
Daven dan Jian sudah sampai di Apartemen. Kedua tangan pria itu sibuk menenteng banyak paper bag berbagai ukuran. Ketika baru masuk lift, pria tersebut teringat ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.
"Jian, kau naik duluan tidak apa-apa? Ponselku tertinggal di mobil." Wanita itupun mengangguk.
"Iya. Tidak apa-apa. Sekali lagi, terima kasih banyak, ya, Dav!" ucapnya.
Daven hanya membalas dengan senyuman. Kemudian pergi setelah menurunkan barang-barang dari tangannya. Sementara Jian merasa lega, setidaknya pria itu tidak akan mengantarnya menuju Unit kamarnya.
Lift berhenti di lantai tujuh, dengan cepat dan susah payah ia membawa barang-barangnya keluar menuju kamar. Sampai di Unit, ia di kejutkan oleh benda yang tergeletak di atas meja.
"Tas siapa ini?" pikirnya.
Pikirannya kini sudah kemana-mana. Apa ada seorang wanita di sini selain dirinya?
Samar-samar Jian mendengar suara dari balik kamar Ardy. Ia kembali melangkah dan berhenti tepat di depan pintu kamar pria tersebut. Pintunya sedikit terbuka, Jian memberanikan diri melihat kamar Ardy dari celah pintu. Seketika matanya melotot, napasnya tertahan melihat apa yang sedang ada di dalam sana.
Seorang pria tengah mencumbu wanitanya dengan begitu agresif. Dan wanita tersebut tampak menikmati setiap sentuhan sang pria. Melihat adegan yang di lakukan Ardy bersama kekasihnya saat ini, entah mengapa Jian merasakan sebersit rasa sakit di hatinya.
Sekali lagi, bukan hanya dia nemiliki perasaan, tapi mengingat dirinya di perlakukan seperti sekedar di jadikan pelarian yang membuat hatinya terasa perih.
Tak ingin keberadaannya sampai di ketahui oleh salah satu dari mereka, Jian langsung ke kamar dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan di lantai. Ia menaruh paper bag di atas tempat tidurnya, kemudian ikut duduk di sana.
"Dia kejam sekali! Semua wanita hanya ia gunakan untuk kepuasan dirinya saja!" Jian terisak, menangis tersedu-sedu.
"Aku sudah tidak tahan berada di sini. Aku ingin keluar dari sini. Aku ingin pulang. Ayaaah ... Maafkan aku, aku ingin pulaaaang ... hiks .. hiks .."
Tangisnya semakin menjadi, namun ia berusaha untuk tidak sampai mengeluarkan suara.
Suara notifikasi pesan masuk bunyi berasal dari tas kecilnya. Ia segera mengambil benda pipih tersebut untuk memeriksa lesan yang di kirim oleh seseorang.
__ADS_1
Jangan pernah memikirkan orang yang sudah memperlakukanmu dengan buruk. Itu hanya akan menyakiti hatimu sendiri. Selamat tidur, Jian.
Usai membaca pesan yang di kirim oleh Daven barusan, Jian merasa lebih tenang. Yang di katakan pria itu sangatlah benar.
Daven bisa tahu apa yang tengah ia rasakan bahkan tanpa ia ceritakan. Sikap dan perlakuan pria itu begitu hangat dan manis padanya. Sehingga membuat perasaannya mulai tersentuh. Namun ucapan Alana tiba-tiba saja terngiang di telinganya. Jika ia tidak boleh sampai naksir apalagi sampai memiliki perasaan lebih terhadap pria tersebut.
"Kau ini kenapa, Jian? Sejak kapan kau menyukai pria secepat ini?" ia memperingatkan dirinya sendiri agar tidak mudah jatuh hati pada pria manapun.
Jian menyeka air mata yang masih basah di pipinya. Kemudian menarik selimut, membaringkan tubuhnya, lalu memjamkan kedua matanya.
🌷🌷🌷
Hari ini merupakan hari ketiga Jian pulang dan pergi bersama Daven selama tak saling sapa dengan Ardy. Meski berulang kali ia menolak keras ajakan Daven, tapi pria itu akan berusaha lebih keras lagi dalam membujuknya.
Dan hari ini sudah pukul tujuh malam, mereka baru sampai di Apartemen.
"Mobilmu bagaimana?" tanya Jian pada pria di sampingnya, karena saat ini mereka memakai mobil milik orang lain yang baru saja selesai di service di bengkel. Sebab mobil Daven mengalami pecah ban di pertengahan jalan tadi.
"Ya sudah, kalau begitu aku duluan," ujar Jian, Daven hanya menanggapinya dengan senyuman.
Jian turun dari mobil, kemudian melambaikan tangannya seiring mobil tersebut itu melaju. Seseorang yang tengah berdiri di balkon atas, tengah memperhatikan wanita tersebut yang dalam segi penampilan sudah jauh berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Itu kekasihmu?" pertanyaan seorang pria yang kini duduk di sofa menyambut kepulangan Jian.
Jian sedikit di buat terkejut oleh pertanyaan Ardy barusan. Apa dia melihatnya pulang bersama Daven?
"Siapa dia?"
Pertanyaan Ardy yang kedua barusan membuat Jian merasa sedikit lega. Mungkin karena Daven memakai mobil orang lain, sehingga Ardy tidak bisa mengenalinya.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" jawab Jian sambil berlalu. Namun pria tersebut segera bangkit menahannya.
"Lepaskan!" seru Jian saat lengannya di cekal oleh Ardy.
"Apa kau tidak dengar, jangan pernah lergi dengan siapapun tanpa seizinku?!" sentak Ardy dengan mata yang menyala merah, menandakan kemarahan.
"Memangnya kenapa? Itu hakku, tuan! Kau tidak bisa mengatur hidupku sesuka hatimu! Lagipula, mengapa aku tidak boleh berteman dengan pria lain sedangkan kau, bersenang-senang dengan kekasihmu sepanjang malam."
Ardy bungkam mendengat kata-kata Jian barusan. Wanita itu langsung pergi dari hadapan pria yang masih tidak menyangka jika dirinya dapat mengatakan hal seperti itu.
Pria tersebut duduk terkulai lemas di sofa. Menunduk seraya memegangi kedua sisi kepalanya. Semua orang pasti sedang menilainya buruk sekarang. Bahkan menyebutnya dengan pria egois. Atau mencapnya dengan sebuat 'Playboy/Badboy'.
Tapi percayalah, di balik sikapnya yang seperti itu, ada sebuah alasan tertentu yang tidak dapat ia jelaskan pada siapapun.
Karena terkadang, kita menilai seseorang dengan apa yang kita lihat. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang itu.
Bersambung...
___
Jangan lupa juga untuk:
👍Tinggalkan Like
📝Komentar
❤Masukan rak buku favorit
📦Beri Hadiah
__ADS_1
Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:
IG: wind.rahma