One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Memberi Bukti Rekaman


__ADS_3

Usai menuntaskan misi, Daven pamit pulang sebelum acara makan malam di mulai.


"Dav, ayolah, makan malam dulu bersama kami! Aku sudah susah payah membuatkan masakan untukmu," bujuk Alana untuk yang kesekian kalinya, raut wajahnya sudah tampak kesal.


"Ya, nak Daven. Kenapa harus terburu-buru untuk pulang?" ujar ibu Alana yang kini bergabung di sana.


"Bibi, paman, Alana. Aku minta maaf sekali, tapi aku ada urusan mendadak, lain kali aku akan kesini lagi," ucap Daven.


Alana sangat menyayangkan momen langka ini, pria pujaan hatinya tetap kekeh akan pulang. Padahal ini akan menjadi kesempatan untuknya berdua-duaan nanti.


"Ya sudah, lain kali main lagi ke rumah kami, nak," ujar Doddy.


"Baik paman, terima kasih. Aku pamit pulang. Assalamu'alaikum," salam Daven lalu beranjak dari sana.


Sementara Doddy dan istrinya menjawab salam, Alana segera menyusul langkah Daven dengan menarik lengan pria itu ketika sudah sampai di dekat body mobil.


"Dav, kenapa harus pulang? Aku masih ingin kau di sini," ucap Alana mendramatisir, air matanya sudah mengumpul di pelupuk mata, namun Daven tidak memperdulikan hal itu.


"Lepaskan, Alana!" pria itu melepas lengannya dari tangan Alana. "Aku harus segera pulang," imbuhnya.


Dengan cepat Daven masuk ke dalam mobilnya, ia sama sekali tidak memperdulikan wanita yang terus memanggil namanya.


"Dav ... Daven, tunggu! Daveeeen .." teriak Alana saat mobil tersebut sudah keluar dari pelataran mobilnya.


"Herrgh .." Alana menghentakan kakinya ke bumi, berusaha melampiaskan kekesalannya.


🌷🌷🌷


Sampai di Apartemen, Daven langsung masuk ke lift dan berhenti di lantai Unitnya. Bukannya masuk ke dalam Unitnya, ia justru masuk ke dalam Unit Ardy yang tengah menunggunya bersama Jian.


Ardy dan Jian langsung menyambut Daven dengan pertanyaan-pertanyaan seputar misi mereka.


"Bagaimana, Dav, apa kau berhasil?" seru Ardy.


"Iya, Dav, apa semuanya berjalan lancar?" timpal Jian.


Daven menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa. Jika bukan demi Jian, mungkin ia tidak akan menyetujui dan ikut dalam rencana gila Ardy. Berpura-pura bail di depan orang jahat seperti Alana membuatnya nyaris stress.


"Beri aku minum, nanti aku akan jelaskan pada kalian!" pinta Daven.


"Ya sudah, aku buatkan. Mau minum apa?"


Daven langsung menegakan tubuhnya, saat Jian yang bersedia membuatkannya minuman.


"Kopi saja, Jian."


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Jian kemudian pergi dari sana, tidak berapa lama wanita itu kembali dengan membawa secangkir kopi.


"Ini, Dav," Jian menyodorkan cangkir tersebut di hadapan Daven.


"Terima kasih, Jian."

__ADS_1


"Ya, sama-sama."


Melihat Jian hanya membuatkan satu cangkir kopi untuk Daven saja membuat Ardy iri.


"Kau tidak membuatkan untukku juga?" tanya Ardy dengan raut wajah sebal.


Jian menoleh pada pria yang duduk di sampingnya.


"Mau?"


"Tentu saja."


"Ya sudah, kalau begitu aku buatkan lagi untukmu."


"Tidak usah!" Ardy mencegah Jian yang hendak beranjak dari duduknya.


"Kenapa, bukannya kau mau?" tanya Jian heran.


"Duduk saja, aku tidak ingin merepotkanmu seperti-" Ardy mengedikkam dagunya ke arah pria yang saat ini tengah menyeruput kopi.


"Apa?" seru Daven merasa tersindir.


Jian langsung paham akan maksud Ardy.


"Oh, Daven. Daven sama sekali tidak merepotkanku, aku juga tidak merasa di repotkan olehnya."


Kata-kata Jian semakin membuat Ardy sebal saja. Calon istrinya terus saja membela Daven di hadapannya.


"Kau dengar sendiri kan?" sindir Daven pada Ardy.


"Ya sudah, sekarang katakan, bagaimana dengan misimu tadi?"


