
"Aku penasaran bagaimana putrimu sekarang, pasti dia sangat cantik." Riana membayangkan di mana Sofia kecil dulu sangat menggemaskan dan juga cantik.
"Siapa dulu ibunya!!" Rita membanggakan dirinya sendiri.
"Enak saja!! Dia itu mirip dengan ayahnya, tidak mirip denganmu. Apalagi hidungnya yang mancung itu!!" Riana menyendok makanan yang telah di sediakan sedari tadi ke dalam mulutnya.
"Emangnya aku nggak cantik? Kalau aku tidak cantik tidak mungkin Zainal akan tergila-gila padaku!" Jawab Rita dengan memanyunkan bibirnya.
"Hei! Kau tidak pantas lagi melakukan itu. Ingat umur." Bentak Riana namun dengan senyuman.
"Kau tau Ri, kita itu biarpun berumur tapi jiwa harus muda. Nggak boleh kala sama anak-anak jaman sekarang." Ujar Rita. "Aku saja sampai sekarang, masih mengoleksi foto-foto cowo keren dan macho itu. Aku sudah mempunyai empat album besar foto cowo-cowo keren itu." Lanjut Rita.
"Astaga Rita. Kau masih melakukan itu? Malu sama umur. Apa yang akan di katakan putrimu nanti." Jelas Riana sangat kesal dengan kelakuan temannya yang satu ini.
"Putriku yang mendapatkan swbagian foto-foto itu untukku!!" Jelas Rita sambil mengunyah makanannya.
"Apa? Kau mengotori pikiran putrimu Ri." Kesal Riana.
Selesai keduanya makan-makan akhirnya mereka sepakat untuk pertemuan keluarga mereka selanjutnya akan di adakan di restoran bintang lima, seminggu setelah sekarang.
******
Beberapa hari berlalu, Sofia juga Dirga tak ada kemajuan juga. Sofia sudah putus asa untuk menghubungi Dirga karena selalu tidak di jawab. Dirga pun sudah memutuskan untuk tidak lagi menemui Sofia dan mengakhiri hubungan mereka secara sepihak.
Hari ini di kantor, Sofia sedang berada di ruangannya. Zainal datang untuk pamit kepada Sofia untuk miting bersama Dirga hari ini.
Klek
"Sof, Papa mau miting dulu ya." Ucap Zainal dari balik pintu yang hanya menjulurkan setengah badannya ke dalam ruangan.
"Tunggu Pa!! Biar Sofia dan Sandra saja yang pergi." Ucap Sofia. Dia mengetahui hari ini ada miting dengan Dirga. Setelah miting dia ingin menyelesaikan urusan mereka yang belum terselesaikan.
"Kamu yakin?" Tanya Zainal yang mengetahui hubungan antara keduanya yang tidak baik. Sofia menganggukan kepalanya cepat, agar Zainal merasa yakin padanya. "Baiklah! Bersiaplah sekarang miting itu akan di mulai setengah jam lagi!" Zainal menyerahkan berkas yang akan di bawahnya kepada Sofia kemudian kembali ke ruangannya.
Sofia telah siap. Dia mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan lagi dari mulutnya.
"Huuf!!! Semoga lancar!" Ucapnya seraya keluar dari ruangannya.
Sofia pergi bersama Sandra menuju Perusahaan Antara Group.
******
Sementara Dirga sskarang berada di ruangan dengan menghadap laptop. Dan ketika Fander datang mengingatkan kembali Dirga untuk miting hari ini.
__ADS_1
"Tuan. Anda sudah siap untuk miting?" Tanya Fander.
"Berapa lama lagi waktunya?" Tanya Dirga.
"15 menit lagi Tuan." Jawab Fander dengan membenarkan letak jam tangannya.
"Masih ada waktu. Mereka akan menunggu untuk beberapa menit ke depan." Jawab Dirga dengan terus menekan tuch di depan laptopnya.
Fander hanya membuang nafasnya mendengar ucapan Dirga. Dia tahu bahwa rekan yang akan datang ini adalah dari perusahaan tempat Sofia bekerja. Wanita yang beberapa waktu lalu mengobrak-abrik kehidupan bosnya. Sedangkan Fander sendiri tidak tahu apa yang terjadi terhadap keduanya. Dirga semakin dingin di kantor, tak banyak bicara dan hanya fokus pada pekerjaannya saja dan sih wanita yang Fander tak tahu lagi kabarnya.
Fander kembali ke ruangannya dan tiba-tiba televon yang berada di meja kerjanya berbunyi.
"Ya!" Jawab Fander menempelkan gagang televon di telinganya.
"Siang Tuan! Perwakilan dari perusahaan Pradipta sudah sampai!" Ujar wanita resepsionis di balik telvon.
"Antar mereka ke ruang miting!!" Pinta Fander lalu meletakan kembali gagang telvon ke tempatnya.
