One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Pilihan yang Berat


__ADS_3

Jian masuk ke ruangan kerja kantor. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sang bos tengah duduk di kursi mejanya dengan begitu santai.


"Tuan? Kau sedang apa di sini?" Jian bertanya tanpa menghampiri pria tersebut. Ia masih berdiri di dekat pintu.


"Kemarilah!" Ardy melentikan jarinya memberi kode pada Jin untuk mendekat.


saat hendak duduk di kursi di hadapan Ardy, pria itu meminta Jin berjalan mengitari meja. Awalnya Jian kebingungan namun pada akhirnya ia menurut.


Ardy menarik lengan Jin, kemudian memposisikn wanita itu berdiri menyandar meja tepat di hadapannya. Kaget, panik, takut kini di rasakan oleh wanita itu.


"Tu-tuan ... Kau mau apa?" tanya Jian dengan bibir gemetar, keringt dingin mulai mengalir di bagian pelipisnya saat tubuhnya berada di dalam kungkungan tangan Ardy.


"Kenapa kau mengabaikan telponku semalam?" Ardy bertanya dengan nada dingin. Lalu Jian terlihat tengah mengingat beberapa panggilan tak terjawab yang ia dapati tadi pagi.


"Ma-maaf, tuan. Semalam aku tidur, handpone ku juga di silent. Jadi aku tidak tahu jika kau menelponku."


"Lalu kenapa kau tidak berusaha menelponku balik tadi pagi?"


"Untuk apa?" tanya Jian polos, membuat pria di hadapannya mendengus kesal.


"Aku ingin kau tinggal bersamaku mulai besok!" ucap Ardy menghiraukan pertanyaan wanita yang saat ini melotot dan tubuhnya menegang.


"Apa? Tinggal bersamamu? Tidak bisa!" tolak Jian cepat.


"Aku tidak mau tahu. Kau harus tinggal bersamaku!"


"Tidak, tuan! Bagaimana bisa kita tinggal satu atap? Bagaimana dengan orang tuaku? Bagaimana dengan kekasihmu?"

__ADS_1


"Aku tidak peduli," pungkas Ardy. "Aku hanya ingin melihat tubuh seksimu di setiap dan sepanjang malam tanpa melalui via video call."


Jin sungguh terkejut mendengar perkataan Ardy. Lagi-lagi pria itu ingin menikmati tubuhnya.


"Tuan, tidak bisa! Kau bisa melakukannya dengan kekasihmu, bukan denganku!" Jian melepaskan tangan Ardy yang mengungkung tubuhnya dan berusaha untuk pergi, namun dengan cepat pria itu berdiri menarik lengannya.


"Tinggal bersamaku atau tinggal di penjara?! Kau hanya perlu memilih di antara 2 pilihan itu dan aku tidak akan memaksamu."


Kemudian Ardy meninggalkan Jian setelah mendaratkan ciuman lembut di bibir mungil wanita yang saat ini mematung.


Lagi-lagi Jian harus mendapat ancaman yang membut dirinya menelan ketakutan. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan perasaan dan tubuhnya yang lemas. Menenggelamkan wajah di atas meja dengan kedua tangan di lipat di bawah sebagai bantalannya.


🌷🌷🌷


Sore ini Jian di antar pulang oleh Ardy. Pria itu yang akan memberi penjelasan pada orang tua Jian agar Jian dapat izin untuk keluar dari rumah tersebut. Sebenarnya Jian sendiri masih tidak setuju dengab permintaan pria itu, tetapi jika ia menolak maka ketakutan akan kondisi orang tuanya akan terjadi.


"Jian sya tugaskan di perusahaan saya yang berada di luar kota, pak. Dia saya naikan jabatannya. Maka dari itu, Jian harus tinggal di Apartemen yng sudah saya siapkan," jelas Ardy ketika mereka sebelumnya sudah mengobrol di ruang tamu.


"Kami tidak keberatan untuk masalah ini. Lagipula, Jian kan sudah dewasa. Dia pasti tahu mana yang baik maupun yang buruk. Iya, kan, Jian?" Jian menoleh ke arah Mella yang melayangkannya senyuman. Ia mengangguk kaku lantaran ia tahu jika ibu tirinya itu sedang melontarkan ejekan.


Usai menyampaikan perihal tersebut, Ardy berpamitan pada semuanya. Dia pergi membawa senyum kemenangan lantran berhasil meyakinkan hal ini pada orang tua Jian.


🌷🌷🌷


Seperti biasa, Jian langsung masuk ke kamarnya usai makan malam dan mencuci piring. Dia juga harus segera packing baju dan yang lainnya untuk dia bawa besok. Seorang pria paruh baya masuk ke kamarnya lalu duduk di tepi ranjang.


"Kamu yakin akan pergi dan mengambil jabatanmu itu, nak?" tanya Damar menghentikan aktivitas Jian.

__ADS_1


Dapat Jian lihat dari sorot mata ayahnya, jika pria tersebut tengah menahan kesedihan. Tapi sebenarnya ia lah yang paling sedih atas semua ini. Lantaran sudah berbohong mengenai kepergiannya.


"Iya, ayah. Lagipula ini sudah menjadi bagian dari kontrak kerjanya," jawabnya seraya menggenggam buh tangan ahnya, menyalurkan kekuatan agar pria itu kuat dan ikhlas melepas kepergiannya.


Damar menghela napas panjang, terdengar berat. Lalu menghembuskannya secara perlahan. "Kamu jaga diri baik-baik di sana, ya, nak!"


Jian merasa semakin bersalah dan sedih mendengar pesan ayahnya. Bagaimana bisa dia menjaga dirinya, sedangkan tujuan perginya itu untuk memberikan tubuhnya pada sang bos. Dan itu ia lakukan semata-mata untuk kebaikan kondisi ayahnya juga.


"Iya, ayah." Jian memeluk erat tubuh ayahnya, setitik kristal pun luruh dari pelupuk matanya.


Jika saja Ardy tidak terus menerus memberinya ancaman yang bisa menyebabkan kondisi ayahnya memburuk, Jian tidak akan melakukan hal sejauh ini.


Bersambung...


___


Sudah lihat Visual Ardy di YouTube, belum??


Jangan lupa untuk:


👍Tinggalkan Like


📝Komentar


❤Masukan rak buku favorit


📦Beri Hadiah

__ADS_1


Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:


IG: wind.rahma


__ADS_2