
Di rumah sakit Zainal, Rita juga Sandra sedang menunggu jawaban tentang keadaan Sofia dari dokter. Dirga dan Fander juga tak beranjak dari sana, dia menunggu di kursi yang tidak jauh dari tempat di mana Zainal, Rita dan Sandra berada.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya dokter dari ruangan UGD keluar juga.
Ceklek
Zainal beserta yang lainnya segera berdiri menghadang dokter yang akan keluar dari dalam ruang UGD. Dirga juga Fander segera mendekat ke arah dokter yang akan memberi keterangan.
"Kalian keluarga korban!" Zainal dan Rita mengangguk. "Korban baik-baik saja, saat ini. Dan dia sudah sadar. Kita hanya akan melakukan ronsen setelah dia sedikit pulih, takutnya ada luka dalam atau patah tulang. Tapi jika tidak ada keluhan lain dari pasien, mungkin tidak apa-apa." Jelas dokter yang menangani Sofia.
"Apa kami bisa bertemu?" Tanya Rita.
"Tentu! Tapi tidak lebih dari dua orang yang berada di dalam. Nanti kami akan memindahkannya ke ruang rawat." Ujar dokter sembari pergi dari tempatnya.
"Pa, ayo masuk!" Ajak Rita, Zainal pun mengikuti langkah istrinya ke dalam UGD.
"Sayang!!" Sapa Rita pada putrinya.
Sofia memandang Rita juga Zainal dengan dahi yang di perban hingga belakang kepalanya.
"Maafin Sofia Ma, Pa. Mata mama bengkak! Pasti habis nangis ya?" Ujar Sofia dengan suara pelan.
"Nggak Sayang! Mama khawatir sama kamu. Tapi kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya Rita. Sofia pun mengangguk.
"Sofia, apa yang kamu rasakan skarang?" Tanya Zainal.
"Nggak Pa! Cuma sedikit pusing. Papa jangan khawatir. Gimana sama mobil Sofia Pa?" Lanjutnya memikirkan mobil yang di kendarainya tadi.
"Kamu ini! Masih sempat-sempatnya mikirin mobil." Kesal Zainal.
"Papa!! Itu mobil kesayangan Sofia. Jangan di buang atau di jual!!" Rengek Sofia pada Zainal.
Mobil sport berwarna merah itu adalah mobil kesayangan Sofia. Dia mendapat hadiah mobil itu sejak dia berusia 17 tahun, lengkap dengan sim dan ktpnya sebagai hadiah dari Zainal.
"Kemana kamu? Waktu itu mobil di bawah Dirga berhari-hari, kamu nggak khawatir sama sekali." Ucap Zainal lagi.
"Tidak berhari-hari Pa. Hanya 2 hari, nggak sampai juga!" Sela Sofia.
"Astaga Sofia! Lihat keadaan kamu sekarang! Berhenti memikirkan mobil itu, atau Papa jual sekalian." Jawab Zainal.
Sofia memanyunkan bibirnya mendengar ocehan dari sang papa.
"Sofia, papa mau tanya. Kenapa kamu sampai kecelakaan?" Lanjut Zainal bertanya.
"Pa, nanti saja! Sofia masih lemah." Sela Rita yang tak mau anaknya di beri tekanan.
"Sofia, nggak konsen Pa. Mungkin karena capek." Jawab Sofia dengan segera.
"Bener. Kamu nggak di apa-apain sama Dirga, atau kalian bertengkar?" Tanya Zainal lagi masih penasaran.
"Nggak Pa. Tadi itu ada kucing dan Sofia kaget, tidak menginjak rem." Sofia berbohong pada Zainal. Dia tidak mau Zainal mempersalahkan Dirga atas kecerobohannya.
Sebenarnya Sandra tak bicara apapun pada Zainal. Sandra hanya mengatakan jika saat pulang Sofia memintanya naik taksi karena ingin mampir ke suatu tempat.
"Di luar ada Dirga!!" Ucap Rita.
"Haa!! Ada Dirga." Kaget Sofia. "Jangan di suruh masuk Ma!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Loh, kenapa? Dia datang untuk menjenguk kamu. Bahkan dia yang lebih dulu ada di sini sebelum Mama dan Papa sampai." Jelas Rita pada Sofia.
"Jangan ah!" Tolak Sofia yang tidak ongin bertemu dengan Dirga.
"Jangan seperti itu. Kasian dia, sudah menunggu sedari tadi." Rita memberi nasihat kepada putrinya.
"Huwa... Tapi 'kan, Sofia sedangg jelek sekarang." Rengeknya pada Rita.
Zainal yang mendengar itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya dia memikirkan wajahnya yang jelek di saat sekarang.
******
Di luar ruangan Dirga sudah tak sabar lagi untuk menemui Sofia.
"Fan, bisakah menyuruh mereka keluar? Aku ingin masuk!" Seru Dirga.
"Tuan, bersabarlah. Yang di dalam itu orangtuanya Tuan, bukan penculik." Ucap Fander.
"Astaga, suruh dokter memindahkan Sofia segera ke ruang rawat." Kesal Dirga.
