
Dirga hanya cekikikan melihat foto yang di layangkan Zainal pada Sofia. Pastinya Sofia tidak akan mau dengan pria itu. Sejenak membayangkan Sofia yang mempunyai tubuh sempurna untuk seorang wanita dengan wajah yang cantik, jelita dan tinggi di atas rata-rata untuk seorang wanita yang bisa di katakan sempurna di sandingkan dengan pria yang berada di foto dalam ponsel Zainal. Dirga tak bisa menahan rasa geli membayangkan persandingan mereka yang dari tinggi saja pria itu kalah jauh dari Sofia.
"Mama juga nggak setuju. Orang jelek begitu mau di jadiin mantu. Ogah. Mending sama Dirga, 'kan mama bisa minta foto sama dia." Ujar Rita menyatakan ketidak sukaannya.
"Gimana Sof? Mau sama dokter itu?" Tanya Zainal lagi.
"Nggak!!" Sofia kembali duduk di samping Dirga lalu merangkul lengan Pria itu.
"Sofia, sama Dirga saja ya. Gimana mau 'kan?" Ujar Rita memohon.
Sofia memandang Rita juga Zainal bergantian. Ada apa dengan dua orang ini? Batinnya.
"Sofia, mau nggak nikah sama aku?" Tanya Dirga tiba-tiba.
"Nggak!!" Jawab Sofia segera melepas rangkulan tangannya di lengan Dirga.
pupus sudah harapan Dirga, Dia segera meminta ijin untuk pulang. Jawaban Sofia membuatnya sungguh patah hati, biarlah waktu yang menjawab. Sekarang dia harus menghindar dari sang mama, karena terus-menerus mendesaknya untuk segera menikah. Tapi mungkin, menikah saja dengan pilihan mama, mungkin itu yang terbaik. Menerima keadaan, mungkin ini karmanya atas perbuatan yang selama ini dia lakukan, pikir Dirga.
"Rupanya sudah larut. Saya permisi dulu! Om, Tante." Dirga beranjak dari kursinya dan segera melangkahkan kakinya keluar.
Sofia mengikuti langkah kaki Dirga dari belakang. Rita dan Zainal juga menyusul mereka.
"Trima kasih nak Dirga, sudah mau mampir untuk makan malam." Ujar Rita.
"Sama-sama Tante!" Dirga hendak berbalik tiba-tiba tepukan pelan terasa di pundaknya.
"Yang semangat!!" Dirga hanya tersenyum dan mengangguk pada Zainal.
"Trima kasih untuk makan malamnya, Nona Sofia." Ucap Dirga yang terakhir.
Sofia hanya dapat memandangi laki-laki yang kini telah masuk ke mobilnya tanpa berkata-kata.
"Sof!! Kamu itu telah melukai harga dirinya." Ucap sang ibu, kemudian berlalu dari sana, begitu juga Zainal.
Sofia kini berada di dalam kamarnya, berbaring di kasur dan memandangi langit-langit kamar yang nampak putih bersih.
"Apa ada yang salah dsngan kata-kataku?" Gumam Sofia.
"Aku belum siap untuk pernikahan. Salahnya di mana?" Sofia bertanya-tanya pada diri sendiri.
Dia dapat melihat raut kekecewaan di wajah Dirga saat pulang dari rumahnya tadi. Sungguh malam ini malam yang panjang bagi Sofia, matanya sulit terpejam memikirkan Dirga dengan sikap yang tak biasa saat dia pergi. Padahal beberapa menit sebelumnya, dia nampak bahagia mengobrol dengan Zainal dan juga Sofia, namun perubahan begitu mendadak dan Sofia tak mengerti akan itu.
******
__ADS_1
Saat ini Dirga melajukan mobilnya kembali pulang, bukan ke apartement melainkan ke Mansion utama Keluarganya.
"Slamat malam Tuan muda!!" Sapa satpam penjaga gerbang saat mobil itu akan masuk ke dalam mansion.
Dirga tak menjawab sapaan satpam, ketika gerbang terbuka dengan lebar Dirga segera melajukan mobilnya ke arah bagasi.
Langkah kakinya memasuki daerah dalam mansion hendak menuju kamarnya, tapi seseorang telah menyapanya.
"Hei kau!! Baru ingat jalan pulang, ya. Tumben sekali kau muncul di sini?" Sapa Riana yang tak lain adalah mamanya Dirga.
"Ma!! Aku capek. Aku istirahat dulu." Jawab Dirga kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ada apa dengan anak itu?" Gumam Riana. Riana sangat tahu watak dari anaknya, jika dia muncul di mansion pasti ada sesuatu yang terjadi hingga dia akan pulang dan mengurung dirinya dalam kamar.
Riana mengetahui itu, karna hal itu pernah terjadi beberapa tahun lalu dan membuat Dirga melajang hingga saat ini.
"Fander datang ke rumah sekarang!" Pinta Riana di balik telvon.
Riana memutus panggilan seketika dan duduk kembali di ruang tamu. Dia harus mencari tahu, apa yang terjadi. Jangan sampai luka lama terulang kembali, pikirnya.
