One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Titik Terang


__ADS_3

Ardy memarkirkan mobilnya di pelataran rumah seseorang. Kemudian masuk ke dalam rumah tersebut tanpa permisi, wajahnya tampak merah padam menahan amarah yang bergejolak di dalam tubuhnya.


"SAGARAAA ... KELUAR KAU!!!" teriak Ardy menggema di ruang tamu rumah tersebut.


"SAGARAAA ... AKU MINTA KAU KELUAR SEKARAAANG ..." teriak Ardy lagi saat tak mendapatkan jawaban dari sana.


Seorang wanita yang tengah memasak di dapur menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Siapa yang teriak marah-marah di rumahku?" gumamnya.


Lantaran penasaran, wanita tersebut memastikan kompornya dan bergegas menuju sumber suara dengan perasaan panik.


"SAGARAAAA ... AKU MINTA-"


"Ardy!" pekik wanita yang baru saja datang dari arah arah. "Kau kenapa teriak marah-marah di sini?" tanya wanita itu kemudian.


"Bibi Jenny, dimana Sagara?" tanya Ardy tanpa basa-basi.


Jenny menatap Ardy dengan penuh kebingungan.


"Suami saya tadi ke kantor, memangnya ada apa, Dy?"


"Dia tidak ada di sana, bibi. Maka dari itu aku mencarinya kemari. Dimana dia sekarang?" tanya Ardy tak mengurangi emosinya.


"Tapi tadi suami saya bilang mau ke kantor, mungkin dia sedang ada meeting di luar," jawab Jenny mengira-ngira.


Ardy yakin, jika Sagara tidak sedang mengurus urusan kantor. Sebab ia tahu sekali, jika ayah dari temannya itu memiliki kaki tangan untuk menghandle semua pekerjaan di perusahaannya.


Tanpa berpamitan, Ardy pergi dari rumah tersebut, meninggalkan Jenny yang masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi.


Di dalam mobilnya, Ardy memukul setir cukup keras berusaha melampiaskan kemarahannya. Entah harus kemana ia mencari pria yang sudah menyiksa ibunya itu. Namun seketika nama temannya terlintas dalam pikirannya.


"Daven. Sepertinya aku harus menanyakan pria sialan itu padanya," gumam Ardy.


Ia berharap dengan menanyakan keberadaan Sagara pada Daven dapat menemukan titik terang, dan masalah ini segera tuntas.


Ardy menghidupkan mesin mobilnya, menancap gas dengan kecepatan tinggi. Secepat kilat, mobil tersebut pun hilang dari pelataran rumah Jenny.


Sementara di Unit Ardy. Ibu dan istrinya tengah menunggunya di sana. Suara ketukan pintu Unit mereka seketika membuat keduanya tegang.


Toktoktok...


"Dy, buka pintunya! Aku ingin bicara denganmu," teriak seseorang dari luar.


"Ardy ... Apa kau ada di dalam?" teriak seseorang itu lagi.

__ADS_1


Ketakutan Lily muncul kembali, namun Jian segera menenangkan ibu mertuanya.


"Bu, tidak usah takut, ya. Aku rasa itu Daven, aku buka pintunya, ya. Siapa tahu itu penting," ujar Jian.


"Jangan, nak!" cegah Lily, menghentikan Jian yang hendak beranjak dari duduknya.


"Siapapun dia jangan pernah membukakan pintu! Tunggu Ardy pulang saja, ya," imbuh wanita itu.


Jian pun akhirnya menurut, lagipula Ardy kan sudah mewanti-wanti juga agar mereka tidak membukakan pintu untuk siapapun itu saat pria itu sedang pergi.


"Ya sudah, aku tidak akan membuka pintunya," kata Jian sedikit menenangkan Lily.


Suara ketukan dan teriakan yang berasal dari Daven kini sudah tidak lagi terdengar, mungkin pria itu mengira jika tidak ada siapa-siapa di dalam Unit.


🌷🌷🌷


Satu jam kemudian Ardy sampai di Apartemen, setelah sebelumnya ia terjebak macet dan tidak ada jalan alternatif untuk di lewati. Ia bergegas turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sebuah lift yang ada di gedung tersebut.


Sampai di lantai tujuh, pria itu segera menuju ke Unit milik temannya.


Toktoktok...


"Dav ... Buka pintunya!"


