One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Jebakan


__ADS_3

"Wooyyy bangsaaaat ..." teriak Ardy keluar dari persembunyiannya, mau tidak mau Daven pun ikut keluar dan berdiri di samping temannya.


Beberapa preman yang berada di sana seketika menoleh dan berdiri, mereka semua terheran mengapa ada orang lain yang bisa datang gudang tua tempat persembunyian mereka bahkan tanpa di ketahui.


"Siapa, lo?" tanya salah satu dari mereka yang mempunyai badan lebih besar.


Tanpa menjawab pertanyaan dari preman tersebut, Ardy berjalan menghampiri dan melayangkan sebuah pukulan keras pada preman itu.


BUGGH...


Preman itu nyaris terjatuh, namun segera di tangkap oleh teman-temannya. Lantaran tidak terima, ia langsung bangkit dan membalas perbuatan Ardy, namun Ardy dengan cepat menangkis tangan itu dan kembali memberinya tonjokan di perut.


Preman yang lain pun kini ikut menghajar Ardy dan Daven, dan suara perkelahian mereka kini terdengar oleh polisi.


"Semuanya, angkat tangan!" teriak salah satu polisi, menghentikan perkelahian di antara mereka.


Para preman itu terlihat panik sekarang. Mereka semua sibuk akan menyelamatkan diri masing-masing, namun hal tersebut tidak akan di biarkan begitu saja. Kelima polisi itu segera menangkap mereka satu persatu, sementara Ardy dan Daven melumpuhkan beberapa dari yang hendak berniat kabur.


Usai satu persatu di borgol, kini Daven mendekat ke arah preman yang paling besar badannya.


"Apa kau mengenalku?" tanya Daven pada preman tersebut.


"Gua gak kenal sama lo, " jawabnya.


"Tapi kau mengenal Sagara kan?" tanya Daven lagi.


"Siapa Sagara? Gua gak kenal," elaknya.


"Dia papaku, dan aku putranya, kau anak buah papaku, bukan?"


Pertanyaan Daven membuat preman tersebut diam, dia tidak menyangka jika yang sedang berada di hadapannya itu putra bosnya.


"Lo pikir gua bakal percaya sama omong kosong lo itu?" ujar preman tersebut meremehkan.


"Buktinya aku tahu gudang tua ini berada, " jawaban Daven membuat preman tersebut diam kembali.


"Lo mau apa, hah?" tanya preman itu kemudian.


Daven menoleh pada Ardy, memberi isyarat pada pria itu agar bicara. Ardy mengangguk paham.


"Saya yakin kau pasti memiliki anak dan istrimu di rumah. Jika kau di penjara, maka siapa yang akan melindunginya nanti?" ujar Ardy.


"Sial, gua gak mau di penjara!"


"Kalau kau tidak mau ku penjarakan, maka kau harus menuruti permintaanku!" pinta Ardy membuat preman tersebut menatapnya ragu.


"Gua bakal turutin permintaan lo, asal setelah ini lo lepasin gua!"

__ADS_1


"Baik."


"Apa mau lo?"


Kemudian Ardy mengatakan perintah apa yang harus di lakukan oleh preman itu.


🌷🌷🌷


Di depan sebuah restoran, seorang pria tengah menenteng kantong plastik besar berisi makanan. Lalu memasukannya ke dalam bagasi mobil. Saat baru saja memasuki mobilnya, perhatiannya teralih pada dering panggilan masuk dari ponselnya. Ia pun segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo, ada apa?" tanya Sagara memburu.


"Halo, bos. Gua ada kabar baik, Anet sudah kita temukan, bos," ujar seseorang dari seberang sana.


Mimik wajah Sagara berubah senang, ia tidak menyangka jika Anet akan kembali di temukan.


"Serius? Coba video call, aku ingin melihatnya," pintanya, bersiap mengubah panggilan menjadi panggilan video call.


"Jangan, bos. Langsung kesini saja, kalau video call terus ada orang lain yang lihat, bisa ketahuan," cegah anak buahnya.


Apa yang di katakan anak buahnya ada benarnya juga, ia sudah tidak sabar untuk segera pergi ke tempat dimana Anet di sekap.