Beberapa menit kemudian Fander telah sampai di mansion. Jarak mansion dan rumah Fander tidak terlalu jauh, hingga dia dapat segera sampai saat menerima perintah dari Riana. Dia segera memasuki mansion dan menuju tempat di mana Nyonya besarnya itu berada.
"Slamat malam Nyonya!!" Sapa Fander.
"Sesuatu? Apa ya, saya tidak mengerti maksud anda?" Fander terlihat bingung mengahadapi pertanyaan Riana.
"Fander!! Kamu tahu, Dirga saat ini ada di sini?" Fander hanya menggelwngkan kepalanya dengan pertanyaan Riana. "Dia baru saja sampai. Entah dari mana? Aku takut, kejadian dulu terjadi lagi Fander." Jelas Riana. "Kau mengertikan?" Lanjutnya.
Fander mengangguk mengerti, "Beberapa hari ini saya kurang tahu, kegiatan Tuan di luar kantor. Tuan tidak mengijinkan saya untuk ikut dengannya. Mungkin wanita itu? Wanita itu beberapa hari ini dekat dengan Tuan!" Jelas Fander.
"Siapa wanita itu Fander?" Tanya Riana lagi.
"Saya akan menyerahkan detailnya besok pada Nyonya!!" Ujar Fander.
"Baiklah. Besok harus ada! Saya akan mengurusnya, nanti." Ucap Riana. "Kau boleh pergi."
Fander berdiri dan segera berlalu dari tempatnya. Kini pekerjaannya akan bertamba jika masalahnya sudah begini.
Sekian lama Fander mengikuti keluarga Antara. Menjadi anak terlantar dan di pungut oleh ayah Dirga kemudian bekerja pada mereka. Hingga Fander menjadi seperti sekarang semua karena uluran tangan dari ayahnya Dirga.
Sementara ayah Dirga telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kini Fander tak bisa meninggalkan keluarga itu, jasa mereka begitu besar menurutnya hingga dia harua berbakti pada mereka.
Di kamarnya, Dirga berada di dalam kamar mandi membasahi tubuhnya dengan air yang sangat dingin pada malam itu.
__ADS_1
Penolakan Sofia yang mentah-mentah padanya, membuat kata-kata yang di lontarkan Sofia terakhir kali terngiang-ngiang di telinganya.
Harga dirinya jatuh. Di hadapan orang tua Sofia, hingga dia tak sanggup berkata-kata lagi. Kini dia akan menerima perjodohan yang akan di atur oleh mamanya, walaupun itu Ningsih. Tapi menurut Dirga tidak mungkin mamanya tega menjodohkannya dengan Ningsih, wanita paruh baya yang bekerja untuk mereka. Pasti mamanya sudah mempunyai calon wanita lain untuknya.
******
Pagi harinya, Sofia berada di meja makan bersama Zainal juga Rita. Mereka sedang sarapan dengan diam hingga Zainal mengangkat bicara.
"Sof, Papa boleh tanya?" Sofia menganggukan kepalanya pada Zainal. "Apa hubungan kamu dengan Tuan Dirga itu?"
"Hubungan?" Sofia pun bingung menjawab pertanyaan Zainal. "Hubungan kami biasa aja Pa!! Nggak ada spesial."
"Kalau seperti itu. Setidaknya kamu bisa menolaknya dengan lembut. Kamu tau? Kamu sudah mencoreng harga dirinya sebagai seorang lelaki, dengan kamu menolaknya mentah-mentah seperti tadi malam!!" Jelas Zainal.
Sofia terdiam mendengar Zainal bicara. "Benarkah?" Batinnya. Sofia tak menjawab lagi perkataan Zainal, dia segera melanjutkan sarapannya dan berangkat ke kantor.
******
Di tempat lain Dirga juga sedang sarapan dengan Riana. Riana membuatkan sarapan pada anaknya, karena jika hati Dirga sedang baik-baik saja maka dia tidak akan muncul di mansion dan sarapan dengannya pagi ini.
"Dir, kamu tidak ke kantor?" Tanya Riana di sela-sela sarapan mereka.
"Tidak!" Jawab Dirga singkat. "Apa Mama sudah punya pilihan untukku?" Lanjut Dirga.
"Pilihan? Maksudnya?" Tanya Riana bingung.
"Pilihan untukku jadikan istri!" Jawab Dirga.
Riana shok mendengar percakapan Dirga. Saat ini dia sedang membicarakan pernikahannya sendiri, biasanya dia akan menghindari percakapan tentang pernikahan dan pagi ini, dia bahkan menanyakan calonnya.
"Baiklah. Jika kau mau Mama akan mengatur pertemuan dengan anak dari teman Mama!!" Jawab Riana tersenyum.
Dirga kembali ke kamarnya setelah selesai sarapan. Dia berbaring di kasur dengan tatapan kosong ke depan hingga bunyi ponsel terdengar dan membuyarkan lamunannya.
"Sofia!!" Gumam Dirga saat melihat ke layar ponselnya.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...