
...Hayu VOTE buat yang belum memvoting!...
...🌷🌷🌷...
Ardy membopong tubuh Jian dan berjalan dengan langkah tergesa ke dalam klinik. Di dalam ia membaringkan tubuh wanita tersebut di atas ranjang pasien. Seorang Dokter wanita ikut menyusul masuk ke sana.
"Apa yang terjadi dengan nona ini, tuan?" tanya Dokter tersebut sebelum mengecek kondisi Jian.
"Dia shock dan tidak sadarkan diri, Dok," jawab Ardy dengan napas yang masih tersengal.
"Oh, baik, tuan. Tidak usah khawatir, saya akan coba mengecek kondisinya. Tuan bisa tunggu di luar sebentar."
"Baik, Dok."
Ardy kemudian keluar dari ruangan tersebut, sementara Daven pergi ke ruang yang ada di sebelahnya guna mengobati kakinya.
Tidak berapa lama, Dokter wanita tersebut keluar. Ardy yang semula duduk menunggu di deretan bangku besi kini bangkit berdiri.
"Bagaimana, Dok? Apa Jian sudah sadar?" tanya Ardy memburu.
Dokter itu tersenyum. "Sudah, tuan. Nona Jian tidak apa-apa, hanya saja dia butuh banyak istirahat. Karena saat ini dia tengah mengandung."
Ardy terbelalak. "Mengandung?"
Dokter tersebut mengangguk membenarkan. "Ya, nona Jian tengah mengandung dan usia kandungannya sudah menginjak minggu ke 3. Apa tuan suaminya?"
Ardy benar-benar gugup sekaligus shock. Tapi di sisi lain ia merasa senang, lantaran sebentar lagi Jian akan menjadi miliknya seutuhnya, tanpa harus takut Jian akan di rebut oleh Daven.
"Ah, i-iya. Saya suaminya. Jadi, apa istriku sudah tahu mengenai hal ini, Dok? " tanyanya memastikan.
"Belum, tuan. Saya melihat sepertinya istri anda mengalami shock berat, jadi saya lebih memberi tahu anda terlebih dahulu. Dan alangkah baiknya, nona Jian harus banyak istirahat, jangan terlalu capek apalagi sampai banyak pikiran. Sebab itu akan berpengaruh pada kandungannya!" jelas sang Dokter.
"Ya, Dok."
"Kalau begitu, saya akan buatkan resep dan vitamin untuk nona Jian. Permisi."
"Silahkan!"
Setelah Dokter tersebut pergi, Ardy terlihat sangat gelisah. Bagaimana cara ia nanti memberi tahu hal ini pada Jian dan orang tuanya. Ia takut jika nantinya ayah Jian kembali murka padanya.
Ardy mengusap wajah dan membuang napasnya sedikit kasar, kemudian ia masuk ke ruangan dimana Jian berada.
Di dalam, pria itu mendapati Jian tengah menangis. Ia segera menghampiri kemudian memeluk tubuh mungil wanita itu.
"Jian, kau baik-baik saja?" tanyanya lembut.
__ADS_1
Jian terisak di dada bidang milik Ardy, menumpahkan segala kesedihan yang ia dapat hari ini.
"Cup ..cup .. Jangan menangis, jangan terlalu memikirkan semua ini, ya! Aku akan bantu menyelesaikan kasus ini, tidak usah takut, kau tidak sendiri, Jian!" ujar pria itu berusaha menenangkan.
"Hiks .. hiks .. Bagaimana aku tidak bisa menangis, tuan. Sementara aku baru tahu jika ibuku di bunuh oleh cara keji. Hiks .. hiks .." Jian menangis sesenggukan.
Ardy tahu betapa hancurnya perasaan wanita itu sekarang. Tapi ia juga mengkhawatirkan kondisi Jian yang kini tengah mengandung anaknya.
"Aku akan menyeret Alana ke jalur hukum dengan pasal berlapis. Sebab yang ia lakukan ini tindak kriminal dan ia pembunuh berencana."
Ardy melepas pelukannya perlahan, kemudian kedua tangannya menangkup pipi Jian. Di usapnya air mata yang mengalir dari mata coklat karamel itu.
"Aku akan selalu ada di sisimu, Jian. Jangan takut, ya!"
