One Night Love

One Night Love
Lidya tersingkirkan


__ADS_3

Lidya mengambil gelas itu dan meminumnya hingga tandas.


"Bagaimana?" Tanya kevin menatap Lidya yang tengah meletakan gelasnya di meja.


"Segar! Trima kasih." Ucap Lidya dengan mengangkat sedikit sudut bibirnya ke atas, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Lidya memegang kepalanya yang kini terasa berpitar-putar hingga akhirnya Lidya pun kehilangan kesadarannya.


"Ini adalah akhirmu!!" Gumam Kevin tersenyum.


Kevin meraih ponsel yang berada dalam tas Lidya, dengan tidak sadarnya Lidya Kevin mengambil jari telunjuknya untuk membuka ponsel milik Lidya.


Digeser ke kanan dan kiri layar ponsel milik Lidya itu dan akhirnya dia menemukan video dan foto-foto dirinya dan Lidya yang Lidya gunakan untuk mengancam dirinya, dengan sekali tekan foto-foto beserta video yang di depannya hilang seketika.


******


Malam harinya kini keluarga Pradipta dan keluarga Antara yang hanya Riana dan Dirga sedang mengadakan makan malam bersama.


Selesai makan malam bersama seluruhnya berkumpul di ruang tamu, untuk membahas masalah perjodohan kedua anak mereka.


"Jadi bagaimana, apa kita akan melakukan pertunangan? Di mana? Dan kapan, kita harus memutuskannya segera!" Ucap Zainal.


"Iya, benar. Lihatlah kedua sejoli ini yang sudah tak bisa di lepas lagi, kayak prangko yang selalu menempel." Sambung Riana.


Saat ini Dirga dan Sofia tengah duduk di antara semua orang paruh baya itu, namun keduanya tak lepas dari rangkulan masing-masing.


Walaupun keduanya tak mengutarakan perasaan masing-masing dengan jelas, namun dengan sikap mereka, membuktikan bahwa keduanya mempunyai rasa yang sama.


"Kalau menurut aku sih, tidak perlu mengadakan pertungan. Langsung saja dengan pernikahannya." Usul Rita.


"Itu terserah mereka saja!" Jawab Riana, menujukan pada Sofia dan Dirga.


Sedangkan yang di tujukan dengan usul para orang tua itu, hanya sibuk dengan saling berbisik-bisik dan tersemyum berdua.


"Astaga! Benar apa yang kau katakan Rita. Sepertinya kita harus menglangsungkan pernikahan dengan segera. Jangan sampai mereka tidak tahan dan berbuat yang tidak-tidak." Ucap Riana lemas.


Zainal hanya melihat keduanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hei... Apa kalian akan menundah pernikahan?" Seru Zainal dengan suara sedikit di keraskan.


"Haa! Apa Om? Nggak usah di tunda, kami siap kok kapan saja!" Ujar Dirga cepat di ikuti anggukan oleh Sofia.


"Astaga, kujodohkan juga kau dengan Ningsih, Dirga!!" Seru Riana yang kesal.


"Haa!! Siapa Ningsih? Kamu punya pacar lain?" Sofia menatap tajam ke arah Dirga yang saat ini duduk tegak di sampingnya.


"Eh, tidak ada kok. Itu mama asal bicara saja. Aku juga tidak kenal dengan yang namanya Ningsih!" Jawab Dirga cepat.

__ADS_1


"Kamu tau Ningsih, Sof? Dia itu pekerja di mansion antara. Usianya sudah hampir 50 tahun, tapi sangat genit jika bertrmu dengannya." Jelas Riana.


"Benarkah?" Sodia memandang Dirga dan mendapat anggukan darinya. "Jangan Tante, masa sudah tua mau di jadikan menantu. 'Kan ada aku. Kalau boleh ya... Pecat aja itu pekerjanya, biar nggak bisa genit-genit lagi sama Dirga!" Lanjut Sofia yang membuat senyum mengembang di bibir pria yang sedang di bicarakan itu.


Sontak ke tiga orang di depan mereka menepuk jidat masing-masing dengan ungkapan yang Sofia lontarkan.


"Itulah, kalau sudah cinta. T** kucing pun rasa coklat!!" Seru Zainal.


"Kamu juga dulu kayak gitu Pa." Sambung Rita pada suaminya.


Zainal hanya tersenyum mendengar lontaran istri tercintanya.


"Sekarang bagaimana? Apa kalian mau di adakan pertunangan atau langsung ke pernikahan saja?" Lanjut Riana.


