One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Kebusukan Seorang Teman


__ADS_3

Di mobil, saat Ardy mengajak Jian untuk pindah restoran makan siang hari ini.


"Aku memang marah pada Daven, tapi seharusnya kau tidak bersikap seperti tadi padanya. Bagaimanapun dia itu temanmu, tuan."


Ardy tidak suka Jian bicara seperti itu, seolah sedang membela Daven.


"Tapi aku harus melindungimu dari siapapun, Jian. Aku tidak ingin kau terluka," balas Ardy.


"Tapi tidak seperti itu caranya, tuan. Dengan kau bersikap seperti itu, aku merasa sangat bersalah. Jangan hanya karena aku, hubungan pertemanan yang sudah kalian bangun sejak lama itu hancur. Aku tidak ingin menjadi penyebab kehancuran pertemanan kalian," tutur Jian.


Ardy diam mendengar itu. Ya, memang sebelum ada Jian dalam kehidupannya, pertemanannya dengan Daven baik-baik saja. Bahkan mereka sering bercanda tawa di Apartemen. Menurutnya Daven itu teman yang mengasyikkan. Pria itu memiliki sifat yang ekstrovert, sementara dirinya introvert. Dan dia beruntung sekali memiliki teman seperti Daven, yang selalu menghibur kala sedang ada masalah. Bahkan, Daven adalah satu-satunya teman yang menampung rahasia di masalalunya. Sayangnya, justru sekarang dia bermasalah dengan pria itu.


Ardy menghela napas panjang usai mengingat bagaimana hubungan pertemanan mereka dulu. Jian memang benar, tapi rasa kesal di hatinya pada pria itu belum bisa hilang begitu saja.


"Tidak usah bahas dia lagi! Aku sedang tidak ingin mendengar namanya," ujarnya kemudian melajukan mobil dari restoran tersebut.


🌷🌷🌷


Sore harinya, Daven pulang ke rumah orang tuanya lagi. Ia masih ingin tinggal beberapa hari lagi di sana.


Jenny, wanita paruh baya itu menyambut kepulangan putranya.


"Dav, kau sudah pulang, nak?"


Daven tersenyum hambar. "Iya, ma," jawabnya singkat.


Jenny bisa membaca isi pikiran putranya, sepertinya masalah Daven itu belum juga tuntas. Tergambar jelas di wajah pria tampan itu yang memperlihatkan wajah murung.


"Sayang, mama masakin ayam kecap pedas buat kamu. Makan, yuk!" ajak Jenny berusaha mengalihkan Daven dari pikiran beratnya.


"Serius, ma?"


"Ya, ayo, makan!"


Daven tersenyum. Akhirnya ada binar bahagia di wajahnya, setelah beberapa hari Jenny tidak lagi melihat ekspresi itu di wajah putranya.


Daven menarik kursi untuk mamanya, setelah itu ia menarik kursi dan duduk di sana. Dan benar, ayam kecap pedas sebagai menu makan favoritnya sudah terhidang di meja makan bersama menu makan lainnya.


"Hmmm ... Harum. Mama memang pandai sekali memasak!" pujinya.

__ADS_1


Jenny mengembangkan senyum. "Ya sudah, ayo di makan!"


Kemudian Daven membalikan piring yang terlungkup, ia mengambil nasi dan satu potong ayam bagian paha. Begitupun dengan Jenny.


"Papa mana, ma?" tanya Daven, saat papanya tidak ikut makan.


"Papa belum pulang, katanya papa ada urusan sebentar," jawabnya.


"Tumben? Biasanya jika ada urusan bisnis, papa percayakan dengan kaki tangan (orang kepercayaan) nya."


"Ya mungkin memang papa harus turun tangan."


"Oh," jawab Daven sembari mengangguk-anggukan kepala.


Jenny tampak senang sekali, saat melihat Daven begitu lahap makannya. Sudah lama juga ia tidak membuatkan menu makan favorit putranya.


"Ma, aku ke kamar duluan, ya!" pamit Daven usai melahap makanannya.


