One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Pembayar Biaya RS Damar


__ADS_3

Binar kebahagiaan terpancar di wajah Jian, lantaran hari ini ayahnya sudah bisa di bawa pulang setelah satu minggu lamanya di Rumah Sakit.


Namun yang membuatnya sedih, ibu tirinya belum juga mengizinkannya untuk bertemu sang ayah. Dengan alasan, ayahnya masih tidak mau bertemu dengannya.


Sampai akhirnya, Jian diam-diam masuk ke kamar sang ayah ketika Mella pergi keluar. Ia mendapati ayahnya sedang berbaring di sana. Perlahan, ia berjalan ke arah ranjang tempat tidur dimana ayahnya tertidur, lalu duduk di tepi ranjang.


Damar menyadari kehadiran putrinya, ia langsung membuka mata dan bangun. Jian terkejut dan dengan cepat membantu sang ayah. Ia menumpuk dua bantal dan menidurkan ayahnya secara menyandar.


"Ayah, kenapa ayah bangun? Aku pikir ayah tidur. Beristirahatlah! Agar ayah cepat pulih," ucap Jian cemas.


Bibir pucat Damar mengembangkan senyum. "Ayah sudah membaik, nak. Tidak usah cemas!"


Jian menghela napas penuh rasa syukur. "Syukurlah, aku lega dengarnya."


Jian menatap sayup wajah ayahnya, ia merasa sangat bersalah sekali lantaran ia sudah membuat ayahnya begitu kecewa.


"Nak, ayah ingin bertanya sesuatu padamu?" tanya Damar setelah keheningan menyelinap beberapa saat.


"Ya, ayah. Tanyakan saja!"


Pria itu menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Mengambil ancang-ancang sebelum bicara.


"Apa kamu sungguh melakukan hal itu dengan nak Ardy, nak?" suara Damar terdengar berat, hal tersebut membuat Jian menunduk malu sekaligus merasa bersalah.


Jian mengangguk lemah. "Maafkan aku!"


Damar kembali menghirup napas panjang. "Jadi benar?" tanyanya memastikan.


"Ya, ayah," jawab Jian dengan bibir gemetar.


Seketika Damar memegang dada sebelah kirinya, ia kembali merasa sesak. Jian panik di buatnya.


"Ayah, kau baik-baik saja? Ak-aku minta maaf, aku minta maaf, ayah!" Jian panik sekali.


Damar mengangkat telapak tangannya, seolah memberi tahu pada putrinya agar tidak usah cemas. Pria itu mencoba mengatur napasnya, dan beberapa saat kemudian kembali membaik.

__ADS_1


Air mata Jian sudah membasahi pipi. Ia benar-benar panik dan takut ayahnya sampai terkena serangan jantung lagi.


"Kenapa kau melakukan itu, nak? Apa alasannya?" tanya Damar lagi setelah merasa baik-baik saja.


Jian tertunduk, ia takut salah bicara. Sementara Damar sudah tidak sabar mendengar penjelasan putrinya.


"Aku melakukan kerugian yang sangat besar di perusahaan tuan Ardy atas kecerobohanku, ayah. Sehingga aku harus di bawa ke jalur hukum," jelas Jian, membuat Damar seketika membulatkan mata.


"Saat itu aku memohon agar aku tidak sampai di penjara, sebab aku tidak ingin ayah sampai mendengar berita aku demikian. Aku tidak mau hal tersebut memicu serangan jantung ayah kambuh lagi," sambungnya.


"Lalu tuan Ardy memberi aku pilihan, jika aku tidak mau tidur dengannya maka aku tidak akan di bawa jalur hukum," imbuhnya lagi.


Hati Damar terasa di remas, sakit sekali. Ia pikir Ardy adalah pria baik. Tapi ternyata, ada maksud tertentu di balik kebaikannya itu. Damar marah dan kecewa.


"Lantas selama ini kau tidak lembur untuk mengganti semua kerugian itu?"


Jian menggeleng. "Maafkan aku, ayah. Aku tinggal di Apartemen bersama tuan Ardy atas permintaannya pula. Awalnya aku berpikir jika malam itu aku tidur dengannya, aku bisa terbebas. Tapi aku keliru, tuan Ardy memintaku lebih," terang Jian sambil terisak.


"Benar-benar kurang ajar! Ayah tidak akan tinggal diam, nak. Kamu sudah di injak-injak olehnya," ucap Damar membuatnya naik pitam.


Tatapan kemarahan Damar seketika berubah menjadi sorot mata kebingungan.


"Ardy membayar semua biaya Rumah Sakit ayah?"


Jian mengangguk. "Ya, ayah. Dia yang telah membayar semuanya."


"Tapi mama bilang dia yang sudah membayar semua biaya Rumah Sakitnya."


Kini Jian yang mengernyit. Ibu tirinya mengatakan pada ayahnya bahwa dia yang membayar biaya rumah sakit?


"Ibu bicara seperti itu pada ayah?"


"Ya."


"Berarti ibu bohong, tuan Ardy lah yang membayar semua biaya Rumah Sakitnya," terang Jian.

__ADS_1


Damar seketika diam. Ia masih kelihatan bingung, mana yang jujur dan mana yang bohong. Dan jika istrinya itu yang berbohong, untuk apa?


"Ayah akan bicarakan ini nanti. Tapi ayah minta padamu, nak, berhenti bekerja di perusahaan itu!" pinta Damar dengan tegas.


Jian mendongak sambil membulatkan mata. "Tapi, ayah-"


"Turuti saja permintaan ayah!" ucapnya tidak dapat di ganggu gugat.


Jian menghembuskan napas pasrah, ia tidak dapat membantah perkataan ayahnya. Tapi bagaimana dengan Ardy?


"Baik, ayah. Kalau begitu, aku keluar. Beristirahatlah!" ucapnya sebelum kemudian keluar kamar.


Damar menatap punggung putrinya dengan tatapan sendu. Sampai akhirnya wanita itu hilang dari balik pintu.


Jian terkejut, begitu keluar kamar ayahnya, ia berpapasan dengan Mella. Wanita paruh baya itu langsung melayangkan tatapan tajam padanya.


"Kau bertemu dengan ayahmu, hah?" sentaknya.


"Ya. Memangnya kenapa? Dia ayahku, aku putrinya. Kau hanya istri sambung, tidak berhak melarangku untuk bertemu dengannya kapanpun aku mau," balas Jian. Entah darimana ia mendapat kekuatan serta keberanian bicara seperti itu pada Mella.


"Keterlaluan! Beraninya kau!" Mella kembali mencekeram rahang Jian, sehingga wanita itu meringis kesakitan.


"Lepaskan aku! Lebih baik kau temui ayah, ayah ingin bicara denganmu mengenai pembayaran biaya Rumah Sakit."


Sorot mata Mella seketika berubah panik. "Maksudmu?"


"Kau telah membohonginya."


Jian menepis kasar tangan ibu tirinya, kemudian melipir pergi dari sana. Sementara Mella kini di buat panik, bagaimana jika suaminya lebih percaya pada Jian. Bisa gaswat tingkat akut inimah.


Bersambung...


__


Tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.

__ADS_1


Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊


__ADS_2