One Night Love

One Night Love
Masalah pribadi


__ADS_3

Dirga dan Fander sampai di restoran yang di mana akan di adakan miting. Mereka langsung saja menuju ruang vvip yang sudah di pesankan oleh Zainal sebelumnya.


"Fander, di mana mereka?" Tanya Dirga menatap Fander.


"Mungkin macet Tuan. Kita tunggu saja!" Jawab Fander lalu mendorong Dirga untuk masuk. "Tuanku ini, semakin tidak bisa berpikir dengan jernih!!" Batin Fander.


Fander dan Dirga kini duduk berhadapan di balik meja antara mereka. Ruangan Vvip dengan pintu ruangan yang terbuat dari kaca, hingga memperlihatkan siapa yang akan menuju ke arah mereka.


"Pucuk dicinta, ulam pun tiba." Gumam Fander yang dapat di dengar oleh orang yang berada di sampingnya.


"Apa sih, Fander?" Bentak Dirga.


Wajah Fander, berseri-seri bagai memenangkan lotre melihat kedatangan 2 orang wanita menuju ke arah ruangan mereka. Dengan cepat Fander melangkah kearah pintu untyk menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Dirga tak ambil pusing dengan kelakuan Fander yang menurutnya berlebihan.


"Slamat siang Nona-Nona!!" Sapa Fander dengan senyum mengembang.


Dirga yang mendengar Fander menyapa, memiringkan kepala untuk melihat siapa yang datang dan dengan cepat berdiri dari kursinya. Hingga kursinya terdorong ke belakang.


"Kau!!" Pekik Dirga.


Deg deg deg deg


Sofia menatap pria yang berada di hadapannya saat ini. "Kenapa harus dia!" Batin Sofia.


"Sslamat sing!!" Sapa Sofia gugup. Jantungnya berdetak dengan cepat, seakan ingin keluar dari tempatnya.


Dirga segera menyeret Sofia duduk di sampingnya.


"Eh..." Pekik Sofia.


"Eh-eh... Nona..." Sandra kebingungan melihat Sofia yang telah di seret rekan mereka, ingin menyusul tapi Fander lebih dulu menyeretnya juga, duduk berdampingan di depan Dirga dan Sofia.


Sandra menatap bingung dua orang di depannya. Dirga yang menatap Sofia dengan tatapan yang dapat Sandra artikan dan Sofia hanya diam seribu bahasa.


"Nona... Anda baik-baik saja!" Sandra bertanya dengan raut kebingungan.


"Hm, ya! Aku baik." Jawab Sofia dengan sedikit gugup.


"Sudahlah. Kau tidak akan mengerti dengan urusan mereka!!" Ujar Fander dengan berbisik.


Sandra memalingkan wajahnya ke arah Fander. Menatap mencari jawaban lain darinya.


"Bukankah kita akan miting?" Tanya Sofia, memecah keheningan antara dirinya dan Dirga.


"Hm, berikan berkasmu!!" Ucap Dirga sambil tersenyum.


"Haa.., kita akan membahasnya dulu!!" Ucap Sandra pada Sofia.

__ADS_1


"Tidak perlu," Dirga merampas berkas dari tangan Sofia. "Di mana harus tanda tangan?" Lanjutnya lagi.


"Haa..," Kaget Sandra dan mulut menganga.


Fander dan Sofia terlihat biasa saja, sedangkan Sandra tidak mengerti apapun saat ini. Mereka akan miting tapi tanpa pembahasan sudah mau tanda tangan saja, pikirnya.


"A-apa ki-kita tidak perlu membahasnya dulu?" Tanya Sandra terbata.


"Tidak. Aku menyetujui semuanya. Apapun itu, untung atau rugi. Yang pasti sekarang aku sudah beruntung!!" Jawab Dirga, sedikit tidak masuk akal, tapi entah apa yang di pikirkan pria yang satu ini.


"Nona... Apa tidak perlu membicarakannya dulu?" Tanya Sandra yang takut jika ada kesalahan.


"Di situ!!" Jawab Sofia, tapi bukan pada Sandra melainkan untuk Dirga jawabannya. Saat ini yang di pikirkan Sofia adalah jangan sampai Dirga buka mulut tentang hubungan mereka berdua pada gadis yang menemaninya sekarang. Lagi pula papanya sudah menjelaskan tentang isi kontrak dari berkas yang berada di tangan Dirga saat ini, yang pastinya akan sangat menguntungkan bagi pihak perusahaan mereka.


Dirga mengambil bolpoin dan segera membubuhi tanda tangannya di kertas yang berisi tulisan di depannya.


"Selesai. Apa ada lagi?" Tanya Dirga kembali.


