
Mulut Ardy mengulum puuting gunung kembar milik Gea dan memainkannya dengan lidah secara agresif. Sementra satu tangannya mulai merayap ke bagian bawah perut.
Tiga jarinya kini menerobos bagian gundukan kenikmatan. Ia memainkan jarinya keluar masuk dengan gerakan yang begitu cepat. Seiringnya gerakan tersebut, Ardy juga memercepat gerakan lidahnya yang menjulur ke gundukan kembar secara bergantian. Teriakan serta dessahan yang keluar dari mulut Gea bersatu dengan tangisan.
Ia merasakan sesuatu yang sakit sekali. Bibirnya kini sedikit dower dan berdarah akibat ciuman kasar yang di berikan oleh pria di atasnya.
Saat ia hampir menuju puncak yang di akibatkan oleh gerakan jemari Ardy, pria itu justru melepaskan sebelum ia menuju puncaknya.
Ardy bangkit dari sana dan melepaskan ikatan tangan Gea. "Aku tidak akan memberimu kenikmatan itu lagi padamu, PENGKHIANAT. Hanya rasa sakitlah yang pantas kau terima. Selamat tinggal, pergilah dari kehidupanku. Tidak ada apapun lagi di antara kau dan aku."
Ardy beranjak dari sana tanpa rasa bersalah. Sementara Gea terisak dan rasanya ia sangat hancur sekarang.
Ardy mengerjapkan matanya, mencoba menghapus lamunan pikirannya tentang Gea. Sebenarnya ia ingin menghampiri wanita yang masih menyandang status sebagai kekasihnya, meski dalam keadaan mabuk, Ardy mencoba mengontrol diri. Ia cukup tahu jika Gea telah berkhianat dan bermain di belakangnya. Dan ia cukup sadar, sudah mengkhianati Gea juga dengan cara tidur bersama Jian dan wanita-wanita lainnya.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di sana, Ardy pun pergi sebelum Gea keluar dari kamar bersama pria yang di gandengnya tadi. Ia tidak mau Gea sampai melihatnya berada di sana. Ia harus pulang ke Apartemen dan memikirkan cara agar ayah Jian memberinya maaf.
🌷🌷🌷
Keesokan paginya, Ardy nekad kembali lagi ke rumah Jian. Padahal Jian sudah melarang keras agar ia tidak lagi berhadapan dengan ayahnya. Jian juga takut kondisi ayahnya yang belum stabil kembali terganggu. Tapi pria itu kekeh dan kini tengah berhadapan dengan ayahnya di ruang tamu.
"Jian boleh resign setelah ini, tapi dengarkan penjelasan saya sebentar saja, paman!" pinta Ardy sambil memohon, ia menggenggam erat-erat buah tangan Damar sembari bersimpuh di kakinya. Namun pria paruh baya itu tetap memalingkan wajah.
"Kau ini tuli atau bagaiamana, Ardy?! Apa kau tidak dengar, jika suamiku tidak ingin membahas hal ini lagi. Jadi pergilah dari rumah kami!" usir Mella seraya menarik lengan Ardy.
"Saya akan pergi setelah mengatakan alasan saya pada paman Damar, tante. Jadi jangan paksa saya untuk pergi, jikalau kalian ingin menampar bahkan memukul saya, lakukan saja, aku tidak akan marah!" ucapnya.
Mella terdiam, sementara perasaan wanita yang duduk tidak jauh dari Damar sedang ketakutan. Jian takut akan ada keributan di sana. Terlebih jika ayahnya benar-benar akan melakukan apa yang Ardy minta, yaitu memukuli.
Damar menghela napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca sekarang.
"Ya sudah, apa yang ingin kau bicarkan pada saya?"
__ADS_1
Pertanyaan Damar ibarat angin segar yang seketika mendinginkan perasaan Ardy dan Jian. Akhirnya pria paruh baya itu bersedia mendengar penjelasannya.
"Tidak usah dengarkan perkataannya, ayah! Dia pandai membuat alasan. Jangan tertipu oleh tampangnya yang bersikap so baik," seru Mella.
"Diam, ma! Aku hanya ingin mendengar suara Ardy, bukan kau!" ucap Damar.
Mella bungkam seketika. Sementara Ardy bersiap mengatakan semuanya pada Damar.
"Katakan apa yang ingin kau katakan!" pinta Damar kemudian.
