One Night Love

One Night Love
Perjodohan Dirga


__ADS_3

"Kalau seperti itu. Setidaknya kamu bisa menolaknya dengan lembut. Kamu tau? Kamu sudah mencoreng harga dirinya sebagai seorang lelaki, dengan kamu menolaknya mentah-mentah seperti tadi malam!!" Jelas Zainal.


Sofia terdiam mendengar Zainal bicara. "Benarkah?" Batinnya. Sofia tak menjawab lagi perkataan Zainal, dia segera melanjutkan sarapannya dan berangkat ke kantor.


******


Di tempat lain Dirga juga sedang sarapan dengan Riana. Riana membuatkan sarapan pada anaknya, karena jika hati Dirga sedang baik-baik saja maka dia tidak akan muncul di mansion dan sarapan dengannya pagi ini.


"Dir, kamu tidak ke kantor?" Tanya Riana di sela-sela sarapan mereka.


"Tidak!" Jawab Dirga singkat. "Apa Mama sudah punya pilihan untukku?" Lanjut Dirga.


"Pilihan? Maksudnya?" Tanya Riana bingung.


"Pilihan untukku jadikan istri!" Jawab Dirga.


Riana shok mendengar percakapan Dirga. Saat ini dia sedang membicarakan pernikahannya sendiri, biasanya dia akan menghindari percakapan tentang pernikahan dan pagi ini, dia bahkan menanyakan calonnya.


"Baiklah. Jika kau mau Mama akan mengatur pertemuan dengan anak dari teman Mama!!" Jawab Riana tersenyum.


Dirga kembali ke kamarnya setelah selesai sarapan. Dia berbaring di kasur dengan tatapan kosong ke depan hingga bunyi ponsel terdengar dan membuyarkan lamunannya.


"Sofia!!" Gumam Dirga saat melihat ke layar ponselnya.


Dirga kembali menaruh ponselnya ke atas nakas. Untuk saat ini dia butuh kenangan dan tak ingin di ganggu oleh siapa pun sekali pun itu Sofia.


******


Sementara di kantor Sofia sedang bingung kerena panggilan telvonnya yang tak di jawab oleh Dirga.


"Kenapa dia tak mengangkatnya?" Kesal Sofia.


"Apa aku harus datang ke kantornya?" Gumam Sofia lagi. "Tidak!! Mungkin dia sibuk, makannya tak mengangkat telvonnya."


Beberapa kali Sofia mencoba tapi tak ada jawaban, akhirnya Sofia mengakhiri panggilannya dan beralih ke laptop untuk bekerja.


Belum setengah jam Sofia menatap layar laptopnya, tapi dia tak bisa konsentrasi. Ucapan sang papa selalu tergiang di telinganya. Benarkah? Aku sudah melukainya! Pikir Sofia. "Bagaimana aku tahu? Jika aku tak bicara dengannya." Batin Sofia.


******


Sementara di mansion utama Antara. Riana dan Fander sedang berbicara.


"Nyonya ini detail wanita yang kau minta semalam!" Fander menyerahkan sebuah map berwarna coklat pada Riana yang berada ruang kerja suaminya.


"Taruh saja. Sekarang itu tidak perlu lagi Fander. Aku harus menemui temanku, untuk perjodohan Dirga." Ucap Riana.


"Perjodohan? Apa Tuan akan di jodohkan, Nyonya?" Fander terperangah dengan perkataan bos besarnya sedangkan Riana hanya mengangguk pada Fander. "Sejak kapan Tuan mau di jodohkan?" Lanjut Fander penasaran.


"Sejak tadi pagi!!" Jawab Riana seraya bersiap-siap untuk pergi.


"Nyonya yakin?" Fander sangat tahu dwngan watak bosnya.


"Iya! Tadi pagi Dirga sendiri yang memintaku mencarikan wanita untuk menjadi istrinya." Jelas Fander.

__ADS_1


"Pasti Tuan sedang patah hati!!" Seru Fander.


