
Ini merupakan hari terakhir Lily tinggal bersama anak dan menantunya, sebab esok hari ia memutuskan untuk tinggal di rumah lamanya saja. Sekarang keadaannya sudah aman, kondisinya juga sudah sangat membaik. Beberapa hari lalu, Ardy dan Jian membawanya ke psikolog, takutnya ada gangguan mental, tapi untungnya tidak ada. Sempat ada, sih, tapi sekarang sudah normal.
Hari ini juga usia kandungan Jian sudah memasuki 4 bulan, Ardy sudah tidak sabar menunggu kehadiran sang buah hati mereka.
"Aku ingin anak kita berjenis kelamin laki-laki, biar tampan seperti ayahnya," harap Ardy saat tengah memegangi perut istrinya.
"Tapi aku ingin anak kita perempuan, biar cantik kayak aku," ujar Rania.
"Memangnya kau cantik?" tanya Ardy sambil memandang wajah wanita yang tidur di sampingnya.
"Cantik, lah. Kan aku perempuan, memangnya menurutmu aku gak cantik?" sunggut Jian.
"Tidak," jawaban Ardy membuat wanita tersebut memanyunkan bibirnya.
Ardy mencubit pipi Jian dengan gemas, wanita itu kelihatan imut kalau sedang marah.
"Ya cantiklah, sayaaaang... Gitu saja marah, aku hanya bercanda," goda Ardy.
Jian langsung tersenyum, menampakan deretan giginya yang berjajar rapi.
__ADS_1
"Kalau di puji bilang apa?" tanya Ardy menuntut sesuatu.
"Terima kasih suamiku," ucap Jian di akhiri dengan ciuman singkat di bibir Ardy.
"Sekarang sudah berani, ya. Awas saja, kalau kau sudah lahiran, bakal aku terjang habis-habisan di atas ranjang," ujar pria itu.
Jian hanya tersenyum malu, tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia suka sekali mencuri ciuman di bibir suaminya. Rasanya manis, dan aahh... Bikin ketagihan.
"Ya sudah, terjang saja, aku tidak takut!" tantangnya.
Ardy terbelalak mendengar kalimat tersebut. "Sungguh?"
Jian menganggukan kepalanya. "Ya."
"Gak mau. Harus kerja sama, lah."
"Memangnya bikin apa harus kerja sama segala." Ardy sedikit terkekeh.
"Bikin adik baru," jawab Jian polos dan itu berhasil membuat tawa Ardy pecah.
__ADS_1
"Hahaha... Ada-ada aja, deh. Satu aja belum brojol, udah rencana mau bikin lagi saja," ujar pria itu di antara tawanya.
Ardy mencubit kedua pipi Jian dengan sedikit mengguncang-guncangkannya karena gemas. Bisa-bisanya Jian yang sepolos itu berubah lebih polos lagi.
Pria itu mengubah posisi tidurnya lebih ke bawah, membuka sedikit baju yang di pakai istrinya. Wajahnya kini berhadapan dengan perut yang menonjol lumayan besar. Ia menenggelamkan wajahnya di sana, memberi ciuman yang cukup lama.
"Sehat-sehat di sana, ya, anak ayah. Cepat keluar, ya, biar ayah bisa masuk," ujarnya menciptakan senyuman lebar di bibir Jian.
Ardy mendongakan wajahnya melihat reaksi sang istri. Kemudian Ardy membuka lebih atas lagi baju Jian, menampakkan bagian dada yang semakin besar membengkak. Ia menusuk-nusukan ujung batang hidung lancipnya di sana, mencium dalam-dalam aroma yang khas.
"Aahhh..." desah Jian menahan geli saat ia menggesek-gesekan hidungnya di sana.
Tanpa Jian sadari, kepala gunung kembarnya mengeras. Ardy tahu jika istrinya tengah meminta lebih. Dan sekarang ia tahu harus melakukan apa. Toh, miliknya juga sudah mengeras sekarang. Tapi ia tidak bisa menyalurkan keinginannya itu. Yang bisa ia lakukan hanya memainkan benda kembar tersebut menggunakan tangan maupun mulutnya.
"Sabar, ya, sayang. Tunggu anak kita keluar dulu," ucap Jian pada suaminya dan mendapat anggukan manja dari Ardy.
"Iya, sayang. Selamat 4 bulan kehamilan anak kita, ya."
"Selamat 4 bulan kehamilan anak kita," balas Jian.
__ADS_1
Mereka berdua tampak bahagia sekali, dan sudah tidak sabar menantikan kehadiran buah cinta mereka lahir ke dunia.
Bersambung...