
Kebahagiaan seorang Author itu simple!
Yaitu jejak yang di tinggalkan seorang pembaca.
Jadi, tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.
Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊
🌷🌷🌷 Happy Reading 🌷🌷🌷
Berbagai alasan sudah Jian katakan agar Daven tidak mengantarnya sampai depan kamar. Beruntungnya saat akan memasuki lift, ponsel lria itu berdering yang membuat pria tersebut harus pergi.
Saat sudah sampai di Unitnya, Jian langsung membaringkn tubuh lelahnya. Ia masih bingung dengan kebaikan Daven padanya. Bahkan di saat dia sendirian di tengah jalanan sepi tadi, lantaran ojek online yang ia tumpangi mengalami kendala, pria itu yang muncul.
Di kantor tadi, Jian berniat untuk menceritakan status Daven yang nasih lajang pada Alana. Tapi sayangnya, temannya tersebut sedang mengambil cuti.
Jian bangun dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menuju pantry dapur yang luasnya tidak seberapa itu. Saat melewati kamar Ardy, pintu kamar pria itu sedikit terbuka. Begitu Jian mengintip dari celah pintu, pria itu tidak ada di kamarnya.
"Tuan Ardy belum pulang juga? Apa dia akan bermalam bersama kekasihnya?" pikirnya, mengingat hari sudah gelap.
"Ah, kenapa aku harus memikirkannya?" ujarnya lagi seraya memukuli jidat berulang kali guna mengusir pikiran tersebut.
Saat sampai di pantry, bahan masakan yang ia beli tempo hari ternyata habis. Ia jadi tidak bisa memasak. Padahal perutnya sudah keroncongan. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli makanan via aplikasi.
__ADS_1
Lantaran sudah tidak sabar, Jian memilih menunggu pesanan makanannya di depan gedung usai mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
Sepuluh menit menunggu, pesanannya tak kunjung sampai. Hingga mobil sport berwarna hitam itu kembali dan terparkir di sana. Seorang pria keluar dari mobil tersebut dengan menenteng kantong plastik berwarna merah di tangannya.
"Jian," pekiknya.
Pandangan mata Daven tertuju pada penampilan Jian yang mengenakan piyama ungu muda dengan tali kecil di masing-masing bahu. Dan jangan lupakan panjangnya yang hanya sebatas pahan, juga bagian dadanya ung sedikit terbuka memperlihatkan gunung kembar yang putih nan mulus. Pria itu sampai tidak mengedipkan mata, melihat betapa seksinya Jian saat ini.
"Sedang apa di sini? Menungguku, ya?" goda pria tersebut, berusaha mengalihkan pikiran kotor yang mulai bersarang di otaknya.
"Aku sedang meunggu pesanan makanan," jawab Jian, dia akhiri seulas senyum tipis yang membuat Daven tidak tahan untuk tidak menerjang wanita itu di atas ranjang.
Suara notifikasi bunyi berasal dari ponsel yang ada di genggaman tangan Jian. Wanita itu langsung mengecek layar ponselnya.
"Kenapa?" tanya Jian penasaran.
"Ternyata orang yang mengantar makananku mengalami kendala di jalan. Dia memintaku untum meng-cancel pesanannya.
Daven menatap wajah imut yang di timbulkan dri ekspresi. Ia benar-benar ingin memiliki wanita itu.
"Jangan sedih! Ini aku bawakan makanan untukmu," sambil mengangkat kantong plastik berisi box di tangannya.
"Tapi-"
__ADS_1
"Sengaja aku belikan untukmu, Jian," pungkas Daven.
Lagi-lagi Jian di buat terharu oleh kebaikan pria itu. Daven selalu saja ada di saat dia membutuhkan.
"Terima kasih banyak, Daven. Kau baik sekali padaku."
"Bukankah itu yang kau mau? Di perlakukan baik." Jian pun mengangguk. "Kalau begitu, mampir dulu ke Unitku, ya! Kita makan bersama."
🌷🌷🌷
"Bagaimana, enak?" tanya Daven ketika Jian sedang menyantap pizza yang ia belikan tadi.
Mereka kini sedang berada di ruang tengah Unit Daven. Jian terlihat begitu menikmati setiap gigitan pizza mozarella yang masih mulur.
"Uwuenuak," jawabnya sambil mengunyah, Daven tersenyum melihat Jian yang begitu lucu.
Saat akan kembali menggigit potongan pizza yang masih tersisa di tangannya, tiba-tiba saja matanya tertuju pada pria di sampingnya yang tengah menatapnya dengn tatapan yang sulit ia artikan. Sorot matanya begitu dalam, perlahan wajah itu mendekat dan kini dekat sekali dengan wajahnya.
"Dav-" Pria itu mengecup bibir mungilnya dengan lembut. Jian sampai terbelalak mendapat ciuman singkat dari pria tersebut. Pizza di tangannya sampai terjatuh.
Bersambung...
___
__ADS_1