
Zainal, Rita dan Riana telah duduk di sofa ruangan Sofia, sedangkan Dirga tak mau menjauh dari ranjang Sofia.
"Jadi sekarang mau kalian itu apa?" Tanya Zainal dengan memandang Sofia dan Dirga bergantian.
Sofia memberi kode pada Dirga untuk menjawab, namun Dirga tak merespon.
"Iya! Sekarang bagaimana? Apa mau dilanjutkan atau di batalkan." Ucap Riana.
"Mungkin mereka butuh waktu membicarakannya! Kami tunggu jawaban kalian seminggu lagi." Usul Rita dan akhirnyau di setujui oleh semuanya.
******
3 hari kemudian Sofia telah di peebolehkan pulang dari rumah sakit. Selama di rumah sakit Dirga tak pernah meninggalkan Sofia, sampai-sampai dia harus bekerja dari rumah sakit. Seperti saat ini pun, Sofia sudah bersiap-siap untuk pulang dan Dirga harus membereskan berkas-berkasnya yang dari kantor untuk di pakainya bekerja dari rumah sakit. Fander pun tak ada untuk membantu Dirga walau hanya membereskan, karena dia telah mengutus Fander untuk menggantikannya untuk pertemuan dengan rekan bisnis.
"Beb, bantuin dong!!" Minta Dirga pada Sofia.
"Ku bilang juga apa? Kamu itu pergi saja ke kantor, 'kan jadi ribet di sini!!" Kesal Sofia sambil membantu Dirga membereskan berkas-berkasnya.
"Iya! Nanti juga ke kantor Beb. 'Kan lagi jagain kamu juga." Jawab Dirga.
"Dari kemarin aku juga sudah bisa jalan! Bukannya nanti." Sofia bertamba kesal karena pria di sampingnya selalu saja membantah ucapannya.
"Iya deh! Maaf! Kita mau pulang ke mana skarang? Apartement atau ke rumah kamu?" Tanya Dirga bersungguh-sungguh. "Ke mansion Antara juga boleh." Lanjut Dirga.
Sofia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya memandang Dirga. "Apa dia pikir kita sudah menikah!" Batin Sofia.
"Kemana Beb?" Tanya Dirga lagi yang saat ini telah keluar dari dalam ruangan.
"Mau di gorok Papa? Kalau iya, ayo kita jangan pulang." Tantang Dirga.
"Enggak deh. Ke rumah kamu aja!" Jawab Dirga cepat.
Di suatu tempat tak jauh dari mereka seseorang telah memperhatikan interaksi antara keduanya. Siapa lagi, kalau bukan Kevin.
"Kurang ajar!" Gumam Kevin dengan kesal sambil memukul tembok di sampingnya dengan lengan. "Akan ku bereskan Lidya lebih dulu, seyelah itu pria itu." Lanjut kevin bergumam dan segera pergi dari tempatnya.
******
Mobil yang di kendarai Dirga memasuki pekarangan kediaman Pradipta. Di depan pintu telah berdiri Rita juga Riana untuk menyambut mereka.
"Hallo sayang!" Sapa Rita saat mereka telah mendekati mereka, "sudah sehat?" Lanjut Rita.
"Iya Ma!" Jawab Sofia.
"Siang Tante." Sapa Dirga dengan membaqah koper milik Sofia.
"Siang! Ayo masuk semua." Ajak Rita.
"Mama kok di sini?" Tanya Dirga.
"Kamu nanya? Dan kamu bertanya-tanya?" Ujar Riana pada anaknya.
__ADS_1
"Jangan sok abg deh Ma! Ingat umur." Dirga mendahului lagkah mamanya.
"Kurang asem kamu ya! Seharusnya Mama yang tanya. Kamu ngapain di sini?" Kesal Riana.
"Nganterin Beby, Ma!" Jawab Dirga sembari duduk di samping Sofia.
"Beby? Beby siapa?" Rita mengerutkan dahinya menatap Dirga.
"Sofia maksudnya, Tante!!" Dirga menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena keceplosan dan saat ini Sofia telah melotot kepadanya.
"Jadi, gimana hubungan kalian sekarang?" Tanya Riana.
"Ya, gitu Ma! Kita mau nikah kok." Jawab Dirga.
"Kataku!" Seru Dirga.
"Tapi aku tidak mengatakannya!" Balas Sofia.
"Jadi kamu nggak mau?" Dirga menatap tajam pada Sofia yang berada di samping.
"Aku juga nggak bilang ya! Itu kamu yang bilang." Seru Sofia.
"Lalu mau kamu apa?" Kesal Dirga.