"Iya, sayang. Istirahat yang cukup, ya, jangan terlalu memikirkan sesuatu!" teriak Jenny saat pria itu sudah beranjak dari duduknya.


Di kamar, Daven merebahkan tubuh lelahnya, ia kembali teringat kejadian tadi siang di restoran.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya, Daven berniat untuk menemui Jian di jam makan siang wanita itu. Tapi kali ini, ia lebih memilih menunggu jam makan siang Jian tiba di restoran Jepang yang memiliki skat di setiap meja para pengunjung, yang menambah kesan privasi untuk setiap pengunjung restoran tersebut. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari kantor Ardy.


Sambil menunggu, ia juga sekalian makan siang di sana. Seorang pelayan mengantar menu pesanannya, beriringan dengan 2 wanita yang duduk di meja tepat di belakangnya.


"Sepertinya Jian sudah pernah tidur dengan tuan Ardy, deh. Kau tadi lihat kan betapa dekatnya mereka akhir-akhir ini?"


Suara salah seorang wanita yang barusan duduk di meja belakang menyita perhatian Daven. Pria itu tertarik mendengarkan apa yang akan selanjutnya mereka bicarakan.


"Ya, maka dari itu aku sudah muak pura-pura berteman dengannya?" jawab satunya lagi.


"Pura-pura, maksudmu?"


"Ya, jadi selama ini aku hanya pura-pura berteman dengannya. Karena selama ini akulah yang sudah mengubah data keuangan di ruang kerjanya, sehingga perusahaan jadi rugi besar, dan Jian yang di salahkan," kata wanita itu.


Kedua mata Daven seketika membulat sempurna. Jadi selama ini Jian hanya korban. Rasanya ia ingin melabrak kedua wanita tersebut, tapi ia memilih diam lebih dulu untuk mendengar semua pembicaraan kedua wanita tersebut.

__ADS_1


Daven mengeluarkan ponsel di saku jas dan mulai merekam apa saja yang akan mereka bicarakan selanjutnya.


"Serius kau yang melakukannya?"


"Ya, tapi kau jangan katakan pada siapapun, ya!"


"Ya, aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Tapi kenapa kau sampai melakukan itu?"


"Sebab aku membenci keluarga Jian sejak dulu. Kau tahu, ibunya menjadi pelakor di antara hubungan orang tuaku. Maka dari itu, diam-diam aku menyewa orang untuk mengikat ibunya di rel kereta api. Dan sekarang dia sudah mati." jelas wanita itu.


"Sungguh? Kau berani sekali."


"Wanita sialan itu memang pantas mati karena sudah mengganggu ketenangan keluargaku. Dan sekarang yang membuat aku lebih membenci Jian, dia sudah merebut pujaan hatiku. Padahal dia tahu aku naksir berat pada pria itu."


"Wah, benar-benar sialan Jian. Mungkin sifat ibunya menurun padanya," sahut yang satunya.


"Ya, benar-benar sialan. Saat itu aku berpura-pura berteman dengannya untuk menutupi kesalahanku karena sudah mengubah data keuangan perusahaan. Dan aku juga pernah mengatakan pada orang tuanya, bahwa Jian pulang ke Apartemen bersama pria pujaanku dengan membuntutinya sepanjang jalan. Tapi orang tuanya bilang, jika Jian sedang di pindahtugaskan di luar kota. Benar-benar wanita sialan kan? Orang tuanya saja sampai ia bohongi!"


"Ya, kau benar, Alana."


Daven semakin di kejutkan oleh nama yang baru saja wanita satunya itu sebutkan. Ia bahkan mendekatkan telinganya ke bagian skat, lantaran ia takut salah dengar.


Alana? Bukankah dia yang Jian anggap sebagai teman baiknya? Batin Daven dalam hati.


...Bersambung.....


___


...Gimana di part ini? Bikin kesellll, gak?...


...Yuk, kumpulin POIN dan VOTE...


...sebagai dukungan kalian!...


...Dengan cara klik HADIAH dan...


...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...


...Jangan lupa tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...

__ADS_1


...Follow ig @wind.rahma...


__ADS_2