
Saat keluar dari ruang UGD sofia di kagetkan dengan kehidaran wanita paruh baya yang tak lain adalah mamanya Dirga.
"Tante!!" Seru Sofia.
"Sofia!!" Riana memalingkan wajahnya dan mendapati Sofia di sampingnya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Zainal.
"Iya! Sofia ini waktu di Swiss, dia jadi fotografer aku dan Rayen!" Seru Sofia. "Hasil fotonya bagus-bagus loh." Lanjut Riana.
"Di Swiss?" Tanya Zainal.
"Iya, kalo nggak salah 5 atau 6 tahun yang lalu!!" Ujar Riana.
"Sofia, bisa jelasin sama Papa?" Zainal menatap tajam pada Sofia, karena sebelumnya Zainal belum pernah tahu kalau Sofia pernah ke Swiss.
"Iya! Maaf Pa. Oh ya, Tante. Waktu itu sebenarnya Sofia cuma gantiin teman aku kok, soalnya dia sakit." Ujar Sofia.
"Kapan kamu ke Swiss?" Zainal sangat penasaran sekali.
"Ayo Dirga!! Nanti saja Pa. Anakmu ini sedang sakit." Sela Rita. Bukan tanpa alasan Rita menyelah perkataan suaminya, karena sebenarnya hanya Rita yang tahu perjalanan Sofia ke Swiss.
Dirga melanjutkan perjalanannya dengan mendorong kursi roda yang di duduki Sofia, meninggalkan yang lain di belakang.
"Ternyata calon iatriku ini sangat nakal, ya dulu!!" Seru Dirga dalam perjalanan menuju kamar rawat pasien.
"Siapa calon istrimu?" Ucap Sofia.
"Kamu! Nona Sofia." Jawab Dirga mantap.
"Oh!!"
"Apa? O saja!" Seru Dirga yang mendengar jawaban Sofia.
"Terus?" Sofia menengadahkan wajahnya untuk melihat raut Dirga.
"Nggak. Nggak ada!" Dirga sangat kesal saat ini, dia terus saja mendorong kursi roda Sofia hingga tiba di ruang rawat.
"Bagaimana kondisi kamu?" Tanya Riana saat tiba di ruang rawat inap pasien.
"Baik, Tante! Tante tau dari mana kalau Sofia di kecelakaan?" Tanya Sofia.
"Kamu tau? Tante ini dan mama kamu sahabat sejak masa SMA!" Sofia hanya mengangguk saat mendengar penjelasan Riana. "Dan kamu harus tau juga, kalau tante ini mamanya Dirga." Lanjut Riana.
"Apa? Jadi mama kamu, Tante Riana?" Sofia menganga sambil menatap Dirga yang duduk di samping ranjang. Dirga mengangguk, membenarkan pertanyaan Sofia.
__ADS_1
"Iya! Jadi kamu itu sudah dua kali menolak anak Tante!" Seru Riana lagi.
"Apa? Dua kali?" Dirga menatap Riana kini.
"Tunggu pertanyaan Papa yang tadi belum selesai!" Sela Zainal. "Kapan kamu ke Swiss?" Lanjutnya.
"Itu Pa! Waktu ke vila di puncak 3 minggu, sebenarnya Sofia ke Swiss." Jawab Sofia menunduk.
"Apa? Astaga, lalu yang penjaga vila katakan itu apa? Katanya kalian ada, liburan di sana." Ujar Zainal lagi.
"Mama yang nyuruh. Mang Kasim itu, ikut perintah mama!" Seru Rita pada Zainal.
"Haa!!" Riana sampai menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar ternyata Rita ikut andil dalam kepergian Sofia ke Swiss.
"Astaga Ma! Jadi Mama bersekongkol dengan anak sendiri, mengelabui Papa!" Zainal menatap tajam istrinya yang kini sedang duduk di sofa kamar rawat Sofia itu.
"Sudahlah Zainal! Itu juga sudah lama sekali berlalu." Ucap Riana menenangkan.
"Ngomong-ngomong! Bagaimana dengan perjodohannya? Dirga sudah 2 kali di tolak oleh Sofia. Sebaiknya kita batalkan saja." Ujar Riana yang tak mau mengambil resiko dengan pernikahan yang tak di inginkan.
"Jangan!!" Pekik Sofia dan Dirga bersamaan, membuat parah wanita dan pria paruh baya itu menatap tajam kepada mereka berdua.
Sofia menekuk wajahnya malu, sedangkan Dirga tersenyum yang entah apa artinya.
******
Ada seseorang yang bersembunyi di balik lorong entah apa yang di lihat orang itu hingga dia hanya diam di balik dinding.
