One Night Love

One Night Love
Ruangan vvip


__ADS_3

Sofia sedang mengendarai mobilnya sampai di lampu merah, Sofia berhenti sejenak menunggu lampu untuk berubah hijau. Tanpa Sofia sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari mobil yang lain.


"Fan, Fan, itu dia. Itu dia Fan." Ucap Dirga sambil menunjuk mobil di seberang mereka.


"Siapa Tuan?" Tanya Fander yang melihat bosnya seperti menemukan emas.


"Wanita itu!!" Jawab Dirga tidak menyangka akan melihatnya lagi. Fander mengikuti arah yang di tunjuk oleh Dirga, dan benar saja, wanita yang selama ini dia cari sedang mengendarai mobil yang sama dengan mobil yang di bawahnya malam itu.


Dengan cepat Dirga turun dari mobilnya untuk menyapa wanita yang membuat rasa penasarannya tak kunjung hilang hingga sekarang, namun mungkin belum waktunya untuk bertemu. Lampu lalu lintas itu dengan cepat berubah hijau, dan Sofia segera menancapkan gas mobilnya dan segera berlalu. Hampir saja Dirga sampai di mobil itu.


"Sial!!!" Umpat Dirga, dengan meninju angin di depannya.


"Fander, kejar mobilnya!!!" Pinta Dirga secepat kilat masuk dalam mobilnya.


Fander segera menancap gas mobil yang di kendarainya, menyusul mobil yang tak jauh di depan mereka.


Karena banyaknya mobil yang lalu lalang saat ini, Fander kehilangan jejak mobil yang mereka kejar. Entah kemana perginya, hilang begitu saja.


"Mana mobilnya Fander?" Tanya Dirga yang tak melihat lagi mobil yang di kendarai Sofia.


"Tadi di depan Tuan!!" Jawab Fander.


"Mana? Sudah tidak ada." Ujar Dirga kesal.


"Kita kehilangan dia lagi Tuan!!" Sesal Fander.


"Kamu itu! Bisa nggak sih nyetirnya. Padahal sedikit lagi, pasti dapat!" Geram Dirga.


"Maaf, Tuan. Mungkin kita tidak melihat dia belok Tuan." Jawab Fander masih dengan memegang kemudinya.


******


Di sisi lain, tak jauh dari lampu merah beberapa ratus meter setelahnya Sofia memasuki parkiran butik langganan mamanya.


Sofia turun dan masuk ke dalam butik tersebut. Di pintu gerbang butik Sofia telah di jemput sang pemiliknya.


"Halo, Sofia!!" Sapa Pemilik butik.


"Halo, Nyonya Kymberli!" Jawab Sofia sopan.


"Owh, jangan panggil Nyonya. Panggil Tante saja. Mamamu sudah lama berlangganan dengan butik Tante, kami sudah seperti berteman." Ujar Kymberli, sang pemilik butik.


"Oh, baiklah Tante!!" Kymberli merangkul pundak Sofia dan segera masuk ke dalam butik.


"Katanya kamu mau cari baju kerja?" Ucap Kymberli menatap Sofia dengan pertanyaannya.


"Iya Tante. Papa maksa sih, buat aku kerja sama dia." Jawab Sofia.


"Ya-iyalah sayang. Kamu 'kan anak satu-satunya. Jadi kamu nanntinya akan menggantikan Papamu." Jelas Kymberli.


"Iya-ya Tante. Emang nggak bisa orang lain gitu?" Tanya Sofia sekedar basa-basi.


"Enggak bisa. Kamu tunggu di sini, biar tante cari yang kamu perlukan." Kymberli meninggalkan Sofia sebentar dan kembali dengan beberapa pakaian tangannya. "Lihat, kamu mau yang mana?" Kymberli menunjukan koleksi baju kerja pada Sofia.


"Berapa pasang Tan?" Tanya Sofia berdiri.


"Ini ada lima pasang!!" Jawab Kymberli.


"Itu saja deh Tan. Sofia ambil semua!!" Balas Sofia, yang tak ingin repot-repot.


"Loh, nggak di coba dulu? Siapa tahu kurang pas," Tanya kymberli lagi.

__ADS_1


"Nggak deh Tan. 'Kan sudah di pilih sama Tante. Pasti pas kok," ujar Sofia sambil tersenyum.


"Ya, sudah. Tante siapin dulu ya." Kymberli mendapat anggukan dari Sofia dan berlalu dari tempatnya.


Sesaat kemudian Kymberli kembali dengan paperbag di tangannya lalu menyerahkan pada Sofia.


"Ini. Kamu mau langsung pulang?" Tanya kymberli lagi.


"Iya Tan," Jawab Sofia dengan sedikit mengangguk.


"Sayang sekali. Padahal Tante masih ingin ngobrol-ngobrol sama kamu. Tante mau kenalin anak Tante," ucap kymberli tersenyum.


"Mungkin lain kali. Sofia main lagi ke sini!" Ucap Sofia juga.


"Iya deh. Anak Tante juga masih di luar negri. Nanti kalau dia pulang, Tante ajak kamu makan malam! Mau ya. Jangan nolak." Ujar kymberli penuh harap.


"Iya, Tan. Sofia pamit ya. By..." Pamit Sofia sambil melambaikan tangannya dan mendapatkan balasan dari Kymberli juga.


******


Esok hari kemudian...


Sofia sudah berada di kantor papanya. Kini dia sedang belajar dwngan di tuntun oleh papanya sendiri.