"Baik, paman. Jadi, apa yang saya lakukan itu ada alasannya. Selama ini, saya mengalami sebuah trauma, dimana ayahku meninggal di sebabkan oleh istrinya, wanita yang sudah melahirkanku. Dia mengkhianati ayahku dengan cara keji, sampai akhirnya ayahku meninggal karena serangan jantung yang hebat," jelas Ardy.
"Selama ini, wanita itu merupakan sosok yang amat sangat baik. Tapi saya tidak menyangka dia melakukan hal itu pada ayahku. Sampai akhirnya saya membenci seorang wanita siapapun itu karenanya. Saya berjanji untuk merusak setiap wanita dengan cara menidurinya untuk menyalurkan kebencianku terhadap wanita itu," sambungnya.
"Sampai Jian termasuk korban traumaku itu. Tapi, perlahan saya mulai sadar, dan kebencianku terhadap wanita itu terkikis seiring adanya Jian di sisiku. Dia selalu mengingatkanku dengan wanita itu pada saat moment betapa hangatnya keluargaku dulu. Dan, begitu saya mengenalmu, rasa rinduku pada ayahku yang sudah lama meninggalkanku terasa sedikit terobati. Maka dari itu, mata dan hatiku mulai terbuka, dan saya benar-benar menyesal atas semua yang telah saya lakukan pada Jian. Maafkan saya, paman. Saya minta maaf!"
Air mata yang sejak tadi sudah mengumpul di pelupuk mata sayu milik Damar kini luruh basah membasahi pipi. Jian yang menyaksikan hal itupun ikut terharu. Betapa beratnya berada di posisi Ardy, meski ia pun merasa berat sekali berada di posisinya.
"Maafkan saya!" ucap Ardy lirih penuh penyesalan.
Damar menghirup napas panjang dan mengontrol deru napasnya. Sulit sekali berada di situasi seperti ini. Rasanya begitu berat.
"Kau harus melupakan kebencianmu itu, atau kau akan menghancurkan banyak wanita setelah putriku-Jian!" tutur Damar.
Ardy mengangguk. "Ya, paman. Saya sudah menyesal dan tidak akan melakukan hal itu lagi. Tapi saya mohon, maafkan saya! Mulai saat ini, saya akan memperlakukan Jian dengan sangat baik, saya akan melindunginya, dan saya akan melakukan apapun untuknya. Apa paman mau memaafkan saya?!"
Keheningan terjadi di antara mereka. Hanya ketegangan yang mereka rasakan. Jian berharap ayahnya bisa memaafkan Ardy, sementara dalam hati Mella, Damar tidak akan begitu mudah memberikan maaf begitu saja.
Di tengah-tengah ketegangan, Damar mengangguk lemah. Membuat Ardy menatapnya tidak percaya. "Ya, saya akan memaafkanmu."
Jian tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dalam hatinya, sedangkan Mella tidak terima.
__ADS_1
"Sungguh?" tanya Ardy dengan binar kebahagiaan di kedua sorot matanya.
Damar mengangguk lagi. "Ya, tapi-"
Binar kebahagiannya kini memudar, saat ia tidak sabar menunggu lanjutan kalimat Damar.
"Tapi apa, paman?"
"Tapi Jian harus tetap resign dari perusahanmu!" ucapnya final tidak dapat di ganggu gugat.
Ardy senang sekaligus merasa lega sudah mendapat maaf dari Damar. Tapi ia merasa sedikit berat jika Jian harus berhenti bekerja dari perusahannya.
Sorot mata Jian pun merasakan hal yang sama, senang, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Tapi tak apa, yang penting semua permasalahannya sudah clear. Dan ia merasa lebih tenang setelah ini.
"Baik, paman. Tapi saya minta Jian untuk datang ke kantorku satu hari lagi besok untuk mengurus resign nya."
"Ya, saya izinkan satu hari lagi besok saja."
"Terima kasih banyak, paman!" ucapnya.
Sepasangm ata Ardy dan Jian bertemu. Ada sorot mata sedih yang mereka tunjukan. Ardy tidak mau berpisah dengan Jian, tapi ia juga tidak bisa mengubah keputusan yang sudah di tetapkan oleh Damar.
Bersambung...
___
Spam Like, Komen, vote, sama hadiahnya yaaa
Tambahkan juga ke list favorit.
Follow ig @wind.rahma
__ADS_1