Saat ini keadaan cukup serius, Daven menaruh cangkir yang baru saja ia seruput. Rasanya lebih nikmat daripada kopi yang Alana suguhkan tadi.


Daven menghela napas panjang mengambil ancang-ancang. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Ardy dan Jian memperhatikan pria di hadapannya yang tengah memijat-mijat layar ponselnya seperti tengah mencari sesuatu. Dan begitu pria itu sudah menemukan apa yang dia cari, dia segera menaruh benda pipih berwarna hitam tersebut di atas meja. Sebelumnya ia juga menekan tombol volume untuk memperbesar suara.


"Ayah, ini temanku, Daven. Daven ini ayahku."


"Doddy, ayahnya Alana."


"Aku Daven, paman."


"Dav, aku ke belakang sebentar, ya. Buatkan minum untukmu dan ayah."


"Silahkan duduk, nak Daven!"


"Ya, paman. Terima kasih."


"Mm, paman. Apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Ya, ya, tentu saja."


"Apa benar paman ini memiliki perusahaan di luar negeri?"

__ADS_1


"Tidak, itu tidak benar," jawab Doddy.


"Oh, begitu, ya."


"Ya, saya hanya seorang tengkulak (pedagang perantara) sapi di luar kota, tepatnya di kota Malang."


"Oh, ya, paman. Aku ingin bertanya satu hal lagi padamu. Boleh?"


"Boleh, tanyakan saja, nak Daven!"


"Mm, apa paman-"


"Dav, ayah, ini minumannya."


"Di minum, ya, Dav, spesial untukmu," pinta Alana sembari tersenyum.


"Ya, terima kasih."


"Mm, kalau begitu aku harus ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Ayah, temani calon menantunya, ya!"


"Nak Daven mau tanya apa tadi?"


"Ya, paman. Jadi, apa paman mengenal bibi Amina istri paman Damar?"


"Tentu saja, dia teman baik saya selama masih duduk di bangku sekolah."


"Tapi sayangnya, dia sudah tidak ada. Kasihan Amina, dia meninggal dengan cara tragis."


"Teman baik paman?"


"Ya, dia teman wanita saya selama sekolah yang paling baik. Bahkan di saat saya tidak bisa mengerjakan soal pelajaran pun, dia yang membantu. Dia sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri. Bahkan setelah saya menikah, hubungan kami masih dekat. Beruntungnya, istri saya-ibunya Alana pun menerima hal itu. Jika istri pria lain, mungkin mereka sudah cemburu jika suaminya memiliki teman wanita yang begitu dekat. Tapi istri saya justru senang, katanya banyak teman banyak saudara. Begitu."


"Memangnya kenapa nak Daven bertanya tentang Amina? Apa nak Daven juga mengenalnnya?"


"Mmm, ya, paman. Kebetulan aku mendengar jika almh. bibi Amina itu memiliki teman pria baik semasa hidupnya, dan begitu saya mendengar nama paman, aku pikir paman adalah temannya itu. Dan ternyata benar."


"Ya, ya, ya, memang kedekatan di antara kami sudah menyebar luas. Sehingga banyak di antara mereka yang mengira jika ada hubungan khusus di antara kami. Tapi kami sama sekali tidak menanggapi akan hal itu."


"Begitu paman mendengar bibi Amina meninggal dengan cara tragis, bagaimana perasaan paman pada saat itu?"


"Jujur, saya dan istri saya sangat terpukul. Dan saya masih penasaran, siapa orang yang tega sekali membunuh orang sebaik Amina?"


Ardy dan Jian menyimak baik-baik isi rekaman dari ponsel Daven. Setelah ayah Jian di nyatakan pulih total nanti, mereka akan segera menjebloskan Alana ke dalam penjara, agar wanita itu mendapat hukuman yang setimpal.


Daven mengambil ponselnya usai rekaman tersebut di putar. Akhirnya misinya selesai juga. Dan ia rasa, ia cukup pintar, merekam ucapan orang-orang yang akan menjadi bukti kuat untuk kasus kematian ibu Jian. Dan ia merekam ucapan Doddy saat Alana mengajaknya masuk ke dalam rumah, ia menyempatkan diri untuk menyalakan rekaman.


...Bersambung......


___


...Coretan Author:...


...Mohon maaf yaaaa, bukan maksud untuk menggantung cerita, tapi beberapa hari ini aku lagi kurang sehat. Do'ain aja mudah-mudahan cepat sehat kembali dan bisa up setiap hari lagi....

__ADS_1


...Dukung terus novel ini dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH, TAMBAH KE FAVORIT, yaaa....


__ADS_2