"Ya sudah, saya kesana sekarang."


Usai mematikan saluran telepon, Sagara menghidupkan mobil dan menancap gas dengan kecepatan tinggi.


"Pak, target sudah menuju kesini, sebaiknya kita harus segera mengatur posisi agar dia tidak sampai kabur," ucap Ardy pada kepala polisi.


"Siap, tuan. Kami akan mengatur semuanya."


Ketua polisi pun memberikan instruksi pada polisi yang lainnya, mereka semua paham apa yang harus di lakukan.


"Gua udah nurutin permintaan lo. Sekarang lo harus bebasin gua dari sini!" pinta preman itu.


"Saya tidak akan melepaskan kau sebelum Sagara tertangkap," balas Ardy.


"Awas aja kalo lo sampai berkhianat, gua gak akan segan-segan buat habisin lo!" ancam preman itu.


Ardy, Daven, juga satu orang polisi menyembunyikan mobil mereka ke tempat yang aman, agar Sagara tidak sampai melihat ada mobil di sana terlebih mobil polisi.


Dan begitu terdengar suara mobil datang, mereka semua bersiap-siap menempatkan posisi masing-masing.


Sagara baru mulai masuk ke dalam gudang tersebut sambil membawa kantong plastik makana di tangannya, senyuman yang mengembang di bibirnya begitu lebar. Namun langkahnya terhenti saat melihat gudang tersebut tampak berantakan.


"Kenapa berantakan sekali?" pikirnya.


"Apa mereka sudah memainkan Anet lagi?"

__ADS_1


"Ah, bodo amat. Yang penting Anet tersiksa," ujarnya kemudian.


Langkah Sagara semakin masuk ke dalam, dan suasana gudang tampak sekali.


"Baraaaa... cekiiii... Ijaaaal.." teriak Sagara memanggil para anak buahnya, namun tidak ada sahutan dari mereka.


"Aneh, kenapa mereka tidak menjawab panggilanku?" Sagara semakin kebingungan, namun ia tetap berpikir positif, mungkin anak buahnya tengah membuat kejutan padanya.


Akhirnya ia memutuskan untuk naik ke lantas atas saja. Baru saja ia melangkah selangkah dari tempat berdirinya, kelima polisi itu kini keluar dari persembunyiannya lalu mengepung Sagara.


"Saudara Sagara, angkat tangan!" kelima polisi tersebut menodongkan senjata api pada pria yang reflek menjatuhkan kantong plastik makanannya.


"Apa-apaan ini?" tanya Sagara panik.


"Anda kami tangkap atas tuduhan kasus pelecehan yang di lakukan pada saudari Lilyaneth dan kasus penyekapan selama sekian tahun," jelas polisi.


"Sa-"


Baru saja Sagara akan menyangkal, namun sorot matanya kini tertuju pada dua orang pria yang baru saja datang. Dan fokus utamanya itu pada putranya.


"Daven!" pekiknya lirih.


"Aku yang membawa mereka semua kesini, pa," aku Daven sebelum ayahnya melontarkan pertanyaan padanya.


"Apa yang kau lakukan, Dav?" sentak Sagara mulai tersulut emosi.


"Aku hanya melakukan apa yang sudah papa lakukan pada bibi Lily," jawab pria itu.


Kini sorot mata Sagara tertuju pada pria yang berdiri di samping putranya. Yaitu Ardy Tamajaya.


"Tangkap dia, pak!" pinta Ardy memberi komando.


"Siap."


"Sial, ini semua jebakan," umpat Sagara.


Kini ekor mata pria itu dengan lincah mencari celah untuk kabur.


Bersambung...


...Kira-kira Sagara bakal lolos atau tertangkap nih???😬...


...Ayoooo...


...Nantikan bab selanjutnya dan jangan lupa untuk berikan dukungan kalian. Like, komen, vote, dan hadiah, yaaaaa. Tambahkan ke rak favorit juga agar tidak sampai ketinggalan bab lanjutannya....


...Follow juga IG: @wind.rahma...

__ADS_1


__ADS_2