One Night Love

One Night Love
Di lampu merah


__ADS_3

Zainal kembali ke rumah saat siang hari. Rita menjeputnya, tapi wajahnya terlihat kesal.


"Ayo, Pa! Kita langsung makan saja ya!" Ajak Rita pada suaminya.


Zainal pun mengangguk tanda setuju lalu mengikuti istrinya kearah meja makan.


"Gimana miting tadi pa?" Tanya Rita, melihat raut wajah suaminya yang buram, mungkin terjadi sesuatu.


"Nggak jadi Ma!!" Ucap Zainal kesal.


"Loh, kenapa?" Tanya Rita penasaran.


"Di mundurin, minggu depan!! Papa jadi kesal sekali dwngan orang itu. Seenaknya saja menunda miting yang sebelumnya sudah di sepakati. Tidak konsisten." Zainal tetap saja kesal.


"Ya, sudahlah Pa. Gimana kalau minggu depan suruh Sofia aja yang ketemuan. 'Kan 3 hari lagi Sofia pulang!" Usul Rita di terima dengan baik oleh Zainal, dia langsung menyetujui saran dari istrinya.


"Benar juga! Papa udah malas, ketemu sama orang itu, biarkan Sofia yang menghendelnya. Itung-itung buat belajar juga, nantinya dia akan menjadi pemimpin di perusahaan." Jawab Zainal menyetujui.


"Iya, Pa! Siapa tau ketemu jodohnya juga di sana. Hihihi..." Ujar Rita sambil terkikik.


******


Beberapa hari berlalu, kini Sofia telah kembali dari Singapore.


"Sof, mana punya mama? Kamu bawah 'kan?" Tanya Rita pada anaknya.


"Ada. Tapi, ganti dulu uang Sofia! Yang buat bayar pria sombong itu waktu foto!" Jawab Sofia. Kesal sekali rasanya mengingat pria 2000 dolar, julukannya.


"Bayar! Kamu bayar siapa?" Tanya Zainal yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Oh, itu. Yang buat cetak foto!" Jawab Sofia berbohong.


"Memangnya berapa harganya?" Tanya Zainal lagi.


"2000 dolar!!" Jawa Sofia dengan menaikan alisnya pada Rita, mamanya sendiri.


"Apa?" Pekik Zainal dengan Rita bersamaan.


Rita kaget reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan, mendengar jumlah yang di katakan Sofia. Rita sangat tahu pasti, itu bukan untuk membayar biaya cetak foto melainkan untuk membayar pria yang telah sudi di foto oleh Sofia.


"Kenapa mahal sekali?" Tanya Zainal tidak percaya.


"Ya, iya Pa!! Di sana itu mahal-mahal, apalagi di percetakan dengan kualitas bagus. Jadi mahallah!!" Alibi Sofia.


"Mana bisa seperti itu, memangnya sebesar apa foto yang kamu cetak?" Tanya Zainal lagi yang masih tidak percaya.


"Sebesar Papa, tapi lebih tinggi!!" Jawab Sofia menggambarkan wanita pria yang di fotonya. Sebenarnya bukan pada Zainal jawaban itu, tapi lebih pada Rita dia menjuruskan.


"Haa!! Ada-ada saja kamu. Buat apa foto sebesar itu? Berarti bisa di jadiin spanduk dong?" Ucap Zainal mengira anaknya sedang bercanda.

__ADS_1


"Boleh banget tuh, Pa! Asalkan di bayar, disuruh taruh di aspal juga Sofia kasih!" Jawab Sofia setengah meledek Rita, mamanya.


"Udah-udah, ntar mama ganti uangnya!" Jawab Rita cepat.


"Ya udalah." Zainal mengakhiri obrolan mereka. "Eh, Sof. Besok gantiin Papa miting di restoran ya." Lanjut Zainal.


"Loh, kok miting? Kenapa nggak papa aja!" Sofia menatap Zainal.


"Itu juga supaya kamu mulai belajar, mengelola perusahaan. Sebenarnya Mitingnya beberapa hari yang lalu, tapi jadwalnya di mundurin, papa jadi nggak mood ketemunya!" Jelas Zainal.


"Tapi gimana kalau Sofia gagal, mengajak mereka untuk bekerja sama?" Tanya Sofia yang meragukan dirinya sendiri.


"Kalau gagal, ya, mungkin belum rejeki kita!" Jawab Zainal santai.


"Kok, Papa gitu sih. Bukannya meyakinkan anak, malah di buat patah semangat!" Sesal Rita dengan jawaban suaminya.


"Kita itu sudah punya rejekinya masing-masing Ma. Ya, kalau bukan rejeki sekeras apapun kita berusaha pasti tidak akan dapat." Jelas Zainal, "yang penting itu, kita sudah berusaha sebisa kita!" Lanjutnya lagi.


Rita hanya mengangguk mendengarkan ucapan suaminya. Sedangkan Sofia hanya mendengarkan dengan seksama.


******


Di ditempat Dirga, dia sedang berusaha melupakan wanita satu malam yang telah memporak-poradakan hatinya. Hingga kini Dirga tak pernah lagi berhubungan dengan wanita lain. Setiap kali ingin melakukannya Dirga selalu terbayang malam bersama wanita yang kini hilang bak di telan bumi.


