One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Sepasang Mata Merah


__ADS_3

Jian baru saja di minta Alice untuk menaruh laporan kerjanya di neja Ardy. Wanita itupun menurut. Namun ketika memasuki ruang kerja pria tersebut, ia tifak menemukan sosoknya di sana. Padahal dia pergi lebih dulu tadi.


Apa mungkin Ardy pergi bersama kekasihnya lagi hari ini? Entahlah. Jian pun tidak ingin tetlalu mencampuri privasi pria itu.


Hingga tiba waktunya makan siang. Jian makan bersama Alana lagi hari ini. Alana menatap wajah Jian yang tampak murung sejak tadi.


"Kau kenapa, aku perhatikan sepertinya kau sedang ada masalah?" rupanya Alana dapat membaca isi pikiran wanita di hadapannya.


"Tidak. Aku baik-baik saja," jawab Jian lirih.


"Baiklah jika tidak ingin menceritakan apa masalahmu padaku, biar aku saja yang bercerita padamu."


"Kau tahu, betapa senangnya aku kemarin ketika melihat tuan Daven di depan restoran ini," ujar Alana dengan semangat menceritakan nya, di sertai senyum yang mengembang begitu lebar. Namun, seketika senyumnya perlahan memudar.


"Tapi sayangnya, aku hnya bisa melihatnya dari kejauhan, dari dalam taksi online yang ku tumpangi," imbuhnya.


Melihat betapa bahagia dan sedihnya Alana membuat Jian semakin menambah rasa bersalah. Tapi tunggu, kemarin Daven ada di depan restoran ini? Apa pria itu mengajaknya pulang bersama bukan sebuah kebetulan, meaibkan rencananya dengan menunggu di depan restoran ini? Ah, rasanya tidak mungkin juga.


"Tidak usah sedih, Alana! Aku janji akan membantumu mendapatkan hati tuan Daven." Jian betusaha menciptakan senyum di bibir temannya.


"Benarkah?" Jian menangguk cepat. "Tapi, bagaimana kau bisa membantuku? Sedangkan kau sendiri tidak tahu tuan Daven itu yang mana." Alana kembali memasang mimik wajah sedih.


Jian lupa jika Alana memang tidak tahu jika dirinya sudah mengenal pria itu. Bahkan mereka tinggal di Apartemen yang sama.

__ADS_1


"Mmm ... iya juga, Alana. Tapi aku janji akan membantumu apapun caranya."


Alana mengangguk lemah. Meskipun sebenarnya ia tidak yakin jika Jian akan benar-benar membantunya.


🌷🌷🌷


Sebentar lagi jam pulan kerja akan segera tiba. Jian harus segera mengirim pesan teks pada Daven agar tidak perlu menjemputnya. Selain segan pada Alana, ia juga ingin menjaga jarak pertemanan dengan pria itu. Lagipula ia bisa pulang naik ojek online. Meskipun harganya lebih mahal dari angkutan umum, setidaknya masih lebih murah dari taksi online.


Lima menit usai mengirimi pesan pada Daven, ponselnya bergetar mengeluarkan suara notifikasi masuk. Di liriknya layar ponsel yang tergeletak di ats meja, ternyata itu balasan pesan dari pria tersebut.


Aku sudah menunggumu di depan restoran yang tidak jauh dari gedungmu. Jika kau sudah keluar gedung, beri tahu aku!


Kedua bola mata Jian terbelalak membaca balasan pesan tersebut. Dugaanya ternyata benar, jika pria itu kemarin pun menunggunya di sana. Sekarang ia bingung harus bagaimana. Ia takut jika Alana sampai melihatnya bersama Daven. Tapi di sisi lain, Jian bisa memanfaatkan kedekatannya dengan Daven untuk mencomblangkan Alana.


Seperti biasa, pria itu akan mengembangkn senyum manis yang mampu membuat wanita mana saja jatuh hati padanya. Jian langsung menunduk saat sepasang mata mereka bertemu.


"Kenapa tidak mau ku jemput?" pertanyaan Daven seketika membuat Jian gugup.


"Mmm ... ak-aku-"


"Sudahlah. Kita bicara di mobil saja. Ayo, masuk!" ajak Daven dengan mengedikkan kepala ke arah pintu samping yang sudah ia bukakan untuk Jian.


"I-iya. "

__ADS_1


Kemudian Daven kembali menutup pintu setelah Jian masuk. Ia berjalan mengitari mobil lalu masuk ke bagin jok kemudi. Setelah itu ia melajukan mobilnya dari sana dengan kecepatan normal.


Sepasang mata seseorang yang berdiri di depan pintu keluar gedung memperhatikan gerak-gerik keduanya, terlihat memerah menahan amarah.


Siapakah dia?


Bersambung...


___


Jangan lupa juga untuk:


👍Tinggalkan Like


📝Komentar


❤Masukan rak buku favorit


📦Beri Hadiah


Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:


IG: wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2