
Dirga menjatuhkan dirinya di samping Sofia yang telah lemas tak berdaya. Dirga menetralkan nafasnya sebentar lalu bangkit dari kasur tanpa rasa malunya berjalan ke arah meja kecil yang tak jauh dari tempat tidur.
Sofia hanya memalingkan wajahnya melihat kelakuan Dirga, yang menurutnya sungguh tidak tahu malu. Dirga kembali dengan segelas air di tangannya, "minumlah dulu!! Aku yakin tenggorokanmu sudah kering karena d***han-d***han tadi." Ujar Dirga.
"Awh" pekik Sofia saat ingin mengangkat tubuhnya sendiri untuk bersandar.
"Tidak perlu bangun!!" Dirga mengangkat kepala Sofia sedikit dari pembaringan kemudian memberikan Sofia minum dengan tangannya sendiri. "Tidurlah! Kau tak mungkin pulang 'kan malam ini?" Ucap Dirga lalu kembali meletak gelasnya di nakas.
Sofia pun mengikuti saran Dirga, dia tidur karena sebenarnya sejak tadi kepalanya terasa berat lantaran minuman beralkohol yang dokomsumsinya tadi. Dirga pun kembali ke kasur dan masuk ke dalam selimut bersama Sofia.
Pukuk 05.00 Dirga terbangun dari tidurnya. 'Ahh, apakah hanya semalam saja!' Batin Dirga. Ada rasa tak rela di benaknya jika kebersamaan bersama Sofia akan berakhir, Dirga membelai wajah Sofia yang kini masih terlelap.
"Ump," Sofia merasa terganggu karena wajahnya yang belai oleh Dirga.
Sofia membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa pening lalu mengangkat kepalanya menatap Dirga.
"Kau sudah bangun?" Pertanyaan yang sungguh tidak masuk akal, karena sekarang Sofia sedang menatap dirinya.
Sofia hanya menganggukan kepalanya. "Di mana mobilku?" Tanya Sofia.
"Apa kau ingin pulang sekarang?" Dirga mengerutkan dahinya. "Ini masih terlalu pagi," ucap Dirga.
"Papaku akan segera menelvon jika aku tidak pergi sekarang!!" Jawab Sofia.
"Apa kau yakin? Apa kita bisa mengulang hal semalam?" Ucap Dirga dengan menopang dagunya.
"Tidak!!" Jawab Sofia cepat. "Badanku saja, hampir tak bisa digerakan sekarang dan kau mau lagi!!" Kesal Sofia saat menerima pertanyaan Dirga.
"Hehehe!! Ku pikir kau akan meminta lagi saat tadi malam kau sangat menikmatinya!" Ujar Dirga sambil terkekeh.
"Tidak! Ini saja masih perih. Bagaimana mau minta lagi." Ungkap Sofia dengan menyembunyikan kepalanya di dada Dirga.
"Tapi aku mau!" Ujar Dirga merengkuh kepala gadis itu dalam dekapannya.
Sangat nyaman di rasakan Sofia hingga dia menutup kembali matanya. Dirga sudah sangat menginginkan si Oding pun sudah tengang karena tubuh mereka yang menempel. 'Ahh, ini ujian bagiku. Jika memang dia bisa di bayar, akan ku bayar 10 kali lipat dari pada harus menahannya.' Umpat Dirga dalam hati.
Setelah pelukan Sofia terurai dengan sendirinya, Dirga segera beranjak dari kasur menuju kamar mandi, dia harus mendinginkan Oding atau dia akan memperkosa Sofia saat ini juga.
"Huuff!!" Dirga membuang nafasnya kasar saat menatap Sofia yang kembali terlelap.
******
__ADS_1
Di rumah Sofia, Rita sedang panik karena Sofia yang tak pulang sejak semalam. Dia mengadu pada suaminya, anak semata wayangnya tak tahu ada di mana, bahkan tidak memberikan kabar.
"Pa, ke mana Sofia? Kenapa dia belum pulang juga? Mama takut terjadi sesuatu padanya." Ungkap Rita pada suaminya.
"Tenanglah Ma!! Sofia itu bukan anak kecil lagi, yang tak tau arah jalan pulang. Dia pasti sedang menenangkan diri!!" Jelas suaminya.
"Papa ini. Tidak ada kkawatir-khawatirnya sama anak sendiri." Ucap Rita kesal pada suaminya.