"Terima kasih, tuan. Tapi, bagaimana cara aku memberi tahu ini pada ayah. Ayah harus tahu soal ini, tapi aku takut justru kondisi ayah akan kembali memburuk."
"Kita pikirkan ini lagi nanti, sekarang kau tenang dulu, ya!"
Jian mengangguk lemah. Ardy kembali mendekap tubuh Jian erat sembari membelai puncak kepala Jian dengan lembut.
Dari ambang pintu, Daven memperhatikan mereka. Jian terlihat begitu dalam pelukan Ardy, bahkan sedikitpun Jian tidak menolak pelukan pria itu. Berbeda halnya ketika ia menciumnya malam itu, Jian langsung marah. Hal itu membuat Daven hampir menyerah dengan perasaannya sendiri. Mungkin Jian memang bukan di takdirkan untuknya.
🌷🌷🌷
Mobil Ardy berhenti di pelataran rumah Jian. Pria itu melirik wanita di sampingnya, matanya tampak sembab akibat terlalu lama menangis.
Jian menghela napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Ya, tuan, kau benar. Aku harus bisa mengendalikan diri, sebelum aku menceritakan semua ini pada ayah," ujar Jian setuju.
"Ya sudah, sekarang hapus air matamu, jangan sampai ayahmu curiga!"
Jian mengangguk lemah.
Setelah merasa baik-baik saja, mereka pun turun dan masuk ke dalam rumah. Kebetulan, Damar dan Mella sedang duduk di ruang tamu. Mereka rupanya sudah baikan.
"Assalamu'alaikum, ayah," Jian dan Ardy mengucap salam secara bersamaan.
"Walaikum salam," jawab Damar dan Mella.
Keduanya menyalami Damar dan Mella secara bergantian. Kemudian mereka ikut duduk bergabung di sana.
"Nak, kau kenapa?" tanya Damar saat melihat mata sembab putrinya.
Jian melirik ke arah Ardy, sepasang mata mereka bertemu. Benar yang di katakan pria itu, ayahnya pasti akan curiga.
__ADS_1
"Mm .. Ak-aku, aku baik-baik saja, ayah," jawab Jian sambil berusaha tersenyum.
"Matamu sebesar telur dan kau masih berani membohongi ayahmu? Sungguh terlalu," timpal Mella.
"Aku hanya kelilipan saja, ibu. Tolong jangan memperkeruh keadaan!" pinta Jian sedikit tegas.
"Sudah, sudah. Jangan berdebat, ayah berharap ketenangan di rumah ini!" lerai Damar.
"Ya, ayah. Maafkan aku!" ucap Jian.
Sedangkan Mella memutar mata malas.
"Oh, ya. Nak Ardy, ada perlu apa mampir kemari?" tanya Damar kemudian.
Ardy kemudian menegakkan wajahnya mendapat pertanyaan hal tersebut.
"Ya, paman. Saya memang ada perlu pada paman."
"Perlu apa? Katakan!"
"Jadi, saya dan Jian berniat untuk membawa paman ke Dokter spesialis jantung untuk mengecek kondisi paman. Apa paman sudah benar-benar pulih atau masih memerlukan waktu pemulihan," jelas pria itu.
Damar sedikit heran. "Memangnya kenapa? Saya sudah pulih, jadi tidak perlu ke Dokter lagi. Lagipula, itu akan menambah hutang saya padamu," tolak Damar.
"Tenang saja, paman! Selama ini saya tidak pernah menganggap paman memiliki hutang pada saya. Ini memang niat baik saya, saya harap paman menerima tawaran saya."
Damar menoleh pada pada Jian, wanita itu mengangguk kepala agar ayahnya menerima tawaran Ardy.
"Ya sudah, saya ikut baiknya saja."
Jian dan Ardy menghela napas lega. Akhirnya Damar mau di ajak ke Dokter spesialis jantung. Dengan begitu, mereka bisa tahu apa pria paruh baya itu sudah pulih dan tidak akan mengalami serangan jantung mendadak lagi. Jika demikian, mereka akan mengatakan tentang fakta yang mereka dapat tadi siang. Sekarang, tinggal mengatur waktunya saja.
...Bersambung.....
___
...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...
...Kumpulin POIN dan VOTE...
...sebagai dukungan kalian!...
...Dengan cara klik HADIAH dan...
...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...
__ADS_1
...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...
...Follow ig @wind.rahma...