
Tepat pukul tujuh pagi, Mella-sang ibu tiri Jian, memberikan obat pada Damar. Pria paruh baya yang 3 tahun terakhir ini harus hidup bergantung pada obat karena penyakitnya. Namun, pria tersebut tetap semangat bekerja guba menafkahi keluarga.
"Ayah pamit kerja dulu, ya, ma," pamit Damar pada sang istri.
"Iya. Hati-hati, ya!" Mella melambaikan tangan usai menjabat tangan suaminya.
Setelah Damar pergi, perhatian Mella teralih pada suara notifikasi yang berasal dari ponselnya. Ia mengambil ponsel tersebut yang tergeletak di atas meja makan.
Aku sudah transfer 50 juta.
Pesan tersebut di kirim oleh seseorang. Mella segera menghapus pesan tersebut, kemudian pergi dari rumah setelah mengambil tas slempangnya dari kamar.
Di ruang kerja Jian, di kantor.
Jian menghentikan sejenak pekerjaannya. Mengingat hari ini merupakan 4 tahun kepergian sang ibunda tercinta. Seorang wanita baik berhatia mulia itu harus meninggal dengan cara tragis.
Jian memegangi kedua sisi kepalanya, rasanya tidak kuat jika harus mengingat hal tersebut lama-lama. Membuat kepalanya sakit dan terasa akan meledak. Sampai saat ini, ia masih tidak tahu siapa pelaku di balik kematian ibunya.
Suara ketukan pintu membuatnya tersadar dari segala lamunannya. Ia segera mempersilahkan orang tersebut masuk.
"Nona, ada seseorang yang menitipkan ini untukmu." Seorang cleaning service memberikan sebuah amplop coklat berukuran kecil pada Jian.
"Terima kasi," ucapnya sembari menerima amplop tersebut.
"Sama-sama, nona. Kalau begitu, saya permisi!" pamit si cleaning service.
Setelah cleaning service tersebut pergi, Jian langsung membuka isi amplop tersebut. Di dalamnya terdapat seembar kertas putih yang lipat. Jian segera membuka lipatan kertasnya. Ia mengernyit saat melihat isi dalam kertas. Hnya sebuah nomer telepon yang membuatnya kebingungan.
"Apa ini maksudnya?" pikirnya.
__ADS_1
Pintu ruangannya seketika terbuka kembali, dan ia segera memasukan kertas tersebut ke dalam tasnya.
🌷🌷🌷
Seorang pria yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya tengah menatap layar ponselnya berulang kali. Ya, dia adalah Daven. Dia sedang menunggu telpon dari seseorang.
"KenapaJian belum juga menghubungi nomerku? Aa amplop itu belun sampai di tangannya?" pikirnya.
Saat dia mulai lelah menunggu panggilan masuk dari orang ia harapkan, nomer tidak di kenal pun kini masuk ke panggilan di ponselnya. Dengan ketidak sabaran Daven mengangkat telpon tersebut.
"Halo.."
"Maaf, anda siapa, ya? Apa anda yang mengirim amplop itu pada saya?"
Suara yang terdengar imut di telinga Daven itu membuatnya bersorak dalam hati. Akhirnya ia bisa mendapatkan nomer telpon sang pujaan tanpa harus memintanya.
"Ya. Itu saya. Saya CEO PT. mayora Sentosa."
Mendengar nama perusahaan yang di ucapkan sang penelpon membuat Jian ingat dengan percakapannya tempo hari bersama Alana. Ia langsung membulatkan mata saat sadar nama pria tersebut.
"Tuan Daven?" gumamnya dalam hati.
"Halo.. Halo.. Jian?"
Daven memeriksa saluran telpon di ponsel saat ponselnya mengeluarkan beep sebanyak 3 kali. Memastikan apa Jian masih berada di sana, namun sayangnya saluran telpon sudah terputus dengan sengaja di matikan oleh Jian.
"Kenapa dia mematikn telponnya? Padahal aku masih ingin mendengar suara imutnya dan mengobrol lama dengannya." Ia tampak kesal, lalu melemparkan ponselnya ke arah samping sofa.
Sementara di restoran yang tidak jaih dari gedung tempat Jian bekerja. Wanita tersebut tampak shock dengan fakta yang ia dapat hari ini. Entah dia tidak sadar atau memang bego, ternyata Daven yang beberapa hari lalu makan siang dengannya merupakan Daven yang sama dengan pria yang di taksir temannya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Alana yang kebetulan sedang makan siang dengannya.
Jian menggeleng kepalanya cepat. "Ti-tidak. Tidak apa-apa."
Aan merasa ada yang aneh dengan sikap Jian. Usai menghubungi nomer telpon yang di kirim seseorang, temannya itu terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Jadi siapa yang mengirimimu nomer telpon itu? Dan apa tujuannya?" Mendengar pertanyaan Alana membuat Jian semakin gugup.
"Di-dia ... dia hanya orang iseng. Dan aku tidak tahu tidak tahu apa tujuannya. Sudahlah, tidak usah di bahas. Tidak penting juga. Ayo makan lagi!"
Jian berusaha tersenyum untuk menutupi kebohongannya. Ia sengaja bohong dengan alasan tidak ingin membuat satu-satunya teman di kantor marah padanya. Lantaran Alana sudah mewanti-wanti sejak awal agar ia tidak sampai naksir jika tahu pria pujaannya seperti apa. Apalagi kalau sampai dia tahu jika dirinya pernah makan siang bersama, meskipun hanya bentuk perminta maafan, sebab pria itu nyaris menabraknya.
Bersambung...
___
Jangan lupa juga untuk:
👍Tinggalkan Like
📝Komentar
❤Masukan rak buku favorit
📦Beri Hadiah
Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:
IG: wind.rahma
__ADS_1