Karena sudah tak tahan lagi dan timbul sedikit rasa takut akhirnya Sandra memberi tahu Fander dengan berbisik.
Fander yang mendapat pemberitahuan dari Sandra sedikit menjeling melihat kebenarannya.
Benar saja, ada seseorang di sana. Siapa dia, apa ada maksud tertentu pikir Fander. Dengan langkah yang sedikit di lajukan Fander berjalan ke arah di mana orang itu sedang berdiri, namun rupanya orang itu menyadari jika dia sudah dicurigai, hingga dia mengambil langkah seribu untuk menghindar dari Fander.
"Hei tunggu!" Seru Fander lalu mengejarnya, namun karena hampir tertabrak brankar yang lewat dari lorong yang lain, Fander kehilangan jejaknya.
Fander kembali di mana Sandra berada. Dengan wajah yang di penuhi keringat.
"Bagaimana Tuan, dapat orang misteriusnya?" Tanya Sandra dan mendapat gelengan kepala dari Fander.
Sandra terdiam sejenak lalu kembali bertanya, "apa kita akan memberi tahu mereka Tuan?" Sebenarnya Sandra takut jika orang itu adalah orang jahat, yang mengincar keluarga bosnya.
"Sebaiknya jangan dulu, aku akan mencari tahu lebih dulu penyebab kecelakaan ini. Jika kecelakaan ini tidak murni, baru kita akan memberitahu mereka." Ujar Fander.
"Kita? Kenapa kita? Anda saja Tuan. Saya takut!" Seru Sandra.
__ADS_1
"Tapi kamu yang lebih dulu melihatnya!" Seru Fander lagi.
"Tapi... Nanti aku pikir dulu! Tapi sebenarnya aku takut. Bagaimana jika orang itu orang jahat?" Keluh Sandra.
"Kau tenang saja. Jika kau melihat atau mencurigai sesuatu lagi, katakan padaku. Berikan ponselmu!" Minta Fander.
"Untuk apa?" Sandra mengerutkan dahinya sembari bertanya.
"Untuk mengisi nomorku! Bagaimana kau memberitahu jika tak memiliki nomorku?"
"Oh, baiklah!!" Sandra mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menyerahkan pada Fander.
Untuk saat ini hanya Fander yang dapat dia percaya. Jika memberitahu tuan Zainal atau yang lain, dia juga tak mengerti harus menjelaskannya bagaimana dan bisa saja mereka tak percaya padanya.
******
Di sebuah mobil, dijalan raya yang tak terlalu ramai Kevin sedang frustasi dengan memukul-mukul setir mobilnya.
"Ah, bodoh! Kenapa juga harus aku harus lari?" Gumam Kevin. "Aku bisa membiat alibi yang lain agar mereka tidak curiga. Sekarang mereka akan mencaritahu tentangku yang menyamar tadi!!" Berkali-kali Kevin memukul setir mobilnya karena dia yang tak dapat berpikir kalah Fander mengejarnya.
"Tapi siapa mereka? Kenapa banyak sekali orang yang menjenguk Sofia, dan pria yang mendorong Sofia tadi. Siapa dia? Apa saudaranya? Tapi Sofia tidak punya saudara dan dia pun tak pernah bercerita jika mempunyai kerabat." Otak Kevin kini penuh dengan pertanyaan, namun taak bisa mendapatkan jawabannya.
Tiba-tiba terngiang di kepalanya kalah Lidya berkata padanya, "mungkin saja Sofia sudah memiliki pria lain!" kata-kata yang Lidya ucapakan saat itu berhasil membuat emosi Kevin mengembang saat ini.
"Akh, awas saja jika itu benar. Akan ku hancurkan pria yang berani memdekati Sofia itu!" Amarah Kevin kini sudah memuncak hingga dia menekan pedal gas di mobilnya hingga habis, menyusuri jalan yang entah ke mana dia akan pergi.
******
Zainal, Rita dan Riana telah duduk di sofa ruangan Sofia, sedangkan Dirga tak mau menjauh dari ranjang Sofia.
"Jadi sekarang mau kalian itu apa?" Tanya Zainal dengan memandang Sofia dan Dirga bergantian.
Sofia memberi kode pada Dirga untuk menjawab, namun Dirga tak merespon.
"Iya! Sekarang bagaimana? Apa mau dilanjutkan atau di batalkan." Ucap Riana.
"Mungkin mereka butuh waktu membicarakannya! Kami tunggu jawaban kalian seminggu lagi." Usul Rita dan akhirnya di setujui oleh semuanya.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...