Fander dan Sandra hanya menyaksikan interaksi antara keduanya. Dirga yang selalu tersenyum dan Sofia yang hanya diam membisu seribu bahasa.


Sandra menatap kembali Sofia, apa ada sesuatu antara mereka? Pikirnya.


"Sudah," jawab Sofia ketus. "Apa pria ini tak bisa bersikap biasa saja!!" Batinnya.


"Baiklah!! Apa kita bisa berkenalan sekarang?" Ucap Dirga mengulurkan tangannya. Lama tak ada respon dari Sofia, "sebagai rekan bisnis!!" Lanjut Dirga.


"Sofia anestasya Pradipta." Ucap Sofia lengkap.


"Nama yang bagus, Nona Sofia." Jawab Dirga tanpa melepas tangan Sofia. Sofia ingin melepaskan genggaman tangan Dirga, namun dia begitu eratnya menggenggamnya. "Dirga Antara." Lanjut Dirga mantap.


"Nona Sofia, apa sekarang kau bisa ikut denganku?" Tanya Dirga lagi.


"Tidak! Aku masih banyak pekerjaan!" Jawab Dofia ketus, segera melepas tangannya saat Dirga lengah.


"Owh, padahal aku ingin membicarakan masalah pribadi padamu!" Dirga cuek, namun dengan tegas kembali berkata. "Kalau kau mau, aku bisa ikut ke kantormu. Untuk membicarakannya!!"


"Tidak!!" Pekik Sofia, hingga Fander dan sandra terperanjat.


"Nona Sofia, jangan galak-galak. Nanti wajahmu berkeriput. Aku suka dengan wajahmu yang sekarang!" Goda Dirga.


"Maaf!!" Sofia menatap Fander dan Sandra yang berada di depannya, lalu meminta maaf.


"Tidak apa-apa!!" Sofia menatap tajam pada Dirga. Kata maaf yang di tujukan bukan padanya tapi dengan santainya dia yang menjawab.


"Nona Sofia, apa kita bisa pergi sekarang?" Tanya Firga lagi dengan tatapan yang bisa di artikan oleh Sofia.


Ikut atau aku... Bongkar. Begitulah kira-kira arti tatapan dari Dirga.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Sofia.


"Nona, kita akan ke mana?" Tanya Sandra.


"Bukan kita. Tapi aku dan dia! Fander akan mengantarkanmu." Bukan Sofia yang menjawab melainkan Dirga lalu berdiri meraih tangan Sofia untuk ikut dengannya.


"Apa?" Kaget Sandra. "Bagaimana bisa aku meninggalkan Nona. Jika terjafi sesuatu Tuan Zainal akan menggorok leherku!! Batin Sandra yang cemas. "Nona," panggil Sandra seperti meminta untuk tidak ikut dengan laki-laki di sampingnya.


"San, pergilah. Dia asisten tuan Dirga. Bilang sama papa, kalau aku ada urusan sebentar!" Jawab Sofia.


"Baiklah Nona. Tapi, anda akan baik-baik saja 'kan?" Raut wajah Sandra menggambarkan kecemasan.


"Tenanglah! Aku tidak makan orang. Aku hanya suka makan daging." Jawab Dirga sedang meledek Sofia.


"Ayo!" Dirga langsung menyeret Sofia untuk pergi dengannya.


Sandra termangu melihat dua orang itu. "Sepertinya mereka punya hubungannya!" Batin Sandra menduga.


"Sudalah! Jangan pikirkan mereka. Mereka ada urusan yang belum selesai!" Ujar Fander pada Sandra yang termenung.


"Urusan apa?" Tanya Sandra menatap Fander menunggu jawaban.


"Hanya mereka berdua yang tau!" Jawab Fander yang tak menghilangkan rasa penasarannya.


"Apa mereka saling mempunyai hubungan?" Tanyanya lagi.


"Aku tidak tau, apa hubungan mereka! Yang pasti bosku itu hampir gila karena bosmu itu!" Jawab Fander cuek.


"Apa? Kenapa?" Tanya Sandra lagi dengan sangat penasaran.


"Sudahlah. Apa kau mau makan dulu? Atau langsung pergi." Tanya Fander mengakhiri pembicaraan tentang Dirga dan Sofia.


"Tidak perlu. Aku mau ke kantor sekarang!" Jawab Sandra cepat. Dia pun tak mau berlama-lama dengan Fander dalam ruangan itu.


******


Sofia dan Dirga sekarang berada dalam mobil. Mereka hanya saling membisu, hingga Sofia memecah keheningan di antara mereka.


"Kita akan ke mana?" Tanya Sofia.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2