Fander datang keruangan Dirga, dengan membawahkan secangkir kopi ditangannya. Fander tahu, akhir-akhir ini Dirga susah untuk tidur. Bosnya ini telah jatuh dalam perangkap seorang wanita, dan wanita itu pergi tanpa jejak setelah membuat bosnya hampir gila. Itulah yang ada dalam pikiran Fander.


"Tuan, kopi!" Fander meletakan secangkir kopi di meja kerja Dirga.


"Sudahlah Tuan. Jangan di pikirkan lagi wanita itu. Masih banyak wanita yang lebih cantik darinya, lebih seksi dan lagi pula wanita itu juga tak cukup cantik. Masih cantikan Arabella." Jelas Fander, yang sesungguhnya Sofia tak bisa di bilang tidak cantik.


"Diamlah! Aku sedang bekerja." Jawab Dirga tidak merespon ucapan Fander.


Akhir-akhir ini Dirga lebih banyak diam, dia hanya berucap seadanya saja. Dirga mencoba membuang pikirannya terhadap Sofia.


"Tuan, sebentar lagi kita ada miting! Di restoran." Ucap Fander memberitahukan.


"Hm!!" Jawaban yang singkat.


Fander hanya menghembuskan nafasnya, mendengar jaqaban Dirga, yang tanpa membuka mulut tapi menimbulkan suara.


Ting


Suara pesan di handphone Dirga mengalihkan pandangannya. Dirga melihat notifikasi yang tertera nama Si cerewet.


"Fan, kita pergi sekarang!" Dirga beranjak dari duduknya ingin melangkah ke luar ruangan.


"Ke mana Tuan?" Tanya Fander, tiba-tiba saja bosnya ini mengajak pergi.


"Miting!!" Jawab Dirga cepat.

__ADS_1


"Tapi..." Fander melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Masih satu jam lagi Tuan." Lanjutnya.


"Kita pergi sekarang. Cepat!!" Dirga segera berjalan ke luar, dan segera di susul oleh Fander di belakangnya.


"Ada apa dengannya? Tiba-tiba ingin segera pergi" Batin Fander.


Fander tidak tahu saja, jika Si cerewet yang mengirimkan pesan pada Dirga tadi adalah Riana, Mamanya Dirga.


Dirga ingin menghindari obrolan dengan mamanya, karena dia sudah tahu apa yang akan mereka bicarakan nanti. Karena itu, Dirga lagsung ingin berangkat untuk miting, walaupun mereka harus menunggu sekitar 45 menit lagi jika sampai di sana.


******


"Ma, Sofia mau ke butik dong. Tolong telvon pemilik butik langganan mama!" Minta Sofia pada Rita.


"Kamu mau cari apa memangnya?" Tanya Rita.


"Baju buat kerja besok Ma! Mama tahukan, Sofia nggak nggak punya baju kerja satu pun!!" Jelas Sofia.


"Oh, Iya. Nanti mama telvon. Kamu siap-siap aja!" Pinta Rita pada anaknya.


"Sudah kok! Ini mau pergi. By..." Pamit Sofia sambil melambaikan tangan pada mamanya.


Rita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat penampilan Sofia, "kebutik dengan penampilan seperti itu. Mana percaya orang kalau dia punya uang!!" Umpat Rita pada anaknya sendiri. Pasalnya Sofia pergi hanya dengan mengenakan celana jeans selutut dengan kaos oblong sebatas paha yang kebesaran menurut Rita.


******


Sofia sedang mengendarai mobilnya sampai di lampu merah, Sofia berhenti sejenak menunggu lampu untuk berubah hijau. Tanpa Sofia sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari mobil yang lain.


"Fan, Fan, itu dia. Itu dia Fan." Ucap Dirga sambil menunjuk mobil di seberang mereka.


"Siapa Tuan?" Tanya Fander yang melihat bosnya seperti menemukan emas.


"Wanita itu!!" Jawab Dirga tidak menyangka akan melihatnya lagi. Fander mengikuti arah yang di tunjuk oleh Dirga, dan benar saja, wanita yang selama ini dia cari sedang mengendarai mobil yang sama dengan mobil yang di bawahnya malam itu.


Dengan cepat Dirga turun dari mobilnya untuk menyapa wanita yang membuat rasa penasarannya tak kunjung hilang hingga sekarang, namun mungkin belum waktunya untuk bertemu. Lampu lalu lintas itu dengan cepat berubah hijau, dan Sofia segera menancapkan gas mobilnya dan segera berlalu. Hampir saja Dirga sampai di mobil itu.


"Sial!!!" Umpat Dirga, dengan meninju angin di depannya.


"Fander, kejar mobilnya!!!" Pinta Dirga secepat kilat masuk dalam mobilnya.


.


.


.


.


Jangan lupa LIKE, COMENT and VOTEnya....

__ADS_1


Hadiahnya juga jangan lama-lama di kirim, nanti author bosan nunggunya😅


Love you all♥️


__ADS_2