One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Egois


__ADS_3

Sepanjang jalan Jian menunjukkan arah jalan pulangnya, Daven di buat terheran lantaran arahnya sama persis dengan arah ke Apartemennya. Dan pria itu kini di buat terkejut pada saat Jian meminta berhenti tepat di depan Apartemen ya g sama dengan tempat tinggalnya.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang, tu .. maksudku, Daven!" ucap Jian.


Daven mencegah Jian ketika hendak turun dari mobil. "Tunggu! Kau tinggal di sini?"


Jian mengangguk. "I-iya."


"Sejak kapan?"


"Beberapa hari yang lalu."


Daven menatap Jian dengan tatapan masih tidak percaya. "Kenapa aku tidak pernah melihatmu, ya?"


Kini Jian yang terlihat bingung. "Maksudmu?"


"Akupun tinggal di Apartemen ini. Kita satu Apartemen, Jian."


Jian membulatkan matanya sempurna, lagi-lagi ia mendapatkan fakta baru dari pria tersebut. "Be-ben ... mm .. benarkah?"


Daven mengangguk. Ia tidak menyangka jika Jian ternyata tinggal di Apartemen yang sama dengannya. Jika tahu begitu, ia tidak akan repot-repot menitipkan amplop pada cleaning service kantor temannya, menunggu Jian sore bahkan pagi hari sekedar untuk mendapatkan nomer telepon wanitu itu.


Berbeda halnya dengan uang tampak senang, Jian justru terlihat panik dan gelisah.


"Berarti kau satu Apartemen juga dengan Ardy, bosmu. Dan Unit kamarmu lantai berapa?" tanya Daven tak mengurangi binar bahagianya.


Jian benar-benar panik sekarang. Ia takut salah jawab. Pasalnya Ardy sudah mewanti-wanti agar tidak ada satupun orang yang tahu mengenai perihal tinggal bersamanya. Terlebih Daven ini merupakan teman dari pria itu.


"Aku .. aku lantai delapan."


"Sungguh?" Jian mengangguk ragu. "Wah kalau begitu kita hanya beda satu lantai. Aku di lantai tujuh dan kamarku bersebelahan dengan dengan Unit bosmu."


Lagi, lagi, dan lagi. Pria itu memberikan fakta baru untuknya. Ternyata Unit kamar pria tersebut berada di sebelah Unit kamar Ardy. Itu artinya bersebelahan dengannya.

__ADS_1


Mulai detik ini ia harus ekstra hati-hati. Jngan sampai pria di sampingnya ini tahu apalagi sampai memergoki jika dirinya keluar ataupun masuk dari kamar bosnya sendiri. Bisa-bisa nanti akan muncul isu yang tidak mengenakan.


Daven mengajak Jian turun usai memakirkan mobilnya. Pria ituvtak henti-hentinya memancarkan binar bahagia di wajah tampannya. Wanita sang pujaannya ternyata berada di satu Apartemen yang sama. Itu akan sangat menguntungkan bginya.


Lift sudah hampir sampai di lantai tujuh. Namun Jian belum juga menemukan alasan yang tepat untuk ia berikan pada pria yang akan mengantarnya sampai lantai delapan bahkan sampai depan pintu kamarnya.


"Daven .. aku rasa kau tidak perlu mengantarku sampai lantai delapan. Lagipula, kau pun pasti lelah san butuh istirahat."


Hati pria itu terasa terbunga-bunga mendengar perhatian kecil dari Jian. Namun ia keukeuh akan mengantar wanita itu sampai ke depan kamar.


"Tidak apa-apa, Jian. Aku akan tetap mengantarmu."


Mmm ... Bagaimana jika aku saja yang mengantarmu sampai depan pintu Unit kamarmu?" Jian memberi penawaran.


Jantung Daven kini berpacu tidak beraturan. Bagaimana bisa ia menolak penawaran Jian. Tentu saja ia mau dan Jian pun sekarang bisa bernapas lega.


🌷🌷🌷


"Kau pulang naik apa?"


"Mobil."


Jawaban Jian membuat Ardy berdecak kecil. Ia lupa jika wanita di depannya ini kadang sangat polos, namun akan terlihat dewasa ketika berada di atas ranjang. Dan ia sangat menyukai hal tersebut.


"Maksudku, naik taksi online atau-"


"Teman priaku," pungkas Jian.


Entah kenapa Ardy tidak suka mendengar jawaban Jian barusan. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan wanita itu.


"Siapa? Kekasihmu?" Nada bicara Ardy terdengar sangat dingin.


"Dia temanku," jawab Jian santai.

__ADS_1


"Jangan pernah pulang ataupun pergi lagi bersama dia atau siapapun itu tanpa seizinku!" ucapnya pelan tapi tegas.


"Memangnya kenapa? Kenapa aku harus meminta izin dulu padamu? Lagipula kau bukan siapa-siapa. Kau hanya bosku di kantor, dan kau tidak berhak mengatur hidupku di luar itu!" ucap Jian yang entah dari mana mendapatkan keberanian sebesar itu.


"Aku punya hak. Orang tuamu hanya tahu jika kau bekerja di perusahaanku. Dan jika sampai sesuatu buruk terjadi padamu, maka aku yang akan mereka salahkan."


Itu memang salahmu sendiri, tuan. Kau yang memintaku pergi dari rumahku sendiri, dengan ancaman yang kau jadikan sebagai senjatamu. Aku sudah memenuhi syaratmu, tapi kenapa kau maah mengatur hidupku sesuka hati?! Aku berhak atas hidupku dan-"


"CUKUP!!!" sentak pria itu, membuat air mata yang semula menggenang di pelupuk mata Jian kini luruh membasahi pipi.


Jian pergi dari hadapan Ardy, kemudian masuk ke kamarnya. Ia sudah tidak kiat lagi menahan tangis di depan pria itu.


Sementara Ardy menendang apapun yang ada di sana. Meluapkan segala kekesalannya. Entah kenapa ia tidak suka jika ada pria lain yang berusaha mendekati Jian apalagi sampai menyentuhnya. Sipapapun itu.


Katakan Ardy egois, mengatakan Jian adalah miliknya sementara dia sendiri memiliki kekasih. Dan katakanlah Ardy pria paling egois di muka bumi ini. Tidak suka jika Jian di sentuh pria lain sedangkan dia menyentuh wanita manapun sesuka hati.


"Aaaarrghh ...." teriak pria itu frustasi.


Bersambung...


___


Jangan lupa juga untuk:


👍Tinggalkan Like


📝Komentar


❤Masukan rak buku favorit


📦Beri Hadiah


Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:

__ADS_1


IG: wind.rahma


__ADS_2