Fander tak mengindahkan ucapan Dirga. Saat ini bosnya sudah gila, pikirnya.
Beberapa menit kemudian Zainal dan Rita keluar dari ruang UGD. Dirga segera berdiri dari kursinya.
"Sofia tidak bisa di ganggu sekarang!! Dia sedang istirahat." Ujar Zainal.
"Om!!" Dirga ongin menyelah tapi suara seorang wanita mengalihkan pandanganya.
"Rita!!" Panggil seorang wanita paruh baya.
"Ri..." Jawab Rita saat melihat Riana dan hendak melangkah menyapanya.
"Dirga!!" Seru Riana.
"Kau mengenalnya?" Tanya Rita ketika sampai di dekat teman lamanya.
"Dia putraku!" Jawab Riana.
"Apa!!" Seru Rita juga Zainal. Mereka tidak menyangkah jika Dirga adalah anak dari Riana.
"Kenapa kalian kaget seperti itu?" Tanya Riana. "Dia ini putra yang aku katakan padamu!" Lanjut Riana dengan menatap Rita.
"Astaga. Dirga adalah pria yang baru-baru ini di tolak Sofia, seperti yang ku ceritakan padamu." Ujar Rita.
"Apa?" Bergantian, kini Riana yang kaget. Betapa tidak putranya yang selama ini seorang casanova setaunya, di tolak oleh putri temannya sendiri.
"Ma!" Dirga melangkah menyapa Riana.
"Kamu. Jadi waktu itu kamu patah hati dengan anak teman mama sendiri! Astaga padahal mama mau menjodohkan kalian!" Seru Riana. "Tapi kalau kayak gini sih, berarti anaknya tante Rita nggak mau ya!" Lanjut Riana.
Dirga terperangah, mendengar pengakuan mamanya. Lalu perjodohan di batalkan, pikir Dirga. Dengan segera dia melangkahkan kakinya menuju ruang UGD di mana Sofia berada sekarang.
"Hei!! Mau ke mana kamu?" Tanya Riana setengah berteriak.
"Sofia," sapa Dirga.
"Dirga!!" Seru Sofia saat melihat Dirga menuju ke tempatnya berbaring.
__ADS_1
"Sofia, kamu baik? Maaf!!" Ucap Dirga.
"Untuk apa?" Sofia memalingkan wajah, tak mau menatap Dirga.
"Untuk yang tadi! Aku tidak mendengarkanmu. Kamu pasti kecewa denganku, tapi jujur aku menyesal." Ucap Dirga yang telah duduk di sampingnya.
"Nggak apa!! Kita satu sama menurutku." Ucap Sofia.
"Satu sama? Maksudnya?" Dirga tak mengerti dia mengerutkan dahinya mendengar pernyataan Sofia.
"Iya. Satu sama saling mengecewakan." Ucap Sofia.
Dirga tersenyum, mendengarnya. Dia mengambil jemari-jemari Wanita itu dan di letakan dalam genggamannya.
"Ayo, kita mulai dari awal lagi." Ucap Dirga.
"Memulai apa? Malam itu? Nggak mau!" Ucap Sofia tegas.
"Mulai hubungan kita lagi. Tapi kalau kamu mau aku juga mau, kalau memulai dari malam di mana... ump!!!" Sofia membekap mulut Dirga karena Rita telah memasuki ruangan itu.
"Kenapa kalian?" Tanya Rita bingung, karena Sofia membungkam mulut Dirga.
"Emp.. Tante," sapa Dirga saat memalingkan wajahnya.
"Tidak apa-apa Ma! Apa Sofia boleh pulang sekarang?" Tanyanya pada Rita.
"Belum sayang! Paling kamu harus menginap dulu, soalnya kata dokter kamu harus di ronsen." Jawab Rita.
"Slamat siang," sapa dokter yang baru masuk.
"Siang dok." Jawab Rita.
"Bagaimana keadaan Nona?" Tanya dokter.
"Baik dok! Hanya sedikit pusing." Jawab Sofia.
"Baiklah, anda akan di pindahkan ke ruang rawat!" Ujar Dokter sembari memeriksa kembali keadaan Sofia.
"Belum bisa pulang Dok?" Tanya Sofia lagi. Dia sudah bosan berbaring di ranjang rumah sakit, walaupun baru beberapa waktu dia berada di sana.
"Untuk saat ini, belum! Mungkin beberapa hari lagi, paling cepat 3 hari." Jawab dokter itu, dengan mempersilakan suster yang membawah kursi roda ke dekat Sofia.
"Biar saya saja Sus!" Minta Dirga, suster pun memberikan kursi roda itu padanya.
"Ayo Beb," Sofia menatap tajam saat Dirga mengulurkan tangannya untuk membantu Sofia.
Saat Dirga membantu Sofia turun dari ranjang ke kursi roda, Sofia berujar dengan setengah berbisik. "Kondisikan mulutmu!!" Seru Sofia.
Saat keluar dari ruang UGD sofia di kagetkan dengan kehidaran wanita paruh baya yang tak lain adalah mamanya Dirga.
"Tante!!" Seru Sofia.
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...