"Ok. Kamu siap? Kamu akan pergi bersama sekertaris papa." Ujar Zainal.


"Ok. Siap nggak siap sih Pa!" Ucap Sofia yang masih memiliki keraguan.


"Kamu tenang aja! Pasti bisa kok. Papa panggilin sekertaris papa ya." Sofia hanya mengangguk mendengarkan.


Zainal mengangkat gagang telvon, untuk menghubungi sakertarisnya. "Santi keruangan saya!" Pinta Zainal di telvon.


"Siang Tuan!" Sapa Sandra.


"Baik Tuan!" Jawab Sandra dengan mengangguk.


"Sandra, tolong kamu bimbing Sofia. Dia masih harus banyak belajar, Kamu bisa memberi tahunya apa yang perlu dan tidak." Ujar Zainal.


"Siap Tuan. Saya akan membantu Nona Sofia sebisa mungkin." Jawab Sandra mantap.


Sandra berusia 28 tahun saat ini, hampir seumuran dengan Sofia. Dia sudah bekerja di perusahaan Zainal sejak 4 tahun lalu.


"Bagaimana Sof, siap berangkat sekarang?" Tanya Zainal lagi. Sofia hanya menganggukan kepalanya. "Ya, sudah semangat ya!" Ucap Zainal memberi semangat.


Sofia beranjak dari kursi hendak pergi bersama Sandra, "Doain Sofia ya, Pa!"


"Ya, tentu. Semoga sukses." Ucap Zainal member semangat.


Sofia sebenarnya tidak berminat bekerja di kantor, tapi dia tak mungkin mengecewakan Zainal karena dia adalah anak satu-satunya.


******


Di perusahaan Dirga, dia sedang menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.


"Tuan, miting kita setengah jam lagi!!" Fander memberitahukan Dirga kembali, kalau di hitung-hitung sudah 5 kali Fander mengingatkan dia dengan miting hari ini.


"Fander, apa kau tak punya kata-kata lain selain miting itu? Aku sangat kesal padamu!!" Ucap Dirga sambil meremas batang hidungnya sendiri.


"Maaf, Tuan. Aku hanya mengingatkan!" Ucap Fander.


"Kau kira, aku sudah pikun?" Tatapan nyalang di berikan oleh Dirga pada Fander.

__ADS_1


"Siapa tahu, gara-gara memikirkan wanita itu Tuan jadi lupa ingatan!" Ucap Fander tanpa rasa takut sedikit pun.


Dirga mengambil bolpoin yang berada di atas mejanya dan meleparkan pada Fander, untunglah dia sigap menerima serangan yang tak seberapa itu.


"Tuan, tapi ada informasi dari Tuan Zainal." Ujar Fander lalu duduk di depan Dirga.


"Apa katanya?" Tanya Dirga santai.


"Hari ini putri Tuan Fander yang akan menggantikannya untuk miting bersama kita!" Ucap Fander berharap bosnya ini akan bersemangat mendengarnya.


"Lalu?" Dirga masih setia bersandar di kursinya.


"Ya, apa Tuan tidak tertarik sama sekali?" Tanya Fander penasaran.


"Buatmu saja!" Ucap Dirga ketus.


Fander seperti tidak percaya, Tuannya sudah tak tertarik lagi dengan wanita. Hampir 2 minggu ini Dirga tak lagi bermain-main dengan Wanita mana pun.


Fander mendekat ke arah Dirga dan meletakan punggung tangannya di dahi bosnya itu. "Mungkin saja sakit?" Batin Fander.


"Apa yang kau lakukan Fander?" Dirga menghempas tangan Dirga dari dahinya.


"Ku kira Tuan sedang sakit!" Jawab Fander


"Kau yang sakit! Ayo pergi." Dirga beranjak dari duduknya.


"Ke mana Tuan?" Tanya Fander sok polos.


"Miting Fander!!!"Jawab Dirga dengan mengeram.


******


Dirga dan Fander sampai di restoran yang di mana akan di adakan miting. Mereka langsung saja menuju ruang vvip yang sudah di pesankan oleh Zainal sebelumnya.


"Fander, di mana mereka?" Tanya Dirga menatap Fander.


"Mungkin macet Tuan. Kita tunggu saja!" Jawab Fander lalu mendorong Dirga untuk masuk. "Tuanku ini, semakin tidak bisa berpikir dengan jernih!!" Batin Fander.


Fander dan Dirga kini duduk berhadapan di balik meja antara mereka. Ruangan Vvip dengan pintu ruangan yang terbuat dari kaca, hingga memperlihatkan siapa yang akan menuju ke arah mereka.


"Pucuk dicinta, ulam pun tiba." Gumam Fander yang dapat di dengar oleh orang yang berada di sampingnya.


"Apa sih, Fander?" Bentak Dirga.


Wajah Fander, berseri-seri bagai memenangkan lotre melihat kedatangan 2 orang wanita menuju ke arah ruangan mereka. Dengan cepat Fander melangkah kearah pintu untyk menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Dirga tak ambil pusing dengan kelakuan Fander yang menurutnya berlebihan.


"Slamat siang Nona-Nona!!" Sapa Fander dengan senyum mengembang.


Dirga yang mendengar Fander menyapa, memiringkan kepala untuk melihat siapa yang datang dan dengan cepat berdiri dari kursinya. Hingga kursinya terdorong ke belakang.


"Kau!!" Pekik Dirga.


Deg deg deg deg


.


.


.


.

__ADS_1


By.... By....


__ADS_2