
Wajahnya terlihat segar bugar dan bahagia, ia mengayuh beca sambil tersenyum. Seakan hidupnya tak ada beban, kedua kucing itu ikut dengannya duduk manis sambil mengunyah makanan ringan.
Ia berhenti di perempatan dekat gapura seorang perempuan muda membawa anaknya tertarik menggunakan beca, "Pak ini kucing ikut terus ya, lucu sekali." Teko berada di pahanya sambil memijat matanya tak berkedip melihat perempuan berwajah manis.
"Betul non mereka ini nurut sama aku, biasa kalau kucing sudah dekat dengan majikan." Tertawa tipis sambil mengayuh.
Anak kecil di sampingnya memeluk erat tubuh kucing hitam lalu mengecupnya, "Ibu aku suka kucing ini, tapi ayah membenci mereka. Katanya kucing itu pemalas tidak seperti anjing." Ujar anak kecil berambut ikal.
"Ah ayahmu itu sukanya burung saja padahal sudah banyak burung yang di pelihara olehnya, masih saja kurang ya nak." Mengangguk.
"Ah masa sih tak suka burung, kalau tak suka burung tak akan ada anakmu di dunia ini." Teko bergumam dalam hatinya sambil menahan tawa.
"Berhenti pak sudah sampai, aku turun di sini saja jalan sedikit sampai kok." Memberikan uang dan sisa kembaliannya.
"Terima kasih non" Ujar pak cecep sambil menyimpan uang ke dalam saku.
"Sama-sama pak, itu untuk makan kucing juga kasihan mereka." Teriak pelan sambil melanjutkan langkahnya.
"Kalian memang pembawa rezeki ya"
Sejak pagi hingga sore pak cecep penuh dengan penumpang membuat tukang beca lainnya iri, mereka membawa kucing liar duduk di beca tetapi kucing tersebut buang air kecil sembarangan. Berbeda dengan teko dan black yang buang air kecil di pasir.
"Dasar maen rebut penumpang saja, kita dari tadi menunggu di sini belum juga dapat penumpang." Sinis salah satu tukang beca.
"Ya sudahlah mungkin rezekinya pak cecep lagi pula penumpang tak ada yang mau naik beca kita. Bukan dia yang memaksa." Sambil membuka bungkus rokok.
Menjelang magrib pak cecep menghitung uang yang lumayan banyak dari uang tip penumpang, 2 orang preman memperhatikannya dari jauh. Niat jahatpun menarik perhatian mereka.
"Bos dari tadi pria tua itu mendapatkan uang cukup banyak, apa kita minta jatah saja sama dia sekarang." Ujar pria bertubuh besar menggunakan tato hello kitty.
"Kamu tak lihat kucing itu, lebih berharga dari pada uang yang dia dapatkan. Bukankah kamu pecinta kucing. Kita pakai mereka untuk menarik perhatian."
__ADS_1
"Di pakai untuk apa bos?" mendempetkan telinganya.
"Untuk mengemis di lampu merah" bisiknya.
"Bos sadarlah kita ini preman, sudah ambil saja kucing itu untuk mainanku di rumah. Dan, ambil semua uangnya." Berjalan tegap memasang wajahnya seram lengan kaus di lipat terlihat otot-ototnya.
"He.. Pria tua kamu ini belum pernah bayar setoran ke kita, tuh lihat warung-warung di sana rajin bayar. Berikan semua uang itu pada kita." Teriak pria berotot.
"Bisakah kalian sopan kalau berbicara dengan yang lebih tua darimu, aku tak akan memberikan uang padamu." Lalu kedua preman menarik kaus nya, tangannya segera meluncur ke wajahnya. Teko dan black melompat mencakarnya, menggigit bokong pria bertato. Wajahnya penuh darah dan celananya bolong. Membuat semua tukang beca tertawa.
Black mengeluarkan suara geram lalu menggigit kakinya yang hendak menendang pak cecep, "Sialan kucing ini seperti anjing, pergi cepat." Teriak bos preman lari terbirit-birit.