Toktoktok ...


Pintu pun di buka oleh seorang pria yang ada di dalam, yaitu Daven.


"Dy, kenapa kau-"


"Kita bicara di dalam saja. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan juga padamu," pungkas Ardy menghentikan pertanyaan Daven.


"Baiklah, ayo masuk!" ajak Daven di angguki oleh Ardy.


Mereka kini tengah berada di ruang tengah Unit Daven. Kedua wajah mereka tampak serius sekali.


"Mamaku tadi meneleponku, dia mengatakan jika kau datang ke rumah marah-marah mencari papaku. Apa itu benar?" tanya Daven memulai pembicaraan.


Ardy mengangguk membenarkan. "Ya, aku mencari Sagara."


Daven sedikit terheran mendengar Ardy menyebut papanya langsung nama, tidak menggunakan sebutan yang biasa pria itu ucapkan.


"Memangnya ada masalah apa antara kau dan papaku, sampai kau mendatangi rumah bahkan tanpa permisi?" tanya Daven penasaran.


"Tadi pagi ibuku ketakutan, ibuku melihat pria yang sudah menyekapnya selama ini datang ke Apartemen ini. Lalu Jian sempat mengambil foto mobil pria itu, begitu aku tanya ke kantor polisi mengenai siapa pemilik mobil dengan plat XXX itu. Dan ternyata mobil itu milik Sagara, ayahmu," terang Ardy.

__ADS_1


"Maksudmu, orang yang sudah menyekap ibumu selama ini itu papaku?" ujar Daven memastikan.


"Ya."


"Tidak mungkin, Dy. Tidak mungkin papaku melakukan hal keji itu pada bibi Lily. Mungkin mobil itu milik Sagara yang lain," tampik Daven.


Ardy kemudian merogoh ponsel di saku jasnya, lalu memberikan foto mobil tersebut pada Daven.


"Apa kau masih ingin mengatakan itu mobil milik Sagara yang lain?" tanya Ardy ketika melihat ekspresi ketidak percayaan di wajah Daven saat melihat foto mobil di dalam ponselnya.


"Lalu, apa papamu datang kesini untuk menemuimu?" tanya Ardy lagi.


Daven mengembalikan ponsel tersebut pada Ardy seraya menganggukan kepalanya lemah.


"Tadi pagi papa memang datang kesini dan memintaku untuk meeting dengan perusahaan besar dari luar negeri besok. Sebab kaki tangan papaku tidak bisa mewakili meeting tersebut, kalaupun bisa di wakilkan, harus aku putranya. Karena papaku bilang ada urusan yang lebih penting,"jelas Daven


"Setelah kau mengetahui jika Sagara yang sudah menyekap ibuku, apa kau berpikir jika urusan terpentingnya itu mencari ibuku yang telah berhasil kabur darinya?"


Daven terdiam mendengar kalimat pertanyaan Ardy barusan. Ia jadi ingat obrolannya beberapa hari lalu dengan sang mama, jika wanita itu tengah mencurigai suaminya sendiri.


"Aku rasa bukan, sebab papaku tidak mungkin melakukan ibu pada bibi Lily," tukas pria itu.


"Lalu apa urusan yang lebih penting daripada perusahaannya itu?"


"Mama bilang jika papa sedang mencari wanita yang sudah membawa kabur uangnya," jawab Daven.


"Berapa banyak uang yang wanita itu bawa kabur sampai Sagara akan meninggalkan meeting pentingnya dengan perusahaan besar?" tanya Ardy lagi, sampai ia mendapatkan titik terangnya.


"Entah, aku tidak tahu."


"Lalu apa ibumu mengatakan juga siapa wanita itu?"


"Anet."


Jawaban Daven membuat kedua bola mata Ardy terbuka dengan sangat lebar dan naik pitam.


"Lilyaneth, itu nama panjang ibuku, SIALAN..!" seru Ardy sembari menggebrak meja yang ada di hadapannya.


Bersambung...


___


...Sudah pada tegang belum nih?😁...


...Nantikan bab selanjutnya dan jangan lupa untuk berikan dukungan kalian. Like, komen, vote, dan hadiah, yaaaaa. Tambahkan ke rak favorit juga agar tidak sampai ketinggalan bab lanjutannya....

__ADS_1


...Follow juga IG: @wind.rahma...


__ADS_2