"Mama sudah menghubunginya?" Tanya Zainal.
"Sudah Pa. Tapi tidak aktif!!" Jawab Rita.
"Sabarlah Ma. Sebentar lagi dia pasti akan pulang!!" Bujuk Zainal pada istrinya.
"Pokoknya, kalau sebentar lagi Sofia nggak pulang, kita harus lapor polisi!!" Ujar Rita dsngan nada sedikit keras. Zainal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Rita.
Rita memang sangat posesif terhadap anak semata wayangnya. Ketika dulu setelah melahirkan Sofia, rahim Rita bermasalah, oleh karena itu rahimnya harus diangkat dan tak bisa mengandung lagi. Zainal tak mempermasalahkan itu, karena adanya Sofia menurutnya sudah cukup bersama juga istri yang sangat amat dia cintai.
******
Matahari pagi masuk melalui celah-celah apartement Dirga, membuat wanita yang berada di kasur merasa terganggu oleh cahaya yang masuk ke dalam kamar.
"Ump!! Astaga ini sudah siang!!" Gumam Sofia pada dirinya sendiri. Dia melihat sisi kasur yang lain namun tak menemukan pria yang bersamanya sejak semalam.
Sofia membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, sedangkan Dirga saat ini sudah masuk ke dalam kamar dengan 2 piring sarapan.
"Eh, kemana dia?" Gumam Dirga. Terdengar suara percikan air dari kamar mandi dan akhornya Dirga tahu di mana Sofia sekarang.
"Kau sudah bangun? Aku memesan sarapan untuk kita!" Sapa Dirga saat Sofia keluar dari kamar mandi. "Aku juga memesan baju ganti untukmu!" Lanjut Dirga yang melihat Sofia mengenakan baju semalam.
"Oh, tidak perlu. Aku pakai yang ini saja!" Tolak Sofia.
"Tapi itu terlihat tidak baik untuk di kenakan!" Dirga menyerahkan paperbag di tangannya.
"Tidak perlu, lagi pula aku bawah mobil sendiri. Tidak ada yang akan melihatnya." Tolak Sofia.
"Baiklah! Kau memang keras kepala. Tapi jangan menolak sarapan bwrsamaku." Ucap Dirga kemudian duduk di sofa.
Tak ada alasan lagi untuk Sofia menolak lagi pula saat ini dia sudah sangat lapar. Sofia duduk di samping Dirga di sofa yang sama, sesengguhnya dia tidak mau berhadapan dengan Dirga, Sofia sangat malu untuk menatapnya saat ini.
"Makanlah, aku tau kau lapar setelah pertempuran semalam!" Ucap Dirga mengoda.
__ADS_1
Sofia menatap tajam pada Dirga. Mulutnya tak tahu malu sekali, pikirnya.
"Ngomong-ngomong, kita belum kenalan. Semenjak semalam kita hanya menyapa dengan kau dan kau!" Ucap Dirga.
"Tidak perlu. Sebaiknya kita tidak saling mengenal. Itu akan lebih baik." Ucap Sofia tanpa memandang Dirga.
"Kenapa?" Tanya Dirga penasaran.
"Aku sudah selesai. Aku pamit dan..." Sofia menggantung ucapannya.
"Dan apa?" Dirga menatap Sofia yang berada di sampingnya.
"Dan, trima kasih." Ucap Sofia.
"Untuk apa?" Dirga mengerutkan dahinya.
"Untuk... Untuk... menjadi penganti walau hanya semalam!!" Ujar Sofia lalu beranjak hendak pergi.
"Tunggu..." Dirga meraih lengan Sofia, reflek Sofia berbalik menghadap Dirga yang kini mencegahnya.
Mata mereka saling menatap, ada rasa tak rela di ke empat mata yang salit menatap satu sama lain. Sofia tersadar, dan menjadi salah tingkah akhirnya membuang pandangannya ke bawah.
Cup
"Itu, untuk perpisahan kita. Aku ingin lebih, tapi mungkin kau tak mengijinkannya!" Jelas Dirga.
Sofia ingin melangkah lagi, namun lagi-lagi Dirga menarik lengannya. "Apa begitu mahal, hingga kau tak mau menyebut namamu?" Tanya Dirga.
.
.
.
.
By... By...
Jangan lupa like, coment and votenya...
Hadiahnya juga, kembang kopinya jangan lupa di kirim😁
__ADS_1
Love you all💘