One Night Love

One Night Love
Alay


__ADS_3

"Tidak. Itu tidak mungkin! Itu tidak bisa!" Ucap Sofia dengan mengangkat kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Dirga.


"Aku tidak menyukaimu!!" Jawab Sofia jujur.


"Aku juga tidak mencintaimu! Mari kita belajar untuk saling mencintai." Ucap Dirga penuh harap.


"Tidak mungkin ada cinta jika kita tidak saling suka." Jelas Sofia lagi.


"Rasa suka akan datang sendirinya. Jika sudah suka, maka cinta pun akan datang dengan sendirinya." Ucap Dirga tanpa melepas dekapannya. "Mari kita coba bersama, jika memang tidak ada rasa di antara kita saat menjalani hubungan, maka kita akan merelakan satu sama lain." Jelasnya.


"Bagaimana?" Lanjut Dirga.


"Bagaimana bisa kita menjalani hubungan tanpa ada rasa!!" Sofia melepaskan pelukan Dirga darinya.


"Bisa!! Jika kau mau. Kita akan mencoba bersama-sama!!" Jawab Dirga yakin.


Sofia menjatuhkan dirinya di sofa, memikirkan perkataan Dirga. Sebenarnya setelah malam kejadian antara dia dan Dirga, Sofia membayangkan wajah Dirga namun selalu di tepisnya.


Sofia harus memikirkan matang-matang keputusan yang akan di ambilnya nanti. Rasa sakit yang ditorehkan oleh Kevin masih membekas di hatinya. Bagaimana kalau dia sama seperti Kevin, pikirannya tak bisa menerima jika itu terjadi lagi. Mungkin hidup selamanya sendiri, akan lebih baik tanpa ada orang lain di sampingnya.


"Sebaiknya terus seperti ini tanpa ada ikatan!! Itu akan lebih baik, karena tidak akan terluka!" Ucap Sofia.


"Tidak. Tidak seperti itu Sofia. Kenapa harus begitu. Ku mohon, aku tidak bisa jauh darimu sekarang." Dirga meminta dengan tulus pada Sofia sambil berjongkok di depannya.


Tak ada respon dari Sofia, dia hanya membuang muka ke arah lain menghindari tatapan Dirga. "Aku berjanji, jika suatu hari kau tidak ingin menjalaninya lagi. Aku akan tidak akan mengusikmu lagi" Lanjut Dirga mencoba membujuk Sofia.


Sofia menatap dalam ke mata pria di depannya. Apakah dia mempercayainya, tidak seperti Kevin yang menghianati di belakang.


"Baiklah!! Kita akan mencoba, menjalani hubungan... katakan saja belum mempunyai status ini. Jika suatu saat aku atau kau tidak bisa menjaninya, maka jujurlah. Jangan menyimpan, dan memberi harapan palsu." Ucap Sofia.


"Haa!! Benarkah?" Dirga melompat dari depan Sofia ke sofa samping Sofia dan segera mwrangkul wanita itu.


"Hei!! Jaga batasanmu!" Ujar Sofia lagi.


"Tentu saja sayang! Aku tidak akan macam-macam, hanya satu macam saja. Tapi boleh cium dong, peluk. Jangan larang aku. Karna aku tidak akan tahan!" Jawab Dirga dengan senyum yang mereka lebar.


"Haiss! Jangan macan-macam," ancam Sofia.


"Tidak macam-macam. Cuma satu macam kok." Dirga tanpa henti-hentinya mengembangkan senyum, hingga Sofia tetsenyum kecil melihat kebahagian di wajah pria di sampingnya.


******


Di tempat lain seorang wanita paruh baya sedang memarahi Fander yang tak tau ke mana bosnya pergi.


"Fander, kamu itu sebagai asisten harus tau apa saja yang di kerjakan bosmu." Kesal Qanita paruh baya itu, yang tak lain adalah mamanya Dirga.


"Maaf, Nyonya. Kami tadi sedang miting bersama, lalu Tuan pergi dengan kliennya." Jawab Fander.


"Jadi kemana dia pergi sekarang? Apa kamu tidak bertanya padanya? Ini masih jam kerja Fander. Dan kamu yang bertanggung jawab untuk semua itu." Riana masih terus saja memarahi Fander.


"Maaf!!" Ucap Fander lagi.

__ADS_1


"Sekarang hubungi dia, katakan aku ingin bertemu! Kemarin saja dia lari saat aku datang ke mari. Dan sekarang pun dia tidak ada saat aku datang!! Bikin kesal saja." Umpat Riana. "Lama-lama aku kawinin juga sama ningsih tuh anam." Lanjut Riana dengan kesal.


Fander mengambil posel dari saku celananya, lalu menghubungi nomor Dirga yang berada di ponsel, di namakan dengan Boss.


Tut tut tut tut


Beberapa kali Fander menghubunginya, namun tak satu kali pun adabyang tersambung.


"Bagaimana?" Tanya Riana yang kini sedang duduk di kursi kebesaran Dirga.


"Maaf, Nyonya. Tidak tersambung!" Jawab Fander.


"Hubungi lagi!" Pinta Riana.


