One Night Love

One Night Love
Promo Novel : Menjadi istri untuk pengasuh suamiku


__ADS_3

Menjadi seorang pelayan di rumah keluarga besar, Sinar diminta untuk menikahi tuan muda kedua yang cacat dan pemarah keluarga itu.


*


*


Surya Haditama, putra kedua dikeluarga Haditama, keluarga terkaya se Asia tenggara, namun karena suatu kejadian, di mana saat malam Surya tengah mabuk keras dan mengendarai mobil.


Braakk


Tiba-tiba mobil yang di kendarai Surya menabrak pembatas jalan dan terguling hingga beberapa kali.


Karena benturan-benturan yang terjadi, Surya tak sadarkan diri hingga di larikan ke rumah sakit.


*


Sinar menikahi Surya untuk mendapatkan uang guna membiayai pengobatan ibunya yang sudah sakit-sakitan dan biaya kuliah adiknya.


Pernikahan yang mereka jalani bukanlah pernikahan yang sesungguhnya, melainkan hanya untuk menjadi pengasuh dari tuan muda kedua di keluarga itu yang cacat.


Apa yang akan terjadi dalam pernikahan mereka? Bagaimana cara Sinar mengahadapi tuan muda, suaminya yang pemarah itu?



Bab.1 ~Kecelakaan


Di sebuah club malam, pria yang bernama Surya Haditama sedang mabuk berat.


"Sur, kamu ikut gue aja. kamu nggak bisa bawah mobil sekarang," ujar salah seorang teman Surya bernama Aldrik.


"Nggak. Gue bisa, kok," jawab Surya dengan gaya khas orang mabuk.


"Sur, jangan! Lebih baik, ikut gue." ucap Aldrik lagi.


"Nggak-nggak. Gue bisa! Oke, gue pergi," ucap Surya lalu meninggalkan kedua temannya di depan club itu.

__ADS_1


"Udahlah. Lo, tau Surya, kan. Dia, nggak bisa dibantah," ucap Hendra dengan menepuk pelan pundak Aldrik.


"Ya," jawab Aldrik lirih, menatap kepergian Surya dengan tangan yang diletakkan di kantongnya.


Surya pergi meninggalkan club dengan keadaan mabuk. Dia melewati jalan tol dengan kecepatan tinggi, hingga Surya hilang keseimbangan dan mobil itu menabrak pembatas jalan.


Braakk


Mobil yang kendarai Surya terguling hingga beberapa kali. Kepalanya pening seperti berputar-putar, matanya berkedip beberapa kali hingga akhirnya tertutup rapat.


*


*


Sinar matahari menyinari ruangan rumah sakit yang ditempati Surya saat ini.


Matanya perlahan-lahan terbuka. Putih, bersih yang ditatapnya. Surya mengedarkan pandangan ke seisi ruangan yang di tempati saat ini, kepalanya pusing, terasa nyeri pula di kedua pahanya.


"Aaakkh!" pekik Surya saat rasa nyeri itu semakin terasa saat melakukan gerakan.


"Surya! Kamu sudah bangun?" tanya seorang wanita paruh baya yang mendekatinya.


"Kamu jangan bangyak gerak dulu. Mama panggil dokter, ya," ucap Marlin Haditama, ibunya Surya.


"Aku kenapa, Ma?" tanya Surya.


"Tenang, Sayang. Kamu habis kecelakaan semalam," jawab Marlin.


"Kecelakaan? Aku tidak tau, Ma," ujar Surya.


"Sudahlah. Mama akan panggil dokter untuk melihat keadaanmu," ujar Marlin


Marlin menekan bel yang ada di ruangan itu, dan tak lama kemudian dokter pun datang.


"Slamat siang, Nyonya," sapa Dokter pria yang masuk keruangan itu.

__ADS_1


"Siang, Dok. Surya sudah bangun, apa bisa di periksa sekarang?" tanya Marlin.


"Tentu, saja," jawab dokter itu kemudian berlalu menuju tempat Surya.


"Permisi, ya. Saya akan memeriksa Anda sebentar." ujar dokter itu seraya mengeluarkan stetoskop dari dalam jasnya beserta peralatan lain yang akan dia gunakan.


"Bagaimana, dok?" tanya Marlin.


"Keadaannya sudah membaik, tapi... Kondisi kakinya, tulang pahanya patah akibat terjepit dan itu membutuhkan waktu untuk pemulihannya. Dia harus di operasi dan setelahnya dia harus memakai kursi roda, untuk waktu lumayan lama." jelas dokter.


"Kapan harus dilakukan operasinya, Dok?" tanya Marlin tegang.


"Mungkin seminggu lagi, kondisi fisiknya harus membaik lebih dahulu baru bisa di operasi." jawab dokter itu lagi.


"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik, masalah biaya jangan di pikirkan. Kami akan membayar semuanya dan berikan perawatan terbaik untuk putraku." ujar Marlin.


"Ma, apa yang terjadi, Ma?" tanya Surya dengan suara lemah setelah mendengar percakapan Marlin dan dokter yang menanganinya.


"Kamu jangan khawatir, Nak. Kamu kecelakaan, dan harus di operasi, tulang pahamu patah. Kamu harus kuat, semuanya pasti berjalan lancar." jawab Marlin.


Rasa-rasanya Marlin ingin menangis. Hati seorang ibu sangat lemah saat melihat anaknya dalam musibah dan masalah, namun saat ini dia harus kuat menahan segala perih di hatinya, dia tidak mau Surya oatah semangat kerena musibah yang di dapatnya saat ini. Dia harus menguatkan Surya dan meyakinkannya agar bisa melewati cobaan hidupnya.


Surya menatap langit-langit kamar di rumah sakit itu, mencoba mengingat kejadian yang terjadi padanya, namun yang diingatnya hanya waktu saat dia berada di club itu.


"Aakh!" pekik Surya lagi saat perih itu terasa kembali.


"Surya!" sapa Marlin.


Klek


.


.


.

__ADS_1


.


By... By...


__ADS_2