
Saat akan membuka pintu, Sofia terkejut dengan sosok Zainal di depannya.
"Papa?" Kaget Sofia.
"Eh, kok kamu sudah pulang?" Tanya Zainal.
"Iya Pa. Laper, mau makan siang di rumah saja." Jawab Sofia.
"Ke mana mobilmu? Itu mobil siapa?" Tanya Zainal saat melihat keluar dan menemukan mobil asing di depan rumahnya.
"Ooh, itu mobil temanku!" Sofia segera menghindari percakapan dengan segera masuk ke dalam rumah.
"Teman siapa?" Tanya Zainal lagi.
"Ya, teman Sofia Pa! Masa teman Papa." Ucap Sofia asal.
"Teman apa temen?" Goda Zainal.
"Ada apa ini?" Rita datang dari dapur untuk mengajak suaminya makan siang. "Eh, kamu sudah pulang juga. Katanya pergi keluar. Ayo makan siang sama-sama!" Ajak Rita saat melihat putrinya sudah berada di rumah.
"Iya, Ma!" Jawab Sofia mengikuti Rita ke meja makan.
Kini mereka bertiga sudah duduk di meja makan. Menikmati hidangan yang telah Rita siapkan.
Rita memang sangat pintar memasak, tak ada yang bisa mengalahkan rasa dari masakan buatan Rita bagi Zainal dan Sofia. Hingga sesibuk apapun mereka tetap saja tidak lupa untuk makan di rumah.
Satu saja kelemahan Rita, dia tidak bisa membuat kopi dengan benar. Kadang kopi yang akan di buat Rita akan sangat manis terkadang juga hambar, lalu sangat pahit dan kadang terlihat terang seperti teh. Hingga Zainal dan Sofia tidak mengijinkan Rita membuat kopi.
"Gimana, teman kamu itu Sof?" Tanya Zainal di sela-selah makan siang mereka.
"Gimana apanya?" Sofia mengerutkan dahinya.
"Apa? Temannya Sofia kenapa? Sakit? Atau kecelakaan?" Tanya Rita bertubi-tubi karena penasaran dengan pembicaraan antara ayah dan anak itu.
Zainal memandang Rita dwngan senyum sedangkan Sofia memandang mamanya dengan malas. Pembicaraan ini akan menjadi panjang, pikir Sofia.
"Tidak Ma! Tidak sakit dan tidak kecelakaan!" Jawab Zainal tersenyum.
"Lalu?" Rita semakin penasaran, tak mendapat jawaban yang pasti.
"Itu, Ma. Sofia pulang dengan mobil temannya." Jawab Zainal lagi.
"Mobil siapa Sof? Kamu nggak barter mobil kamu 'kan?" Tanya Rita.
"Ma. Apaan sih? Nggak ada yang kayak gitu." Ucap Sofia kesal.
"Terus?" Rita semakin penasaran.
"Iya. Cuma barter pake kok Ma." Jawab Sofia.
__ADS_1
"Oh," Rita hanya ber O ria mendengar jawaban Sofia.
Zainal pun tak menambah lagi pembicaraan mereka. Setelah selesai makan Sofia langsung masuk ke kamarnya dan Zainal kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang di tinggalkannya.
******
Malam harinya Sofia sedang berada di balkon kamarnya sendiri. Di sebuah kursi panjang, dengan sandaran sedikit miring Sofia memegang ponselnya yang di letakan di dadanya.
"Kenapa juga tidak memintah nomornya?" Umpat Sofia pada diri sendiri.
"Bagaimana caranya mengembalikan mobilnya. Tidak mungkin aku harus kembali ke apartementnya." Gumam Sofia bingung.
"Ah sudahlah. Biarkan saja. Lagi pula mobil itu lebih mahal dari mobilku!" Gumamnya pusing dengan pikirannya sendiri.
******
Di tempat Dirga, di apartementnya. Dia sedang kesal kerena kebodohannya.
"Aaahh, seharusnya aku mengambil no ponselnya. Bagaimana bisa menghubunginya tanpa nomor ponsel." Kesal Dirga dengan dirinya sendiri.
******
Pagi hari, di perusahaan Pradipta. Resepsionis di sana pagi ini di buat kesal oleh seorang pria.
"Ada apa ini?" Tanya Zainal. Melihat seorang pria dengan setelan rapi. Mengenakan jas dan kawan-kawannya.
"Maaf Tuan. Tuan ini ingin bertemu dengan orang yang tidak bekerja di sini!" Jelas wanita yang berada di balik resepsionis.
