One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Penyebab dan Pelaku


__ADS_3

Mella di seret paksa oleh Satpam Rumah Sakit lantaran sudah membuat kegaduhan. Sementara Jian masih duduk di lantai sembari terisak.


"Jian, ayo bangunlah!" Ardy kembali merengkuh kedua bahu Jian, namun wanita itu segera menepis tangannya cukup kasar.


"Jangan sentuh aku!" cecarnya. "Ku mohon, jangan sentuh aku!" suaranya di iringi isak tangis.


Jian terlihat sangat kacau, namun Ardy tidak akan membiarkan wanita itu menghadapi hal ini sendirian. Ini juga kesalahannya, jika saja dari awal Jian mengatakan kondisi ayahnya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tapi sayangnya, waktu tidak dapat di putar, kecuali jam.


Ardy kemudian mendekap tubuh Jian erat, ia tidak mengindahkan ucapan wanita tersebut. Meski Jian terus memberontak, ia tak akan melepaskan dekapannya.


"Jian, dengarkan aku!"


"Lepaskan aku, lepaskan!" Jian memukuli dada bidang milik Ardy.


"Dengarkan aku sebentar, Jian!" pinta Ardy untuk yang ke sekian kalinya.


Setelah merasa lelah, Jian berhenti memberontak. Tenaganya hampir habis, napasnya pun tidak beraturan.


"Dengarkan aku, ya!" ucap Ardy lagi, lirih.


Jian mengangguk lemah.


"Aku akan menemanimu menghadapi masalah ini. Aku yang akan bicara pada ayahmu setelah beliau sadar nanti. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf darinya. Jadi, kita harus menghadapi ini secara bersama-sama."


Ardy menatap lekat kedua manik mata coklat karamel milik Jian, lalu menghapus air mata di pipi wanita tersebut.


"Tidak usah cemas, aku akan selalu bersamamu!" ucap pria itu lagi, di akhiri ciuman singkat di pangkal kepala Jian.


🌷🌷🌷


Malamnya, di Rumah Sakit.


Ardy memberikan jasnya sebagai selimut guna menetralisir hawa dingin tubuh Jian. Wanita itu tidur menyandar di bahu Ardy.


Ardy masih memikirkan dari mana orang tua Jian mengetahui hal ini. Padahal selama ini rahasia itu hanya dirinya dan Jian yang tahu.

__ADS_1


Pria itu tampak berpikir keras, sampai akhirnya pikirannya mengarah pada sebuah mobil yang di lihatnya tadi sore di pertigaan jalan arah rumah Jian.


"Mobil itu milik-" Ardy menggantungkan kalimatnya.


Kedua tangannya kini mengepal, jika saja orang yang saat ini ia curigai itu benar orang yang sudah memberi tahu Damar, ia tidak akan segan-segan menghabisinya. Siapapun itu.


🌷🌷🌷


Di Apartemen.


Daven tampak gelisah sekali. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran pria itu, tapi yang pasti wajahnya memperlihatkan ketakutan di sana.


Flashback On


Daven tidak rela melihat Jian dekat dengan Ardy. Sementara posisi pria itu masih berhubungan dengan Gea. Ia tidak ingin sng pujaan hatinya jadi bahan mainan temannya tersebut.


Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti mobil Ardy saat mengantar Jian pulang. Setelah mengetahui alamat rumah Jian, keesokan harinya ia kembali ke rumah wanita tersebut dan bertemu dengan kedua orang tua Jian.


"Paman, bibi, aku tidak tahu harus mengatakannya dari mana. Tapi yang pasti, jangan pernah mengizinkan Jian untuk dekat dengan Ardy," kata Daven pada Damar dan Mella di ruang tamu.


"Ya. Memangnya kenapa? Apa kau tahu sesuatu tentang Ardy?" sahut Mella.


"Ya, bibi, paman. Apa bibi dan paman sudah tahu jika Jian membut kerugian di perusahaan Ardy?"


Damar mengangguk. "Ya, kami tahu. Bahkan Jian sudah melunasi kerugian perusahaannya dengan kerja lembur setiap malam," jelas pria tersebut.


Daven menggeleng. "Bukan, paman. Jian telah melunasi kerugian perusahaan Ardy dengan cara menukar kehormatannya."


Damar seketika membulatkan mata. Terkejut, shock, tubuhnya mematung.


"Jaga bicaramu!"


"Aku mengatakan yang sejujurnya, paman. Ardy yang meminta Jian untuk memuaskan hasratnya. Maka dari itu, selama ini Jian tinggal bersama Ardy di apartemen yang sama denganku untuk memuaskan hasratnya setiap malam. Aku hanya kasihan dan tidak rela Jian di perlakukan seperti itu. Aku-"


"CUKUP!!" pungkas Damar dengan bicara susah payah, lantaran dadanya sudah terasa sesak sekali.

__ADS_1


"Ayah, ayah kenapa?" Mella panik melihat suaminya sesak.


"Paman."


"Pergi dari sini dan jangan pernah menginjakan kaki lagi di rumah kami!" usir Mella tegas, sembari menunjuk pintu keluar.


Daven pun pergi dari rumah tersebut.


Flashback Off


Kini Daven menyesali perbuatannya, api cemburunya sudah membakar jiwa dan hatinya. Sehingga ia lupa bahwa Jian pernah mengatakan jika ayahnya memiliki riwayat jantung waktu itu.


"Aaargh ..." Daven memukul tembok dengan sangat keras, sehingga tangannya meneteskan darah.


"Jian pasti akan membenciku jika tahu aku yang membuat ayahnya seperti itu," sesalnya.


Brakk!


Tiba-tiba pintu Unitnya di buka dengan sangat kasar. Dan begitu Daven mendongak untuk melihat siapa yang datang, seseorang itu nelayangkan pukulan keras tepat d wajahnya. Hal tersebut membuat tubuhnya oleng dan terjatuh.


"SIALAN!!" maki orang itu.


Daven hanya bisa mendengar makian orang tersebut samar-samar. Sebab penglihatannya kini memburam dan tiba-tiba saja berubah gelap. Ia tidak sadarkan diri.


Bersambung...


___


Pemberitahuan!


Visual Cast Jian Gabriella sudah di publish di Instagram @wind.rahma yaaa. Silahkan di cek.


Jangan lupa POIN nya beri ke aku, yah, dengan cara klik BERI HADIAH di bawah cover. Atau jika punya KOIN jangan sungkan-sungkan untuk di SODAKOHKAN agar rezekinya tambah banyak.


TAMBAHKAN KE RAK FAVORIT YAAA❤

__ADS_1


Follow Ig: @wind.rahma


__ADS_2