
Sementara di dalam bangunan tempat Jian berada. Wanita yang tengah hamil besar itu menangis sesenggukan meski dalam keadaan mata di tutup, mulut di lakban dan tangan serta kaki di ikat ke kursi.
Ia tak henti-hentinya memohon agar Sang Pencipta memberinya keajaiban agar terbebas dari sana. Ia berharap suaminya akan datang untuk menyelamatkannya. Ia berharap ada seseorang yang mengetahui keberadaannya. Paling tidak, ada orang yang melihat saat dirinya di bawa oleh para preman itu.
Daven.
Tiba-tiba saja nama itu terlintas dalam pikirannya. Sebab pria itu mengatakan akan datang ke Apartemen dan menitipkan istrinya. Ia berharap Daven mendapat sesuatu yang bisa membuat harapannya itu bukan hanya harapan semata. Ia tahu, Daven merupakan pria yang cerdas. Semoga saja Daven bisa menemukan keberadaannya bersama Ardy.
Seketika lamunan Jian buyar, ia merasa ada seseorang yang datang ke ruangan itu. Terdengar dari derap langkah yang begitu jelas menghampiri.
"Hmm.. hmmm.." Jian berteriak dalam bungkaman mulutnya, berharap seseorang itu menemukan keberadaannya lalu menyelamatkannya.
Seseorang itu kini berdiri di hadapan Jian dengan jarak satu meter, menatap bahagia wanita yang berada di hadapannya.
"Berteriaklah sesuka hati, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu," ujar seorang wanita yang memakai pakaian serba hitam itu.
Jian terpaku mendengar suara wanita tersebut. Rasanya suara itu tidak asing di telinganya.
Wanita berjalan lebih dekat ke arah Jian, ia mengelus perut Jian dengan halus. Sampai akhirnya Jian memekik kesakitan.
"Mmmm..."
__ADS_1
"Kenapa? Sakit? Ini tidak seberapa dengan sakit yang aku terima karenamu, sialan!" bisiknya di telinga Jian.
"Mmmm... Mmmm..." Jian sedikit meronta, saat telunjuk wanita itu di tusuk-tusukan ke perutnya.
"Hei, lihatlah! Bayimu bahkan merespon sentuhanku dengan senang." Wanita itu tersenyum senang saat melihat cairan bening semakin deras keluar dari balik penutup mata Jian.
Ya Allah, selamtkan aku dan bayiku. Jangan biarkan siapapun mencelakai kami. Batin Jian dalam hatinya.
Wanita itu benar-benar bahagia melihat Jian menderita seperti sekarang. Tapi itu belum seberapa, ia akan membuat Jian bahkan sampai menghembuskan napas terakhirnya.
"Kau pantas menerima ini, sialan! Kau harus menderita! Kau tidak pantas bahagia dengan cara merebut kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku! Kau harus menerima hukumannya, dan hukuman yang harus kau terima adalah.. MATI." ucapnya lirih namun penuh penekanan.
"Mmm... Mmm.. Hmmmmm..." Jian kembali meronta, sampai akhirnya kursi yang ia duduki terjungkal ke belakang.
Caira bening semakin berdesakan keluar dari kedua mata Jian, membuat penutup mata yang berbahan kain itu kini basah.
"Cup cup cup.. Jangan nangis, hadapi kematianmu dengan senyuman, Jian!"
Wanita itu membangunkan kursi tersebut seperti semula. Lalu kembali berdiri di hadapan Jian. Tangan kanannya mencekeram rahang Jian cukup kuat.
"Aku membenci wajah ini, wajah iblis yang bersembunyi di balik so polosnya." Wanita tersebut melepaskan cengkaraman tangannya cukup kasar, sehingga wajah Jian terhempas ke samping.
__ADS_1
Kemudian tangannya kini ia gunakan untuk menampar pipi Jian.
Plaakkk..
Plaaakkk..
Tamparan bolak-balik menggunakan tangan kanan dan juga kirinya. Tak memperdulikan Jian yang meraung kesakitan, ia melakukannya tanpa ampun dan belas kasihan.
Setelah merasa puas, ia berganti pada tujuan utamanya. Yaitu menghabisi Jian dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya. Sebelum itu, ia membukakan penutup mata Jian agar Jian dapat menyaksikan kematiannya dengan jelas.
Usai penutup mata Jian di buka, wanita itu kembali berdiri di depan Jian. Ia mengambil sebilah pisau dari sana, dan menodongkannya ke arah Jian.
Mata Jian seketika membulat sempurna, saat kilatan mata pisau terpantul di kedua bola matanya.
"Aku akan menghabisimu tanpa ampun. J, I, A, N. Jian," ucapnya dengan sengaja di eja.
Wanita itu mengangkat sebilah pisau itu ke udara, dan titik fokus utamanya adalah perut yang menonjol milik Jian. Tapi sepertinya akan lebih menyenangkan jika ia melakukannya dengan wajah yang terbuka. Agar Jian dapat merasakan rasa sakitnya yang teramat dahsyat.
Perlahan wanita itu membuka penutup kepala yang menyetel dengan pakaian hitamnya, lalu berganti membuka masker yang menutupi bagian wajah. Kini wanita itu tampak sangat jelas di mata Jian yang seketika melebar dengan sangat sempurna. Dugaan Jian benar, jika wanita yang akan mencoba membunuhnya itu ternyata....
Siapakah dia?
__ADS_1
Bersambung...