"Sudah 5 kali Nyonya. Tidak ada yang tersambung!" Jelas Fander.


"Haa!! Sudahlah. Kau sungguh tidak berguna." Kesal Riana. "Aku akan menunggu di apartementnya." sambung Riana lagi.


"Tapi Nyonya." Riana berbalik menatap Fander dengan curiga. "Ini jam kerja Nyonya. Mungkin saja Tuan pergi bersama kliennya ke kantor mereka." Alibi Fander.


"Maksudmu?" Tanya Riana mengangkat alisnya.


"M-maksud saya mungkin saja Tuan ke kantor kliennya bersama-sama dengan kliennya tadi." Fander sangat gugup mendapat tatapan dari Nyonya besar itu, hingga dia tergagap.


"Aku tidak peduli. Aku akan tetap menunggu di sana, sampai dia kembali!" Ucap Riana.


******


"Baby!! Apa kau tidak lapar? Ayo kita makan di luar." Ajak Dirga.


"Aku belum terlalu lapar. Kau akan kaget saat melihat porsi makanku nanti!" Jawab Sofia dengan nada biasa saja.


"Kenapa dengan porsi makanmu?" Tanya Dirga.


"Porsi makanku, jumbo." Jawab Sofia asal. Dia akan membuat pria di depannya ini ilfil dengan semua tingkah lakunya.


"Tenanglah, Baby! Aku tidak akan bangkrut, hanya dengan memberimu makan dengan porsi jumbo." Jawab Dirga.


"Haa!! Aku bisa memberi makan tubuhku sendiri, walau tak di beri olehmu." Balas Sofia.


"Iya. Aku tau. Kau anak dari orang terkaya di asia nomor 3." Ucap Dirga seperti meledek.


"Baguslah, kalau kau tau itu!!" Jawab Sofia santai dengan tatapan yang mengalih dari tv.


"Ayolah Beb! Aku sangat ingin makan bersamamu!" Rengek Dirga yang telah bangun dari pangkuan Sofia sambil menggoyang-goyangkan lengan Sofia.


"Apaan sih!! Jangan seperti anak kecil." Kesal Sofia.


"Beb!! Beb. Baby." Karena kesal yang terus di usik oleh Dirga, akhirnya Sofia mengikuti kemauan bayi besar itu. Dari pada dia meminta yang tidak-tidak, pikir Sofia.


"Ayo!!" Ucap Sofia malas.


Senyum di wajah pria itu tak henti-hentinya di kembangkan, hingga kini dia mengambil ponselnya yang tadi di matikan karena tak ingin di ganggu.

__ADS_1


Sebelumnya Dirga dan Sofia bersepakat untuk mempunyai nama panggilan masing-masing. Dirga akan memanggil Sofia dengan sebutan Baby dan Sofia akan memanggil Dirga dengan Honey. Sebenarnya Sofia tidak mau akan itu karena menurutnya terlalu alay, namun dengan paksaan Dirga akhirnya Sofia mau juga.


Dirga meletakan Ponselnya di atas meja depan sofa yang di duduki Sofia. Kemudian pamit untuk berganti pakaian.


"Sebentar ya, baju ini sudah kusut. Aku mau ganti baju dulu." Ujar Dirga.


"Astaga alay sekali kau sebagai pria." Ucap Sofia.


"Astaga Baby. Ini semua agar kau tak malu saat bejalan bersamaku, dan agar aku selalu terlihat tampan." Jawab Dirga dan berlalu ke kamarnya.


"Ish. Pede sekali." Sofia membuang pandangannya bosan dari arah Dirga yang telah berlalu darinya.


Ting


Sebuah pesan masuk ke ponsel yang berada di depan Sofia. Dia sangat penasaran dengan pesan yang masuk ke ponsel itu, namun dia tidak enak untuk melihat siapa pengirim pesan itu.


Kini Dirga kembali dengan pakaian yang sudah di gantinya. Berjalan ke arah Sofia dan mengajaknya pergi.


"Ayo Beb!" Ajak Dirga mengulurkan tangannya agar di sambut oleh Sofia.


"Ponselmu!" Sofia menunjuk ponsel yang berada di meja.


"Oh! Ambilakan Beb," Pinta Dirga.


Sofia meraih ponsel dan menyambut tangan Dirga. "Ada pesan masuk di ponselmu!" Ujar Sofia.


"Kenapa kau tak membukanya?" Tanya Dirga.


"Aku tidak berani!" Jawab Sofia serius.


Dirga dan Sofia berjalan menuju pintu keluar apartement.


"Bukalah." Pinta Dirga.


Sofia menatap Dirga seperti bertanya, sungguh! Dan dirga pun menganggukan kepala.


"Dari Fander!" Ucap Sofia.


"Mungkin urusan pekerjaan. Bacakan!" Pinta Dirga lagi yang sibuk menggandeng Sofia.


"Tuan, Nyonya besar akan perfi ke apartementmu!!" Seru Sofia yang membaca pesan di ponsel Dirga.


Klek


.


.


.


.


By... By...qq

__ADS_1


__ADS_2