"Sudahlah Fander! Yang terpenting sekarang dia mau menikah. Aku tak mau lagi pikirannya berubah. Dirga itu sudah berumur, sampai kapan aku harus menunggunya untuk menikah." Riana segera mengendong tasnya dan berjalan keluar ruangan itu.


Fander sudah tak bisa apa-apa lagi saat ini. Dia hanya berharap Tuannya dapat merubah keputusannya. Jika tidak entah seperti apa pernikahannya nanti.


******


Sore hari, Sofia telah pkulang ke kediaman Pradipta dari kantor. Rautnya sangat lesuh, seharian ini Dirga tak menjawab panggilannya sama sekali. Sejak pagi, siang dan sore ini sebelum dia pulang dari bekerja, pesan singkat yang di kirimnya pun hanya menunjukan 2 centang berwarna abu-abu.


"Kenapa Sof, kok lesuh amat?" Tanya Rita yang melihat anaknya lesuh.


"Nggak Ma. Capek aja!" Jawab Sofia sungguh tidak bersemangat.


"Ya sudah. Kamu istirahat saja, nanti Mama bangunkan pas makan malam." Ucap Rita dan dia angguki oleh Sofia.


Dia berjalan menuju kamarnya, dengan pikiran yang kacau. Kenapa juga harus memikirkan dia, biarkan saja. Mau marah kek, merajuk kek, enggak peduli, benak Sofia berperang, namun hati kecilnya sungguh tak terima Dirga mengacuhkannya.


Sofia mengacak-acak rambutnya saat sedang duduk di kasur kamarnya, entah apa yang harus di lakukan. Sekian lama menatap handphone di tangannya, sekali hanya masuk pesan, namun bukan pesan dari Dirga melainkan pesan sistem dari operator yang masuk ke handphonenya.


Batinnya berkata tak peduli, namun otaknya terus saja membayangkan wajah Dirga yang semalam pergi dengan rasa kecewa. Mungkin ini hanya rasa bersalah, karena rak mengerti perasaan Dirga semalam, pikirnya.


******


Sementara di tempat lain, apartement di samping apartement Dirga. Kevin sedang menatap foto di dalam bingkai yang terletak di atas nakas.


"Sofia!! Aku berjanji akan kembali padamu. Tinggal beberapa bulan lagi, bersabarlah." Ujar Kevin lalu mengambil bingkai yang berisi foto Sofia dan memeluknya erat.


Kevin naik ke atas tempat tidur, dan membaringkan tubuh dengan memwluk bingkai yang berada di tangannya.


******


"Hai!! Sudah lama tunggunya?" Sapa Riana pada wanita paruh baya yang telah duduk di bangku dalam restoran.


Wanita paruh baya itu berdiri menyambut kedatangan Riana, saling cipika-cipiki dan tersenyum bersama.


"Lama sekali kita baru bertemu!!" Seru wanita paruh baya itu pada Riana.


"Kau benar, Rita." Jawab Riana.


Ternyata teman yang akan di temui oleh Riana adalah Rita yang tak lain adalah mama dari Sofia.


"Oh, ya Rita. Aku tidak mau berbasa-basi lagi. Aku mempunyai maksud tertentu untuk bertemu denganmu." Ujar Riana.


"Maksud? Katakanlah, jangan buat aku penasaran." Ucap Rita.


"Kau tau 'kan, aku mempunyai seorang putra? Dan, di mana putimu sekarang? Apa dia sudah menikah?" Cacar Riana dengan semua pertanyaannya.


"Apa maksudmu, kita akan menjodohkan mereka?" Ujar Rita dengan tersenyum.


"Tidak salah lagi! Bagaimana? Apa putrimu ada? Belum menikah?" Riana sangat bersemangat sekali. Karena perjodohan ini pernah mereka bicarakan saat Riana melahirkan anak pertamanya, Dirga.


"Kau ingat? Dulu kita pernah membicarakan ini." Ucap Rita sambil tersenyum.

