One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Makan Siang


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa?" Daven bertanya pada wanita yang saat ini jongkok sambil menutupi wajahnya. Ia merupakan orang yang nyaris di tabrak barusan.


"Wanita itu membuka kedua telapak tangan di wajahnya, lalu mendongak. Daven sedikit terkejut sekligus senang melihat siapa wanita di hadapannya. Jian, wanita yang membutnya penasaran.


"Ak-aku ... Aku tidak apa-apa," ucapnya dengan nada gemetar, lantaran kejadian yang menimpanya beberapa detik lalu.


Daven membantu Jian berdiri ketika wanita itu mencoba untuk bangkit.


"Terima kasih, tuan!" ucapnya.


"Ya, sama-sama. Sebagai perminta maafanku, bagaimana jika kau makan siang denganku?" tawar Daven.


"Ta'tapi kan-"


"Sudah. Ikut saja!" Daven membuka pintu samping mobilnya, lalu memberi isyarat pada Jian agar dia segera memasuki mobil tersebut. Wanita itupun menurut.


"Sudah bekerja berapa lama di perusahaan Ardy?" tanya Daven ketika mereka kini sedang makan siang di restoran yang kebetulan tidak jauh dari kantor tempat Jian bekerja.


Mereka sudah berkenalan di mobil tadi sewaktu perjalanan. Dan Daven sedikit terkejut mendengar nama yang pernah ia dengar dari mulut temannya beberapa hari lalu. Tapi pria itu dengan cepat menepis pikiran itu, karena tidak mungkin Jian yang Ardy maksud adalah Jian yang sama dengan Jian yang saat ini bersamanya. Lagipula. Jian yang ini merupakan sebatas karyawan di perusahaan itu. Mana mungkin Ardy mau berhubungan dengan wanita yang tidak selevel dengannya.


"Sekitar 3 bulan," jawabnya setelah terlihat berpikir sejenak.


"Oh," Daven menganggukan kepalanya.


"Ku mengenal tuan Ardy?" tanya Jian dengan wajah polos, sehingga menciptakan senyum di bibir pria yang sedari tadi tidak henti menatapnya.


"Ya. Tentu saja aku mengenalnya. Selain urusan bisnis dengan perusahaannya, kami juga berteman baik sejk lama," jelas pria itu.


Jian menganggukan kepalanya beberapa kali. Lalu kembali menyantap makanannya.

__ADS_1


"Aku dengar, seseorang telah membuat perusahaan Ardy rugi besar. Kau tahu sipa orangnya?" Jian langsung tersedak makanannya mendengar pertanyaan Daven. Beruntungnya pria itu segera memberinya minum.


Setelah merasa lebih baik, Jian meminta untuk segera pergi dari sana. Gun menghindari pertanyaan yang mungkin masih banyak akan pria itu tanyakan. Sebenarnya Daven masih ingin mengobrol banyak dengan wanita tersebut. Tapi dengan berat hati, ia menuruti permintaan Jian.


🌷🌷🌷


Sore ini jalanan ibu kota tidak terlalu padat oleh kendaraan yang berlalu lalang. Sehingga membuat Ardy cepat sampai ke Apartemennya.


Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa, melepas lelah lantaran seharian ini ia menemani Gea jalan. Apapun yang wanita itu inginkn selalu Ardy turuti tanpa ada sedikitpun penolakan, asalkan Gea juga mau memberikan kepuasan untuk hasrtnya kapanpun ia mau.


Bicara sol memuaskan hasrat, tiba-tiba saja dia jadi teringat Jian. Padahal jelas-jelas kekasihnya itu sudah kembali. Tapi entah kenapa, rasanya dia tidak ingin terlepas dari wanita polos itu.


Di rogohnya saku di balik jas navy-nya, mengeluarkan benda pipih dari sana. Lalu ia mendil nomer yang ia beri nama sebatas huruf J di sana.


"Sial! Kenapa dia tidak menjawab telponku?" umpatnya kesal saat tidak ada jawaban telponnya dari Jian.


"Aa yang sedang dia lakukan sehingga tidak menjawab telponku?" pikirnya.


"Aku akan memberinya hukumn besok karena telah berani mengabaikan panggilan telponku!" ujarnya sembari menggenggam ponsel erat-erat.


🌷🌷🌷


Mentari pagi sudah mulai menampakkan cahayanya. Seperti biasa, Jian naik angkutan umum untuk sampai ke tempat kerjanya. Sebenarnya ia bisa naik ojek ataupun taksi online. Hnya saja, selain hemat ongkos, juga terasa lebih menyenangkan.


Ia benar-benar merasa lega lantaran telinganya sudah tidak lagi mendengar cemoohan ataupun perkataan yang menyakitkan. Dan yang membutnya masih penasaran, sikap mereka yang samai saat ini masih ramah. Tak jarang dari mereka yang menyapa serta memberi senyuman hangat.


Alana, satu-satunya teman ngobrolnya berjalan menghampiri.


"Jian. Apa kau pun merasa aneh dengan sikap mereka yang seperti itu?"

__ADS_1


"Ya, tentu saja, Alana. Aku benar-benar merasakan hal aneh itu. Maka dari itu aku ingin menanyakan hal ini pada tuan Ardy."


"Tuan Ardy?" Alana menatap Jian dengan tatapan bingung.


"Ma-maksudku, aku ingin menanyakan hal ini padanya karena aku pikir ini ada hubungannya dengan kesalahan yang ku buat. Mungkin tuan Ardy tidak mau jika hal ini sampai terdengar orang luar atau media yang akan merusak reputasi terutama perusahaannya. Maka dari itu mungkin tuan meminta mereka untuk bersikap biasa saja padaku," jelas Jian yang dirinya pun tidak begitu yakin jika semua ini karena Ardy.


Alana menatap Jian ragu, tapi alasan wnita itu cukup masuk akal. Akhirnya di memutuskan untuk masuk ke ruang kerjanya lebih dulu, meninggalkan Jian yang kini tengah bernapas lega.


Syukurlah Alana percaya dengan ucapanku. Aku harap dia tidak berpikir yabg macam-macam termasuk hubunganku dengan tuan Ardy. Bodoh, aku memng terlalu ceroboh. Berani mengatakan 'hububgan' dengan pria itu.


Bersambung...


___


Sudah lihat Visual Ardy di YouTube, belum??


Jangan lupa untuk:


👍Tinggalkan Like


📝Komentar


❤Masukan rak buku favorit


📦Beri Hadiah


Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:


IG: wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2