Sebelumnya Fander sudah mewanti-wanti sang resepsionis, agar memberitahukannya lebih dulu saat orang dari perusahaan Pradipta tiba. Kini Fander kembali ke ruangan Dirga untuk mengajaknya.
"Mari Nyonya. Saya antar ke ruang miting!" Ajak resrpsionis yang bersama Sofia juga Sandra saat ini.
Sofia menganggukan kepala dan mengikuti langkah resepsionis tersebut.
"Tuan, perwakilan dari perusahaan Pradipta sudah sampai!" Ujar Fander.
"Sebentar, akan ku selesaikan ini dulu!" Ucap Dirga.
10 menit menunggu Akhirnya Dirga selesai dengan pekerjaannya di depan laptop. Dirga pun segera beranjak dan berlalu ke ruang miting bersama Fander dengan beberapa map di tangannya.
Klek
Pintu ruangan miting terbuka dan menampakan Sofia di dalamnya. Dirga menghentikan langkah kakinya di depan pintu. Mungkin dia berpikir Sofia tidak akan pernah mau datang untuk saling tatap dengannya seperti saat ini kedua netra mereka menatap satu sama lain, sangat dalam hingga tak ada yang bisa mengukurnya.
Sepersekian detik berlalu, dan akhirnya keduanya melempar pandangan ke arah yang berbeda. Canggung terasa untuk Sofia, melihat Dirga yang tak seperti biasanya.
Dengan cepat Dirga menguasai dirinya dan menyapa Sofia dan Sandra selayaknya rekan bisnis.
"Slamat Siang, Nona-Nona!!" Sapa Dirga melanjutkan langkahnya ke bangku yang akan di dudukinya.
Sofia menjadi salah tingkah dengan sikap Dirga, dan akhirnya menetralkan rasa yang ada di hatinya. Seperti ada rasa rindu ingin menyentuh pria di hadapannya, namun tak kuasa untuk menggapainya.
Sofia segera menenangkan dirinya segera berdiri dan membalas sapaan dari Dirga.
__ADS_1
"S-slamat Siang!" Jawab Dirga.
"Mari kita mulai!!" Ajak Dirga lalu mempersilakan mereka duduk.
Mereka memulai mitingnya, di saat tengah membicarakan tentang pekerjaan Sofia sedikit-sedikit mencuri pandang pada Dirga yang berada di depannya, namun tidak dengan Dirga dia sangat mengusai dirinya. Tak sedikit pun Dirga meliriknya, tatapan pria itu menatap lurus ke arah map-map yang ada di depannya dan bersikap biasa saja.
Setelah selesai dengan urusan pekerjaan, Sofia menyerahkan berkas-berkasnya pada Sandra.
"Baiklah! Sudah selesai. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dirga.
Sofia segera berdiri dari kursinya dan meraih lengan Pria di itu, "tunggu!!" Ujar Sofia.
Dirga membalik badannya ke arah Sofia, menatapnya tajam yang sudah dengan berani menghentikan langkahnya.
"Apa ini Nona Sofia? Bukankah urusan kita sudah selesai?" Ucap Dirga dingin.
"Tidak. Aku ingin bicara denganmu, tentang masalah kita." Jawab Sofia.
"Maaf!! Ku kira kita tidak punya masalah lain, selain menjadi rekan bisnis." Ucap Dirga dengan tatapan dinginnya.
Fander saat ini telah mengkode Sandra untuk segera keluar dari ruangan itu. Sandra pun melangkahkan kakinya menuju arah pintu keluar, namun suara Dirga mencegahnya.
"Tunggu! Tidak perlu keluar. Tidak ada yang pribadi di sini. Kalian bisa menyaksikan apa yang akan di katakan nona Sofia." Ujar Dirga yang di tujukan pada Sandra dan Fander yang hendak keluar dari ruangan.
"Dirga!!" Panggil Sofia.
"Maaf! Tuan Dirga. Di sini kita sebagai rekan bisnis, tidak lebih." Dirga membuang pandangannya ke arah luar ruangan yang di batasi dengan kaca.
"Apa kau tidak bisa bersikap seperti biasa saja?" Tanya Sofia di balik punggung Dirga.
"Tidak bisa." Jawab Dirga ketus. Dia mengingat kembali saat Sofia menolaknya saat itu. "Sikap seperti apa yang kau katakan? Apa kau ingin melakukan malam di mana kita menyatu? Aku siap untuk menjadi pengganti untuk satu malam lagi!" Lanjut Dirga. Sangat perih terasa hati Sofia yang mendengar ucapan Dirga saat ini.
.
.
.
.
Jangan lupa kasih semangatnya buat author...
Like, Coment and Votenya mana nih!! Di tungguin...
__ADS_1
Hadiahnya juga jangan lupa di kirim, udah mau tahun baru nih🤗