Sofia dan Dirga saling pandang, dan akhirnya menjawab dengan serentak.


"Langsung ke pernikahan saja!!" Seru kedua calon mempelai.


"Kompak ya. Yang kemarin di tolak mentah-mentah, dan yang menolak berkali-kali pun sekarang bucinnya bukan main!!" Seru Riana demgan menggelengkan kepalanya. Sedangkan mereka berdua hanya saling tatap dan tersenyum.


Seperti tak puas-puasnya memandang wajah pasangan masing-masing, Sofia dan Dirga saling menatap dan tersenyum sendiri.


"Seperti orang gila saja!!" Batin para orang tua.


******


"Aku di mana?" Gumam Lidya.


"Nona, anda sudah bangun?" Tanya seorang wanita yang mengenakan pakaian putih serta topi khusus dengan seragamnya.


"Saya di mana?" Tanya Lidya yang masih terlihat lemas.


"Anda di rumah sakit Nona!" Jawab suster yang berseragam putih tadi.


"Rumah sakit? Apa yang terjadi?" Tanya Lidya shok.


"Semalam anda di antarkan seorang pria, kerabat anda. Dan anda datang dalam keadaan pingsan." Jelas suster.


"Apa?" Lidya mengingat kejadian terakhir di mana dia berada, namun seingatnya dia berada di apartement Kevin saat akhirnya dia tak tau apa-apa lagi. "Tidak mungkin!" Sangkal Lidya.


Ceklek


"Anda sudah sadar?" Dokter memasuki ruangan tempat Lidya berada sekarang.


"Apa yang terjadi dengan saya Dok?" Tanya Lidya cepat.

__ADS_1


"Maaf Nona, semalam anda pingsan dan setelah di periksa ternyata anda keracunan makanan, dan itu berdampak terhadap janin anda. Karena itu pula kami harus melakukan kuret pada janin anda dan itu sudah di tanda tangani oleh pria yang mengantarkan Nona ke sini." Jelas Dokter itu.


"Apa? Tidak mungkin!! Tidak mungkin!!" Pekik Lidya dan kembali tidak sadarkan diri.


******


Di apartement Kevin segera mengemas barang-barangnya, dan segera meninggalkan tempat itu. Tak lupa juga Kevin membereskan barang bukti yang di lakukannya pada Lidya.


Kevin pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat tinggal lain.


Di dalam mobil Kevin menyetir dengan tersenyum. Dia berpikir jika Lidya sudah berhasil di singkairkannya.


"Satu orang sudah tersingkir, tinggal pria yang bersama Sofia. Dia pun akan ku singkirkan secepatnya." Gumam Kevin dengan tersenyum sinis.


******


Tanpa pertunangan pernikahan Sofia dam Dirga di tetapkan satu bulan dari sekarang. Kini keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Persiapan pernikahan di serahkan pada orang tua mereka.


"Ri, bagaimana dengan urusan WO?" Tanya Rita.


"Tenang saja, aku punya kenalan yang bagus untuk itu. Kita tinggal menunggu hasilnya nanti." Ujar Riana.


Kini mereka berdua sedang berada di sebuah butik ternama dengan desainer ternama pula, untuk memilih gaun pasangan pengantin.


"Tidak terasa ya! Anak-anak kita sudah sebesar ini sekarang. Terasa baru kemarin mereka bermain di pangkuan kita." Ucap Rita.


"Udahlah. Nggak usah melow, kita ini sudah saatnya menggedong cucu." Jawab Riana dengan tersenyum.


"Kau ini! Dari dulu, tak bisa di ajak serius sedikit saja!" Rita hampir saja meneteskan air matanya, namun tertahan karena sang sahabat yang tak pernah serius dengan kehidupannya sekali pun.


******


Lidya kini telah berada di apatementnya sendiri. Dia terlihat sangat frustasi, dia tahu kalau semua kejadian yang terjadi padanya adalah perbuatan Kevin dan dia berjanji untuk membelas dendam, namun bukan pada kevin melainkan pada Sofia.


"Lihat saja, apa yang akan aku lakukan?" Gumam Lidya. "Semua ini gara-gara Sofia. Wanita ja**ng tidak tahu malu." Pekik Lidya yang memberontak melempar segala sesuatu yang berada di depannya.


"Tunggu saja Sofia. Aku akan membalas dendam padamu!!" Seru Lidya dengan emosi yang memuncak.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2