__ADS_1


"Benar!! Aku selalu mengingat hal itu. Kau mengatakan jika nanti kau memiliki seorang anak perempuan, kita akan mejodohkan mereka!!" Jawab Riana dengan tersenyum lebar.


"Ya! Mungkin ini karma untuk kita. Sampai sekarang putriku tidak menikah juga." Jawab Rita.


"Sudahlah. Aku hanya melihat putrimu saat dia berusia 6 tahun. Sangat cantik. Di mana dia sekarang?" Tanya Riana.


"Dia bekerja di perusahaan bersama papanya!" Jawab Rita.


"Aku penasaran bagaimana putrimu sekarang, pasti dia sangat cantik." Riana membayangkan di mana Sofia kecil dulu sangat menggemaskan dan juga cantik.


"Siapa dulu ibunya!!" Rita membanggakan dirinya sendiri.


"Enak saja!! Dia itu mirip dengan ayahnya, tidak mirip denganmu. Apalagi hidungnya yang mancung itu!!" Riana menyendok makanan yang telah di sediakan sedari tadi ke dalam mulutnya.


"Emangnya aku nggak cantik? Kalau aku tidak cantik tidak mungkin Zainal akan tergila-gila padaku!" Jawab Rita dengan memanyunkan bibirnya.


"Hei! Kau tidak pantas lagi melakukan itu. Ingat umur." Bentak Riana namun dengan senyuman.


"Kau tau Ri, kita itu biarpun berumur tapi jiwa harus muda. Nggak boleh kala sama anak-anak jaman sekarang." Ujar Rita. "Aku saja sampai sekarang, masih mengoleksi foto-foto cowo keren dan macho itu. Aku sudah mempunyai empat album besar foto cowo-cowo keren itu." Lanjut Rita.


"Astaga Rita. Kau masih melakukan itu? Malu sama umur. Apa yang akan di katakan putrimu nanti." Jelas Riana sangat kesal dengan kelakuan temannya yang satu ini.


"Putriku yang mendapatkan swbagian foto-foto itu untukku!!" Jelas Rita sambil mengunyah makanannya.


"Apa? Kau mengotori pikiran putrimu Ri." Kesal Riana.


Selesai keduanya makan-makan akhirnya mereka sepakat untuk pertemuan keluarga mereka selanjutnya akan di adakan di restoran bintang lima, seminggu setelah sekarang.


******


Beberapa hari berlalu, Sofia juga Dirga tak ada kemajuan juga. Sofia sudah putus asa untuk menghubungi Dirga karena selalu tidak di jawab. Dirga pun sudah memutuskan untuk tidak lagi menemui Sofia dan mengakhiri hubungan mereka secara sepihak.


Hari ini di kantor, Sofia sedang berada di ruangannya. Zainal datang untuk pamit kepada Sofia untuk miting bersama Dirga hari ini.


Klek


"Sof, Papa mau miting dulu ya." Ucap Zainal dari balik pintu yang hanya menjulurkan setengah badannya ke dalam ruangan.


"Tunggu Pa!! Biar Sofia dan Sandra saja yang pergi." Ucap Sofia. Dia mengetahui hari ini ada miting dengan Dirga. Setelah miting dia ingin menyelesaikan urusan mereka yang belum terselesaikan.


"Kamu yakin?" Tanya Zainal yang mengetahui hubungan antara keduanya yang tidak baik. Sofia menganggukan kepalanya cepat, agar Zainal merasa yakin padanya. "Baiklah! Bersiaplah sekarang miting itu akan di mulai setengah jam lagi!" Zainal menyerahkan berkas yang akan di bawahnya kepada Sofia kemudian kembali ke ruangannya.


Sofia telah siap. Dia mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan lagi dari mulutnya.


"Huuf!!! Semoga lancar!" Ucapnya seraya keluar dari ruangannya.


.


.


.


.

__ADS_1


By.... By....


__ADS_2