihat semua kucing liar makan tulang ikan, ayam dan kue. Tetapi tak pernah ada yang mencicipi dengan olesan saus tomat. Tak masuk akal." Bobo bingung.
"Ayo sudah lanjutkan langkah kakimu, masih jauh menuju rumah anjing?"
"Hanya tinggal beberapa rumah saja tuan, aku mengenal satu anjing di perumahan ini. Dia sudah tua, sebaiknya berbicara baik-baik dengannya."
Bersambung....
__ADS_1