"Wah kalian kucing yang hebat membantu pak cecep yang hampir saja di hajar preman itu, untung saja kamu tak apa-apa. Berterima kasihlah pada kedua kucingmu." Ujar salah satu tukang beca.
"Mereka kucing yang baik, kucing milikku. Sambil memeluk teko dan black."
***
Malam itu pak cecep pingsan saat hendak tidur, teko yang terkejut melihatnya. Mengeong cukup keras kemudian black mengeong di luar membuat kebisingan. Seorang pria yang lewat merasa penasaran mengetuk pintu berkali-kali. Pintu itupun terbuka sendiri tak di kunci.
Teko dan black menangis sepanjang hari, ia tak menyangka pak cecep meninggal secepat itu, ia merasa kehilangan lalu memperhatikan orang yang datang silih berganti.
2 minggu berlalu teko dan black kembali ke rumah kosong lalu termenung di atas jendela, rumah pak cecep sudah di ratakan dengan tanah di beli oleh seseorang untuk membangun rumah.
"Aku merindukanmu pak, semoga tenang di alam sana" Ujar teko sambil mengusap air matanya. Black hanya mengangguk dan menyandar di samping teko.
"Kita tak ada majikan lagi, lihat beca itu akan di bawa pergi oleh tukang rongsok. Barang kenanganpun hilang." Ujar black.
"Jangan terlalu lama bersedih, bukankah setiap manusia dan binatangpun akan mati." Sahut teko sambil melompat ke bawah berjalan mengelilingi rumah.
"Benar teko akupun akan mati tapi jangan biarkan mati sebelum menikah, aku menginginkan anak dan isteri yang cantik." Black berjalan mengikuti teko.
__ADS_1
"Hanya satu isteri saja???" Sahut teko bertanya-tanya.
"Ya satu saja kalau dua isteri aku pusing, mereka akan bertengkar."
"Kalau begitu satu saja karena untuk makan saja susah, bagaimana menafkahi isterimu." Menggelengkan kepala.
"Memangnya manusia pakai nafkah segala, aku ini kucing. Isteri hanya memerlukan setor makanan saja bukan uang seperti manusia. Mereka bertengkar hanya karena uang."
"Dengarkan aku black bawalah tikus sebanyak-banyaknya, lalu berikan pada calon isterimu."
"Aku belum menemukan calon isteri, tidak ada kucing gadis di sini, aku hanya menemukan kucing nenek-nenek saja." Keluh black.
"Aku akan menjodohkamu kepada kucing perempuan tetapi dia janda. Harus kamu ketahui pemimpin kucing liar di warung nasi mantan suaminya bernama cunguk, nanti aku kenalkan pada kucing janda berbulu putih "
"Kalau begitu aku harus perawatan supaya menarik perhatiannya, betul tidak."
"Betul betul betul" Sahut teko sambil mengangguk.
"Ngomong-ngomong kepalaku pusing mengikutimu berputar-putar sebetulnya kita mencari apa di ruangan ini." Ia berhenti lalu duduk di dekat tembok.
"Aku sedang berpikir merencanakan sesuatu, kalau begitu jangan mengikutiku."
"Teko bantu aku bawakan obat sakit kepala di atas lemari, kepalaku pusing."
Teko berjalan ke kamar lalu melompat membawa obat, di berikan pada black. Ia mengunyah obat itu sambil melet lalu minum air hujan yang ada di dalam ember.
"Terima kasih teko sudah merawatku, kamu teman terbaik yang pernah aku milikki." Memeluknya.
"Ah sudahlah jangan berlebihan, aku butuh asisten. Sekarang kamu menjadi asistenku black, ingat panggil aku bos teko."
"Siap bos teko, aku akan menjalankan perintahmu. Tetapi ingat satu hal, buat perempuan itu jatuh cinta padaku hingga membuatnya termehek-mehek. Mengerti bos."
__ADS_1
"Siap mengerti, tenang saja aku akan membuat hidupmu bahagia bersamanya." Sambil memutarkan tubuhnya.
Bersambung...