"Aku nggak mau!" Jawab Sofia.
"Jadi kamu nolak?" Dirga menatap Sofia semakin tajam, kini mereka berdua berdebat dengan masalah nikah atau tidak.
"Astaga!!" Dirga membuang nafas lega dan membalas pelukan Sofia. "Jantungku hampir keluar, jika di tolak lagi." Dirga tersenyum lebar menggambarkan kebahagiaannya.
"He, he, he... Belum muhrim!!" Seru Rita juga Riana dengan melepas rangkulan keduanya. Sedang mereka hanya cekikikan karena kelepasan di depan wanita-wanita paruh baya itu.
******
Saat ini Fander sedang berada di sebuah cafe bersama Sandra.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Sandra.
"Apa kamu merasa ada yang mencurigakan di kantor atau di samping tuan Zainal?" Tanya Fander langsung saja.
"Tidak ada! Memang Tuan sudah menyelidiki kasus kecelakaan Nona Sofia?"
"Sudah dan tidak ada yang janggal, semua murni kecelakaan. Tapi kemarin sewaktu aku mengantar berkas untuk Tuan Dirga di rumah sakit, aku menemukan ini!" Fander menunjukan sebuah jam tangan yang telah di isi di kantong plastik berwarna putih.
"Anda menemukannya di mana?" Tanya Sandra penasaran.
"Di depan pintu masuk ruangan Nona Sofia." Jawab Fander. "Apa kau mengenalnya?" Lanjutnya bertanya.
Sandra menggelengkan kepalanya, "mungkin punya orang yang jatuh." Ucap Sandra.
"Tidak mungkin. Jam ini tersangkut di gagang pintu. Mungkin orang itu tidak sadar waktu mengintip di ruangan Nona Sofia lalu karna panik dia pergi." Jelas Fander.
__ADS_1
"Aah! Saya tidak mengerti apapun Tuan. Saya jadi pusing memikirkan ini." Ucap Sandra.
"Sudahlah, kau tidak perlu berpikir. Sekarang aku hanya minta untukmu selalu mengawasi kantor Pradipta, segera hubungi aku jika ada yang tidak beres dan Tuan Zainal juga. Aku takut saja jika dia dalam bahaya." Jelas Fander.
"Jangan menakut-nakuti saya Tuan! Saya 'kan jadi takut." Seru Sandra
"Nggak apa-apa. Kamu hanya cukup memberitahuku jika ada yang tidak baik. Kamu tidak perlu berbuat apa-apa." Jelas Fander menenangkan.
******
Di sisi lain, di apartement Kevin. Lidya kini tengah duduk Sofa dengan di suguhkan segelas jus dari Kevin.
"Kau duduklah dengan tenang. Aku akan membuatkan jus untukmu." Ucap Kevin.
"Ada apa denganmu? Tak seperti biasa, hari ini kau sungguh perhatian!" Lidya sangat heran dengan perubahan Kevin yang sangat tiba-tiba menurutnya.
"Apakah itu tidak boleh? Anak yang kau kqndung itu juga anakku. Aku berhak memberikan yang terbaik untuknya." Jelas kevin sembari berlalu menuju ke dapur.
"Ini sangat aneh?" Batin Lidya.
Kevin kini telah berkutat di dapur, dia mengambil buah dan memasukan dalam blender yang sudah di sediakannya. Setelah selesai Kevin pun menuangkan ke dalam gelas.
Kevin merongoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu, bubuk putih yang terisi dalam kantong plastik kecil dia memandangnya dan tersenyum.
Dengan cepat bubuk itu masuk ke dalam gelas yang telah berisi jus untuk Lidya, lalu mengantarkannya ke depan Lidya.
"Minumlah!" Pinta Kevin.
Lidya sangat ragu untuk menyambut gelas yang di suguhkan Kevin padanya, namun dengan cepat dia menepis pikiran itu. Mungkin Kevin sudah berubah sekarang, pikirnya.
Lidya mengambil gelas itu dan meminumnya hingga tandas.
"Bagaimana?" Tanya kevin menatap Lidya yang tengah meletakan gelasnya di meja.
"Segar! Trima kasih." Ucap Lidya dengan mengangkat sedikit sudut bibirnya ke atas, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Lidya memegang kepalanya yang kini terasa berpitar-putar hingga akhirnya Lidya pun kehilangan kesadarannya.
"Ini adalah akhirmu!!" Gumam Kevin tersenyum.
.
.
.
.
Jangan lupa hadiah tahun barunya...
Selamat tahun baru ssmuanya....
***Love you all♥️
__ADS_1
🤗🤗🤗***