"Aku ingin bertemu Sofia." Jawab Dirga dengan membalikan badannya.
"Ooh, kenalkan saya pemilik perusahaan ini. Zainal Pradipta." Zainal mengulurkan tangannya dengan tersenyum.
"Astaga, aku terlalu ceroboh. Sekarang brrtemu dengan papanya." Batin Dirga namun tetap menjaga kewibawaannya.
"Dirga Antara!! Anda pasti tahu siapa saya?" Jawab Dirga dengan gaya coolnya.
"Tentu saja! Mari Tuan." Ajak Zainal.
"Tidak perlu. Saya hanya ada sedikit keperluan dengan Nona Sofia." Tolak Dirga.
"Apa putri saya berbuat sesuatu yang buruk pada Anda?" Zainal mencoba memancing Dirga.
"Ah, tidak sama sekali. Saya hanya ingin menukar mobil kami." Jawab Dirga.
"Ada apa ini? Mengapa sampai mobil kalian bisa tertukar?" Tanya Zainal berpura-pura tidak tahu.
"Aah, sebenarnya i-itu. Kemarin kami makan siang bersama dan mobilnya mogok. Jadi aku memberikan mobilku padanya." Dirga nampak gugup dengan pertanyaan Zainal namun dia membuat alibi yang membuat Zainal tersenyum puas karena dia menemukan jawaban yang dia cari.
"Kau sungguh baik, Tuan Dirga. Putriku mungkin belum datang. Sepertinya dia bingung bagaimana cara mengembalikan mobil Anda. Biar ku suruh mengantar mobilnya ke perusahaanmu." Jawab Zainal yang telah mengetahui hubungan mereka yang diam-diam itu.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Dirga mengatakan dia makan siang bersama dengan Sofia kemarin, jika Sofia saja pulang ke rumah untuk makan siang bersama mereka kemarin, bahkan sangat lahap seperti orang yang belum makan.
"Baiklah. Tuan Zainal, saya permisi sekarang!" Ucap Dirga pamit pada sang pemilik perusahaan yang di datanginya pagi-pagi sekali, bahkan sempat-sempatnya berdebat dengan resepsionis.
Dirga keluar dari ruangan Zainal. "Bagaimana mungkin resepsionis di sini tidak mengenal Sofia?" Batinnya bertanya-tanya.
Jelas saja resepsionis wanita yang berdebat dengan Dirga adalah pegawai baru, yang baru 2 minggu ini bekerja.
Sandra yang berada di lorong berjalan ke arah ruangan Zainal, memperhatikan orang yang berjalan berlaqanan arah dengannya.
"Bukankah dia rekan yang kemarin? Apa ada sesuatu?" Gumam Sandra.
Setelah berdekatan, Sandra menundukan kepalanya saat Dirga melewatinya, namun Dirga dwngan cepat mengenali wanita yang datang bersama Sofia kemarin.
"Tunggu!" Panggil Dirga saat dia sudah melewati Sandra beberapa langkah.
Sandra memutar tubuhnya perlahan, menghadap Dirga yang memanggil dirinya.
"Iya! Tuan memanggil saya?" Jawab Sandra sedikit gugup.
"Iya. Kau. Kau yang kemarin datang bersama Sofia 'kan?" Tanya Dirga memperhatikan.
"I-iya Tuan."
"Bagus. Sebentar." Dirga merongoh ponsel di kantongnya " berikan aku nomor ponsel Sofia." Pinta Dirga.
"Tapi, untuk apa Tuan!" Tanya Sandra penasaran.
"Aku mau mengambil mobilku yang di bawahnya." Ucap Dirga.
"Hm," Sandra nampak ragu memberikan nomor ponsel Sofia.
"Aduh!! Cepatlah," Pinta Dirga.
"Baiklah!" Sandra mengangkat ponsel di tangannya dan mengotak-atik sebentar.
"Ini!" Sandra mengulurkan ponselnya ke arah Dirga dan di sana sudah tertera nama Nona Sofia beserta nomor ponselnya.
"Baiklah, sudah selesai!" Ucap Dirga segera berlalu dari sana dengan senyuman puas.
Saat ini Dirga telah menemukan nomor ponsel Sofia dan itulah maksudnyabuntuk datang ke perusahaan itu pagi-pagi sekali. Selain untuk bertemu Sofia untuk melepas rindu yang dari semalam bergemuru di hatinya, salah satunya adalah meminta nomor ponsel wanita itu.
******
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...